Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
25 Maret 2009, Rabu
Bagi orang percaya, menaati Tuhan dengan merenungkan Kitab Suci setiap hari itu sangat penting. Sayang, banyak orang Kristen mencoba hidup dalam kehendak Allah dengan membuka Alkitab hanya ketika di gereja. Tindakan ini sama saja seperti bermain di pertandingan basket tanpa mengikuti latihan. Hasilnya, banyak kesalahan dan kekecewaan.
Tujuan meditasi atau merenungkan Alkitab adalah untuk mengenali sifat-sifat Allah yang sesungguhnya, dan mengajar orang percaya tentang prinsip-prinsip dan perintah-perintah-Nya. Semua ini memperlengkapi kita dalam mengambil keputusan-keputusan yang berkenan kepada-Nya. Saya pernah tidak membaca Firman Tuhan selama seminggu, untuk mengetahui bagaimana rasanya orang percaya yang tidak bermeditasi. Dalam waktu tidak begitu lama, saya merasa `tumpul’. Pikiran saya kacau. Sikap saya terganggu, dan hati mulai terasa dingin terhadap Allah. Meditasi setiap hari membuat kita tetap terarah pada Allah.
Mempelajari tentang Tuhan saja tidak banyak berguna jika semua pengetahuan hanya tertinggal di kepala. Meditasi merupakan cara untuk mendorong orang percaya menerapkan prinsip-prinsip yang baik di tengah dunia. Latihan merenungkan Kitab Suci ini meliputi membaca satu bagian Alkitab dan kemudian menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang sedang Allah kerjakan atau ajarkan melalui ayat-ayat ini? Bagaimana hubungan perintah-Nya dengan diri dan kehidupanku? Bagaimana aku menerapkan ayat ini pada hari ini?
Dengan menggunakan analogi pertandingan basket, kita bisa menganggap Alkitab sebagai buku pedoman permainan kita dalam kehidupan Kristen yang berhasil. Kita tentu tidak mau menjadi anggota tim yang tidak siap. Jika kita hendak menaati kehendak Tuhan dan berkenan kepada-Nya, kita harus membaca dan merenungkan firman-Nya secara teratur.
Ayat Bacaan:
| Yosua 1:7-9 | |
| 1:7 | Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. |
| 1:8 | Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. |
| 1:9 | Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” |
How often did you let someone else change your mood? Will you let a reckless driver, rude waiters, emotional boss or senseless colleagues – wreck your feeling? Unless if you are a robot; you may not realize how many times you swear back, yelling back at them.
But, the signature of a successful person is in how quick that person got back and focus to what is more important.
Sixteen years ago, I learned this valuable lesson
I learn this lesson at the back of a taxi in New York. And this is what happened. I jump into a taxi and we drove from Grand Central Station. We were on the right lane, but then suddenly, a black car jump out of the parking space just right in front of us. The taxi driver immediately hit the brake, the taxi slide a bit and almost hit or get hit by other cars (just a few inch difference)
The guy who drives the black car (the one that almost cause a big car crash) took his head out of the car and start yelling harsh words to us. My taxi driver just smile and wave his hand (slowly) to that guy.
At that time, I thought this taxi driver is a friendly guy. So, I asked, “Why you do that? That guy almost wreck your car and we almost got into accident and hospital. All because of him!”
And this is what the taxi driver said (which later on I called as “The Law of Garbage Truck”
“A lot of people are like garbage trucks. They walk with their garbage, fill with frustration, anger and disappointment. And when the garbage start to piled up, they need a place to dump it. If you let them, they will flood you with all their garbage.
If someone wish to throw their garbage at you, don’t take it. All you need to is to smile and wave and hope they get better, and you can continue whatever you do. You will be happy after doing it.
So, after I found out this “The Law of Garbage Truck” – I began to think, how many times I let my “Garbage Truck” affecting my mood? And how many times I grab my “garbage” and threw it to someone else and passing it on to other people at work / home / street? I promise myself, “I won’t do it again.”
Just like in the movie “Sixth Sense”, the little boy in the movie said, “I see dead people.” Now, “I see garbage truck.” I see them carrying their load. I see them coming to spill it out. And just as the taxi driver, I will not put that garbage and making it personal, but I will smile, waves my hand and hope they can get better and then, I continue my work.
One of my favorite football player – Walter Payton – did this everyday in the football field. He will jump as high as he can at the same speed every time he fell because of the tackles he’s getting. He never stay on the ground to be trample by the other players. Payton is ready to do his best on the next run.
A good leader knows that they have to be prepared for the next meetings. All parents knew that they have to welcome their children (coming home from school) with hugs and kisses. Leaders and parents knew that they really have to be there, and they are available at the best times they are needed by the people they care about.
A successful person will never allow these “Garbage Trucks” taken away their mood.
And how about you? What will happen next in your life, starting from today, if you let more “Garbage Trucks” pass by you?
This is my guess: YOU WILL BE HAPPY.
Life is just too short if you get up in the morning with hearts full of regrets, so…….
LOVE the people around you, who have treated you kindly. And forget about all the other people who have treated you badly.
Source: Tabernakel Family Mailing List
James 1:19 (New International Version)
19My dear brothers, take note of this: Everyone should be quick to listen, slow to speak and slow to become angry,
Seberapa sering Anda membiarkan orang lain mengubah mood Anda?
Apakah Anda membiarkan supir bemo yang sembrono, pelayan yang kasar, bos yang emosi, atau rekan kantor yang tidak berperasaan — menghancurkan hatimu?
Terkecuali kalau Anda adalah robot; mungkin tanpa sadar seringkali Anda membalas memaki/memarahi mereka. Namun, CIRI KHAS dari orang yang sukses adalah seberapa cepat dia dapat kembali dia berfokus pada apa yang penting.
Enam belas tahun yang lalu saya mempelajari pelajaran ini..
Saya belajar di bagian belakang dari Taxi New York. Ini yang terjadi. Saya meloncat masuk ke dalam taksi, dan kami berangkat dari Grand Central Station. Kami mengemudi di jalur yang tepat, NAMUN TIBA-TIBA, sebuah mobil hitam melompat keluar dari ruang parkir tepat di depan kita. Supir taxi-ku langsung menghentak rem untuk berhenti mendadak, agak tergelincir sedikit dan hampir saja menabrak/ditabrak mobil lain (tinggal beberapa inchi saja).
Ukhh…!!!
Supir mobil hitam itu (orang tadi yang hampir menyebabkan kecelakaan besar) mengeluarkan kepalanya dari mobil dan mulai berteriak kata-kata kasar pada kita. Supir taxi-ku hanya tersenyum dan melambaikan tangan (dengan
per-lahan2) kepada orang tadi.
Saya kira, supirku ini orang yang ramah. Jadi, saya berkata, “Mengapa Anda lakukan itu? Orang tadi hampir merusak mobilmu dan kita hampir celaka dan masuk Rumah Sakit gara-gara dia!”
Dan inilah yang dikatakan supir taxi-ku (yang kemudian ku-sebut sebagai “The Law of Garbage Tuck”/ Hukum Truk Sampah)
Banyak orang-orang seperti truk sampah. Mereka berjalan dengan penuh sampah, penuh dengan frustasi, penuh amarah, dan penuh dengan kekecewaan. Dan ketika sampah-sampah mereka mulai menumpuk, mereka perlu tempat untuk membuangnya. Dan jika Anda membiarkan, mereka akan membanjirkan sampah-sampah tsb pada Anda.
Bila seseorang ingin membuang sampah pada Anda, jangan diambil hati (jangan disimpan dalam hati). Anda hanya perlu tersenyum,melambai, dan berharap mereka cepat pulih (membaik), dan Anda tetap melanjutkan pekerjaan Anda. Hati Anda akan senang setelah melakukannya.
Jadi setelah tahu hal ini: “The Law of Garbage Truck” saya mulai berpikir, seberapa sering saya biarkan “Truk Sampah” mempengaruhi suasana hati saya? Dan seberapa sering saya ambil “sampah” yang dilemparkan orang lain dan
menularkannya kepada orang lain di tempat kerja/rumah/ jalanan? Saya pun berjanji, “Saya tidak akan melakukannya lagi.”
Seperti di film “The Sixth Sense,”, anak kecil tsb berkata, “Saya lihat orang mati.” Nah, sekarang “Saya melihat truk sampah.” Saya melihat mereka sedang membawa beban. Saya melihat mereka datang untuk menumpahkannya. Dan
seperti supir taxi tadi, saya tidak akan memasukkan sampah itu ke dalam hati (I don’t make it a personal thing), saya hanya akan tersenyum, melambai, berharap mereka bisa cepat pulih (membaik), dan saya tetap melanjutkan
pekerjaanku.
Salah satu pemain football favoritku (Walter Payton) melakukan ini setiap hari di lapangan sepak bola. Dia akan melompat ke atas secepat dia pergi ke tanah (jatuh) setelah digasak/disikut (di-tackle). Ia tidak pernah tetap
diam di tanah untuk ditimpa oleh yang lain-lainnya. Payton telah siap untuk melakukan yang terbaik utk aksi berikutnya.
Pemimpin yang bagus — tahu mereka harus siap untuk pertemuan berikutnya.
Semua orang tua tahu bahwa mereka harus menyambut anak-anak (yang bakal pulang sekolah) dengan pelukan dan ciuman. Pemimpin dan orang tua mengetahui bahwa mereka harus benar-benar hadir, dan pada saat yang terbaik untuk orang-orang yang mereka pedulikan.
Orang yang berhasil — tidak pernah membiarkan “Truk Sampah” mengambil alih mood mereka. Bagaimana dengan Anda? Apa yang akan terjadi dalam hidup Anda, mulai hari ini, jika anda membiarkan lebih banyak “Truk Sampah” melewati anda?
Ini tebakanku: Anda akan bahagia.
Hidup terlalu singkat jika saat bangun di pagi hari kita isi dengan penuh penyesalan, jadi….
Cintai orang-orang yang memperlakukan Anda dengan baik. Dan lupakan hal-hal tentang orang-orang yang tidak berperilaku baik pada Anda.
Sumber: Milist Tabernakel Family
| Yakobus 1:19 | |
| 1:19 | Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
20 Maret 2009 / Jumat
Adakalanya kita membuat kalah diri kita sendiri, dengan membiarkan kesulitan menentukan keputusan-keputusan kita. Kekristenan tentu akan kehilangan pemimpin dan pengajar yang hebat, apabila rasul Paulus berhenti melayani Tuhan karena berbagai kesulitannya, seperti kapal karam, penganiayaan, pemukulan dan kemiskinan. Tetapi, ia justru mengeluarkan pernyataan yang berani ketika sedang berada di dalam penjara: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).
Paulus siap melakukan pelayanan apa pun, atau menghadapi pencobaan apa pun karena Tuhan. Kerelaannya berakar pada keyakinan bahwa Allah selalu setia. Paulus bisa saja menganggap kesulitan-kesulitan yang dialaminya sebagai perjalanan nasib buruk, dan memilih untuk menyerah. Tetapi, rasul itu memilih untuk memandang pengalamannya itu sebagai bukti, Bapa menyediakan keperluannya dalam segala situasi. Tulisannya menjelaskan, ia sudah belajar mencukupkan diri (puas) dalam segala situasi, karena Allah selalu memenuhi kebutuhan fisik, rohani dan emosionalnya pada waktu yang tepat (Filipi 4:12).
Rasul Paulus mengatasi setiap tantangan baru dengan keyakinan Kristus akan memperlengkapinya dalam melakukan tanggungjawab itu dengan baik. Orang sering mengabaikan kesempatan baru yang mereka anggap tidak biasa. Tanpa pernah mencobanya, mereka sudah merasa tidak mampu memenuhinya. Padahal, jika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani suatu wilayah baru, itu berarti Dia akan melakukan suatu pekerjaan baik melalui anak-Nya.
Jika orang percaya bersedia melayani Allah dengan segala kemampuannya, ia akan memberi dampak bagi Kerajaan Allah. Ingat, pernyataan Paulus juga pernyataan kita. Sesungguhnya, kita dapat melakukan segala perkara di dalam Kristus, yang merupakan kekuatan kita.
Ayat Bacaan:
| Filipi 4:10-13 | |
| 4:10 | Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. |
| 4:11 | Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. |
| 4:12 | Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. |
| 4:13 | Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. |
Filed under: Moment of Peace, The Bereans | Tags: daily verse, www.theberean.org
| Matius 24:24 | |
| 24:24 | Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. |
| Wahyu 13:13-14 | |
| 13:13 | Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang. |
| 13:14 | Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. |
| Matius 7:22-23 | |
| 7:22 | Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? |
| 7:23 | Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” |
| Ulangan 13:1-5 | |
| 13:1 | Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, |
| 13:2 | dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, |
| 13:3 | maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. |
| 13:4 | TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. |
| 13:5 | Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan–dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. |
Dalam setiap hal, Kristus menasehati bahwa kita harus menjaga sikap skeptis yang sehat terhada mujizat, karena mujizat bisa saja menipu. Bukan masalah mujizat itu nyata terjadi atau tidak. Hal yang terpenting yang ingin dibahas adalah apakah mujizat itu menyatakan kebenaran? apakah mujizat tersebut menyatakan kenyataan yang sesungguhnya yaitu kehendak Tuhan?
Dalam instruksi yang disampaikan Yesus dalam Perjanjian Baru (Mat 24:24; 7:22-23; Wah 13:13-14) dan dalam pengajaran Musa melalui Perjanjian Lama (Ulangan 13:1-5), meskipun ada mujizat itu nyata akan tetapi dengan sangat jelas jika seseorang mencoba untuk menerapkan bahwa kita bebas untuk tidak mematuhi Tuhan, mujizat itu bukanlah bukti kuasa Allah yang sesungguhnya. Memang sebuah mujizat, tetapi mujizat itu tidak memastikan kebenaran Tuhan.
Secara khusus kita harus bersikap skeptis kepada mereka yang berkata bahwa mereka percaya bahwa mereka harus hidup menurut hukum Tuhan, dan kemudian berpaling dan berkata bahwa hari Sabat dan hari-hari kudus lainnya tidaklah lagi diperlukan dan bahwa “orang Kristen yang sesungguhnya” dapat tetap melakukan perayaan Natal, Paskah, Halloween, dan lain-lainnya. Akan tetapi mereka “percaya” bahwa mereka melakukan itu semua untuk menjaga hukum Tuhan! Biasanya orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang sangat baik di lingkungan mereka dan oleh karena itu banyak yang mudah tertipu olehnya.
John W. Ritenbaugh
sumber: http://theberean.org/index.cfm/fuseaction/Home.showBerean/BereanID/7717/Matthew-24-24