Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
31 Mei 2009, Minggu
Bila kita merespon semata-mata karena dorongan sifat alami kita, maka kita hanya berlaku baik saat orang lain juga berlaku baik. Tetapi di lain waktu, mungkin saja kita akan merasa dendam, marah atau sakit hati.
Tuhan Yesus dengan jelas mengajar kita untuk mengasihi meskipun orang di sekitar kita tampaknya tidak baik. Dan Ia melakukan apa yang Ia ajarkan: “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Sebagai ungkapan syukur untuk apa yang telah Ia lakukan, dengan kekuatan dariNya, sebagai pengikutNya, sepantasnyalah kita dapat mengasihi orang lain (1 Yohanes 3:14).
Walau sangat sulit untuk meresponi kejahatan dengan kasih, sikap yang benar seturut dengan apa yang Tuhan kehendaki, dapat menuntun kita pada berkat yang besar. Pertama, Bapa berkenan. Hal ini seharusnya memberikan rasa sukacita, damai sejahtera pada setiap anak-anakNya. Kemudian, orang percaya harusnya merasakan kegembiraan dan dapat melihat bagaimana Tuhan berkarya dalam hubungan ini. Yang terakhir, kita akan mengetahui bahwa Roh Kudus sedang bekerja dari dalam hati, memampukan kasih ilahi mengalir melalui kehidupan setiap manusia. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).
Semua orang akan tahu. Mengapa? Oleh karena kasih ilahi yang tidak bersyarat adalah hal yang tidak biasa di dalam dunia kita. Maka orang akan memperhatikan.
Memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan adalah sikap yang membangun hubungan yang mendalam dan memuaskan, yang didambakan semua orang. Tanpa pertemanan yang mendalam, hidup ini tidak berarti, seberapa banyak pun kekayaan atau prestasi yang kita miliki. Jadi, pikirkan orang lain yang berhubungan dengan Anda sepanjang minggu ini. Apakah Anda memperlakukan mereka seperti yang Yesus teladankan?
| 1 Petrus 1:22 | |
| 1:22 | Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
30 Mei 2009, Sabtu
Yesus berkata kepada para muridNya, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12).
Kita mungkin sependapat bahwa aturan ini merupakan pondasi yang baik untuk menjalin hubungan yang sehat. Tetapi faktanya, sangat sukar untuk melakukannya. Bila kita membuat daftar tentang bagaimana kita berharap untuk diperlakukan, dan kemudian membandingkannya dengan kelakuan kita sendiri, kemungkinan besar kita akan malu melihatnya.
Dan tentunya, sangat mudah untuk mengasihi ketika orang lain memperlakukan kita dengan baik. Namun bagaimana respon kita saat kelakuan mereka menyakiti atau tidak menyenangkan kita? Kebenarannya ialah, Yesus menghendaki kita untuk mengasihi orang lain di setiap kesempatan, bukan hanya ketika mereka baik. Bagaimanapun sikap mereka terhadap kita, kita harus menunjukkan kesetiaan, kepercayaan, penghiburan, pengampunan, penerimaan diri dan perlindungan. Dan biarkan semua itu mengalir dari diri kita pada orang-orang di sekitar kita.
Bila kita peduli dengan orang lain sebagaimana yang Tuhan tentukan, hubungan kita semakin mendalam dan bertumbuh.
Memperlakukan orang lain dengan kasih semacam ini tidaklah alami, tidak mudah. Khususnya saat orang lain berbuat jahat terhadap kita. Bahkan, mengasihi seperti yang Yesus perintahkan adalah hal yang mustahil kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi, ketika kita mempercayai Kristus sebagai Juruselamat, Roh Kudus memampukan kita dan menjalani hidupNya melalui kita (Galatia 2:20).
Ambillah waktu untuk membuat daftar bagaimana Anda ingin orang lain memperlakukan Anda. Lalu tanyakan, Begitukah cara saya memperlakukan orang lain? Berdoalah meminta Tuhan menyingkapkan satu area dalam hidup Anda dimana Ia dapat menolong Anda menerapkan prinsip kasih ini.
| Matius 22:35-40 | |
| 22:35 | dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: |
| 22:36 | “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” |
| 22:37 | Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. |
| 22:38 | Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. |
| 22:39 | Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. |
| 22:40 | Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
29 Mei 2009, Jumat
Kegelisahan bukan saja membuat perasaan kita tidak enak. Kegelisahan menuntun pada konsekuensi negatif. Contoh, pikiran kita jadi suram ketika kekuatiran merasuk. Akhirnya, orang yang kuatir akan sulit membuat keputusan yang bijak. Muncul rasa takut gagal, dan akibatnya terjadi penundaan, atau malah tidak produktif. Ketakutan akan sesuatu yang belum tentu terjadi dapat menghancurkan pertumbuhan, pertemanan, pekerjaan pribadi dan bahkan rohani. Jadi, sangat penting menaklukkan rasa takut itu. Empat langkah untuk mengatasi rasa takut:
1. Kenali sumber rasa takut itu. Tanyakan pada diri Anda, keadaan apa yang memunculkan rasa takut saya? Apa pemicunya? Pesan apa yang saya sampaikan pada diri saya?
2. Berpaling pada Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi Anda dan merindukan hubungan yang intim dengan Anda. Ia memegang penuh kendali atas situasi yang Anda hadapi. Jadi, bawa rasa takut Anda kepadaNya.
3. Di hadapan Tuhan, perintahkan rasa takut itu pergi. Anda memiliki otoritas dan kuasa di dalam nama Yesus untuk menolak apa yang tidak berasal dariNya. Renungkan Firman seperti Matius 10:31 dan Amsal 1:33. Ijinkan kebenaran Tuhan menggantikan setiap pemikiran yang keliru.
4. Melekat pada Bapa di Surga. Alihkan perhatian Anda dari situasi dan keadaan yang Anda hadapi. Pandanglah Pribadi yang menjanjikan pertolonganNya. Firman Tuhan memberikan jaminan ini: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).
Keadaan merupakan faktor di luar kita dan seringkali tidak dapat kita kendalikan. Namun respon Anda menentukan. Sungguh luar biasa bagaimana rasa takut lenyap di hadapan Bapa.
| Filipi 4:6 | |
| 4:6 | Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
28 Mei 2009, Kamis
Dalam seluruh FirmanNya, Tuhan memberikan bukti kepada kita bahwa banyak orang (bahkan mereka yang dianggap sebagai pilar iman) berurusan dengan kegelisahan. Contohnya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa rasul Paulus pasti merasa takut, karena Tuhan memerintahkannya untuk “tidak lagi” takut (Kisah Para Rasul 18:9).
Rasa takut itu hal yang umum. Namun demikian, bukan berarti hal itu berasal dari Allah (2 Timotius 1:7). Tentunya, di situasi tertentu, seperti mendengar suara yang keras saat kita sedang sendirian, bisa menimbulkan rasa takut. Tetapi Tuhan tidak menghendaki kita hidup dalam kegelisahan yang terus-menerus.
Ketakutan umumnya mencakup ketakutan akan kematian, kemiskinan, penyakit, usia lanjut, kritik, dan kehilangan seseorang yang dikasihi atau sesuatu yang dihargai. Mengapa kita begitu sulit untuk melepaskan hal-hal yang membuat kita kuatir, padahal Tuhan telah dengan jelas menyatakan, “Jangan takut … ” (Lukas 12:7)? Kekuatiran dapat berakar kuat dalam pikiran kita. Terkadang kita memiliki pola pikir yang tidak sehat yang berakar dari perasaan tidak cukup memadai, perasaan bersalah, atau pandangan yang keliru tentang Tuhan. Suatu hal yang biasa bila kegelisahan di masa anak-anak berkembang menjadi rasa kurang percaya diri pada saat dewasa. Pengalaman hidup dapat menjadi faktor lainnya. Contoh, seseorang yang kehilangan orangtuanya secara mendadak karena kecelakaan mobil, kemungkinan besar akan bergumul dengan kekuatiran.
Apapun penyebabnya, kegelisahan akan mengalihkan pandangan kita dari Bapa surgawi yang penuh kasih dan maha kuasa. Dan akhirnya memfokuskan perhatian kita pada keadaan kita. Tidak heran bila berulang kali Tuhan mengingatkan kita supaya jangan takut. Ia menghendaki anak-anakNya merasa aman karena percaya bahwa Ia sanggup dan layak dipercaya.
| 2 Timotius 1:7 | |
| 1:7 | Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
27 Mei 2009, Rabu
Kemarin kita telah melihat bahwa Abraham tidak menantikan Tuhan. Ia mendapat seorang anak dengan caranya sendiri. Ia tidak menantikan waktu Tuhan. Dan caranya itu menyingkapkan beberapa hal mengenai dirinya. Pertama, ia tidak sabar. Kedua, ia ragu. Meskipun ia percaya bahwa Allah akan memberinya seorang anak, seiring berlalunya waktu, ia merasa bahwa ia telah kehilangan kesempatan itu. Ketiga, ia angkuh. Abraham ingin melakukannya sesuai jadwalnya sendiri dan menganggap bahwa caranya sudah cukup baik. Yang terakhir, ia egois. Dengan bertindak di luar tuntunan Tuhan, Abraham menunjukkan bahwa Ia mengharapkan kehendak Tuhan berpusat pada dirinya. Kenyataannya, ia keluar dari rancangan Bapa.
Ketika kita memilih untuk memanipulasi keadaan atau waktu, hal-hal yang sama tentang kita juga akan terungkap. Karena itu, kita seharusnya menanti rancangan dan jalan Tuhan, dimana keduanya mengalir dari kasih dan hikmatNya. Ia tahu pasti apa yang terbaik bagi kita; tugas kita ialah mencari tuntunanNya dan bergantung padaNya.
Terkadang kita tahu apa yang Allah akan lakukan, tetapi tidak jelas kapan Ia akan melakukannya. Di lain waktu, kita tidak yakin dengan hasilnya. Bagaimanapun juga, kita dapat sepenuhnya mempercayai bahwa Allah mengasihi kita dan bahwa Ia sepenuhnya berkuasa. Bila kita sungguh-sungguh memahami siapa Dia, kita pasti bisa mempercayaiNya. Dan saat kita mempercayai Dia, kita mampu untuk menantikan waktuNya yang sempurna.
Allah memberikan sebuah janji, iman mempercayainya, pengharapan mengantisipasinya dan kesabaran menantikannya. Apakah Anda cukup mempercayai Tuhan untuk bisa sabar menantikan jalan dan waktuNya?
| Yesaya 57:10 | |
| 57:10 | Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: “Tidak ada harapan!” Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah. |