Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
28 Juli 2009, Selasa
Ketika orang jahat membawa dampak dalam kehidupan kita, seringkali kita bertanya-tanya mengapa Tuhan bisa mengijinkan hal itu. Secara manusia, pertanyaan seperti ini cukup masuk akal, meskipun sangat mungkin bagi kita untuk tidak pernah mengerti mengapa kejahatan menyentuh kehidupan kita. Namun demikian, Tuhan memberikan jaminan untuk menguatkan kita melewati masa-masa seperti ini.
Pertama, Tuhan mengingatkan bahwa jalan dan pikiranNya lebih tinggi daripada jalan dan pikiran kita (Yesaya 55:9). Kemudian, Ia memberikan pengertian kepada kita tentang karakterNya, mengingatkan kita bahwa ” TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mazmur 100:5). Dan terakhir, Bapa
surgawi berjanji bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang percaya (Roma 8:28).
Kita pun dapat dikuatkan oleh apa yang tertulis dalam Alkitab. Disana kita sering mendapati bahwa rancangan orang fasik sesungguhnya melapangkan maksud Allah. Contohnya, ketika saudara-saudara Yusuf menjualnya sebagai budak, Tuhan memakai situasi yang tampaknya tidak mungkin menjadi suatu kebaikan. Anak muda ini dijual kepada Potifar,
salah seorang pegawai Firaun. Pekerjaan Yusuf dipuji dan ia dinaikkan pangkat.
Kembali lagi, budak Ibrani ini menderita ketika istri Potifar memenjarakannya untuk sebuah tuduhan palsu. Tuhan pun turut bekerja dalam keadaan ini untuk kebaikan Yusuf. Pada akhirnya, sikap Yusuf di penjara menghasilkan pengakuan, pembebasan dan pengangkatan kepada posisi yang lebih tinggi lagi. Kemudian ia dapat menyelamatkan Mesir dan keluarganya sendiri dari bencana kelaparan.
Kita hidup dalam dunia yang berdosa dan kita semua dipengaruhi oleh orang yang jahat. Dengan mengetahui Firman Tuhan dan memahami karakterNya, kita mempunyai pengharapan dan kekuatan untuk bertahan melewati masa-masa ini.
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
27 Juli 2009, Senin
Pernahkah Anda merasa bahwa Tuhan sedang berdiam diri terhadap Anda? Mungkin Anda berdoa meminta petunjuk, namun Anda tak mendengar apapun. Atau Anda memiliki suatu kebutuhan yang tidak segera Tuhan penuhi, misal penyakit yang tidak kunjung sembuh. Mungkin anak Anda menjauh dari Tuhan, dan doa Anda bagi mereka tetap tidak terjawab. Di saat-saat seperti ini, kita sering merasa bahwa Tuhan begitu jauh, tidak tertarik dengan kesukaran kita.
Kebenarannya adalah Bapa kita terkadang memang diam. Dan ketika kita terluka, keheninganNya dapat menjadi sangat sulit bagi kita. Namun, Ia memiliki maksud untuk hal itu. Tuhan memakai keheningan untuk membangun keintiman kita denganNya dan mendewasakan kita secara rohani. Melalui masa penderitaan, kita belajar untuk mengasihi Tuhan oleh karena siapa Dia dan bukan karena apa yang Ia dapat lakukan bagi kita. Meski ketika Bapa di surga tampaknya begitu jauh, Anda dan saya tetap dapat memilih untuk percaya kepadaNya.
Saat Allah diam, Anda dapat merasa yakin bahwa Ia sedang memanggil Anda kepada suatu tingkatan baru keintiman Anda denganNya. Ia ingin menolong Anda memahami kasihNya yang tanpa syarat bagi Anda. Dan Ia ingin agar Anda menyerahkan diri Anda sepenuhnya kepadaNya. Kemudian Anda dapat mengasihi dia dengan tulus sebagai balasannya dan menunjukkan kesetiaan Anda melalui ketaatan. Karena itu, rendahkanlah diri Anda di hadapan Tuhan dan akuilah Dia sebagai Tuhan atas hidup Anda. Berdiam dirilah di hadapanNya dan sediakan diri untuk mendengar dan taat terhadap apapun yang Ia katakan kepada Anda. Bila Anda mencariNya dengan segenap hati dalam kesunyian, maka segala kekecewaan, kekuatiran dan amarah Anda akan hilang. Bapa akan membuat Anda merasakan kehadiranNya, kasihNya dan kuasaNya yang akan memuaskan keinginan terdalam hati Anda.
| Yohanes 11:1-15 | |
| 11:1 | Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. |
| 11:2 | Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. |
| 11:3 | Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” |
| 11:4 | Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” |
| 11:5 | Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. |
| 11:6 | Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; |
| 11:7 | tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” |
| 11:8 | Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” |
| 11:9 | Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. |
| 11:10 | Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” |
| 11:11 | Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” |
| 11:12 | Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” |
| 11:13 | Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. |
| 11:14 | Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; |
| 11:15 | tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
26 Juli 2009, Minggu
Sebagai Anak Manusia, Yesus mengalami sendiri kesulitan hidup dan beratnya beban kita. Ia tahu seperti apa rasanya hidup dengan sumber pendapatan yang kecil (Matius 8:20) dan berada di bawah penderitaan emosional yang besar (Lukas 22:42-44). Ia pun memahami tentang hubungan kita yang rusak dengan sesama: Yudas Iskariot, salah seorang muridNya, mengkhianatiNya.
Juruselamat kita menawarkan pertolongan kepada kita dalam menghadapi setiap kesukaran yang kita hadapi. Dalam bacaan hari ini, kita diundang untuk datang kepada Yesus, memikul kukNya dan belajar dariNya. Apa yang Ia gambarkan merupakan suatu proses seumur hidup yang membuat kita semakin mengenalNya – karakterNya yang sempurna, prioritasNya bagi hidup kita serta rancanganNya bagi kita dan dunia.
Agar Firman ini dapat masuk di akal, kita harus memahami gambaran yang Tuhan gunakan (Matius 11:29-30). Kuk adalah batang kayu yang pas dikenakan di pundak manusia atau hewan. Ketika suatu beban yang berat harus dipindahkan, 2 lembu jantan atau hewan lainnya membawa satu kuk, yang membagi beban secara seimbang diantara pundak keduanya.
Dalam menjalani hidup kekristenan, Yesus meminta kita untuk menempatkan diri kita di bawah ”kuk” ketuhananNya. Ia berjanji bahwa hidup dalam ketaatan kepadaNya pas untuk kita dan memberikan kelegaan kepada kita. Terkadang Tuhan meniadakan kesukaran; sedangkan di lain waktu Ia mengangkat perasaan berbeban berat yang menyertai pergumulan kita.
| Matius 11:28-30 | |
| 11:28 | Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. |
| 11:29 | Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. |
| 11:30 | Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” |