Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
21 Agustus 2009, Jumat
Salah satu pertanyaan kontroversial bagi setiap manusia adalah ‘Apakah Yesus benar-benar Allah?’ Iman kita tergantung pada kemantapan jawaban pertanyaan ini.
Ada banyak orang yang berkata, percaya Yesus dan percaya Allah tetapi mereka tidak menganggap Yesus sebagai Allah. Mereka percaya pada banyak hal baik tentang diri-Nya. Mereka menerima-Nya sebagai Guru. Mereka mengagumi-Nya sebagai Penyembuh. Mereka menghormati-Nya sebagai ahli filsafat, tokoh revolusi dan perubahan sosial. Tetapi mereka tidak dapat, atau tidak mau menerima-Nya sebagai Tuhan.
Saya ingin membuat hal ini menjadi jelas. Anda bisa saja memercayai segala hal yang luar biasa tentang Yesus. Anda bisa sangat menyanjung-Nya sebagai nabi yang diutus Allah Yang Maha Kuasa. Tetapi jika Anda tidak menerima Dia sebagai Allah – Juru Selamat yang sudah mati untuk menebus dosa-dosa Anda – berarti Anda belum mengenal-Nya sama sekali.
Anda mungkin pernah mendengar orang berkata, bahwa Yesus sendiri tidak pernah benar-benar menyatakan diri-Nya sebagai Allah. Ini sama sekali tidak benar. Di dalam kitab-kitab Injil, Yesus berkali-kali menempatkan diri-Nya di tempat yang sama dengan Bapa dan Roh Kudus (Yohanes 10:30; 14:6-14). Sesungguhnya, jika Yesus bukan Anak Allah, maka, sebagaimana dikatakan C.S. Lewis, Dia adalah orang gila atau pembohong terbesar di dunia.
Jika Anda masih kurang yakin dengan pertanyaan kekal ini, jangan biarkan waktu berlalu tanpa Anda mengambil langkah untuk mencari jawabannya. Selidikilah kitab-kitab Injil. Bicarakanlah dengan gembala Anda atau teman-teman yang percaya. Terimalah pertanyaan yang mengubah hidup ini untuk diri Anda sendiri, “Apakah Yesus Kristus benar-benar Allah?”
| Yohanes 1:1-18 | |
| 1:1 | Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. |
| 1:2 | Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. |
| 1:3 | Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. |
| 1:4 | Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. |
| 1:5 | Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. |
| 1:6 | Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; |
| 1:7 | ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. |
| 1:8 | Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. |
| 1:9 | Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. |
| 1:10 | Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. |
| 1:11 | Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. |
| 1:12 | Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; |
| 1:13 | orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. |
| 1:14 | Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. |
| 1:15 | Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” |
| 1:16 | Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; |
| 1:17 | sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. |
| 1:18 | Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
20 Agustus 2009, Kamis
Karena Allah kita adalah Bapa surgawi yang maha tahu, maha bijaksana dan maha pengasih, kita akan selalu beruntung jika menuruti waktu-Nya. Tetapi menantikan Allah itu tidak selalu mudah.
Di dalam Alkitab, kita membaca tentang orang-orang yang mengalami penundaan terselenggaranya janji-janji Allah. Dalam contoh-contoh berikut ini, perhatikanlah betapa kesabaran dan ketaatan mendatangkan berkat:
- Nuh diperintahkan membangun bahtera karena akan datang air bah. Ketika hujan tidak turun-turun, tetangga-tetangganya tentu berpikir ia orang gila. Tetapi Nuh tetap percaya Allah dan terus bekerja (Kejadian 6:12-22).
- Setelah enggan mendatangi Firaun untuk melepaskan orang Yahudi dari perbudakan, Musa belajar bahwa perlu beberapa peringatan dulu sebelum rencana Allah digenapi (Keluaran 7:1-7).
- Murid-murid Yesus diperintahkan untuk menunggu di Yerusalem sampai mereka menerima Roh Kudus yang dijanjikan (Kisah Rasul 1:4).
Ketika saya masih kecil, saya pernah belajar tentang pentingnya kesabaran. Setelah menyuruh saya menanam benih di kebun, ibu saya menjelaskan apa yang akan terjadi. Mula-mula akan tumbuh tunas, setelah itu baru muncul tanaman. Saya terus mengamati tempat itu, tetapi tampaknya tak ada apa-apa yang terjadi. Suatu hari saya memutuskan untuk menggali tempat itu untuk melihat apakah sudah ada kemajuan. Saya tak menemukan tanaman apa pun. Ketidaksabaran saya tidak membuahkan hasil apa-apa.
Tuhan punya rencana untuk setiap kita, dan waktu-Nya untuk setiap hal itu selalu tepat. Apakah Anda sedang hidup menurut waktu Tuhan?
| Mazmur 33:20-22 | |
| 33:20 | Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! |
| 33:21 | Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya. |
| 33:22 | Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
19 Agustus 2009, Rabu
Menantikan Allah sampai kita menemukan kehendak-Nya merupakan disiplin yang mendasar dalam kehidupan orang Kristen. Setelah mengenal rencana-Nya, kita juga harus berhati-hati melaksanakannya di dalam kerangka waktu Tuhan.
Mengikuti waktu Tuhan selalu baik bagi kita karena Dia maha mengetahui. Tidak seperti kita, Bapa memiliki pengetahuan yang sempurna tentang seisi dunia dan segala sesuatu tentang kehidupan tiap orang di masa lalu, sekarang dan akan datang (Kisah Rasul 17:26).
Dia maha bijaksana. Tuhan mengenal motif setiap orang (I Tawarikh 28:9) dan bertindak tepat. Keputusan yang kita buat tidak sempurna karena kita tidak dapat mengetahui maksud orang lain dengan jelas. Kita membuat pilihan berdasarkan informasi yang ada saja, tetapi Allah memiliki kebijaksanaan untuk memahami fakta-fakta dengan tepat dan bertindak berdasarkan kebenaran (Roma 11:33). Dia tak pernah salah.
Kasih-Nya tak berkesudahan. Melalui Anak-Nya, Bapa memberi kita kasih yang tak bersyarat. Dengan mengutus Yesus untuk mati ganti kita, Allah sudah membuktikan kasih-Nya yang kekal itu (I Yohanes 4:10). Dia selalu memberikan yang terbaik untuk kita.
Pemeliharaan-Nya sempurna. Tuhan menawarkan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menggenapi rencana-Nya, kebijaksanaan, kekuatan dan kecakapan (II Petrus 1:3).
Mengikuti waktu Tuhan memerlukan iman dan keberanian. Kita harus percaya bahwa Dia tahu bagaimana seharusnya kita hidup, percaya bahwa rencana-Nya tepat, dan bertekad untuk menunggu sampai Dia memberi tanda untuk bertindak. Orang yang mengikuti waktu Tuhan akan bersukacita melihat Dia melakukan segala sesuatu untuk kebaikan mereka dan bagi kemuliaan-Nya.
| Mazmur 25:1-5 | |
| 25:1 | Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; |
| 25:2 | Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. |
| 25:3 | Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. |
| 25:4 | Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. |
| 25:5 | Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
18 Agustus 2009, Selasa
Kita semua pernah mengalami saat-saat yang menekan dalam hidup ini. Musim penderitaan ini bisa disebabkan oleh sahabat yang berkhianat, kesulitan ekonomi, atau pun pencobaan-pencobaan lainnya. Tetapi sebagai anak-anak Allah, kita bisa tetap bersemangat karena mengetahui penderitaan kita tidaklah sia-sia.
Kadang penderitaan kita mendatangkan manfaat kekal bagi orang lain. Tuhan memakainya untuk menyatakan ketulusan iman kita, sehingga orang yang melihatnya tertarik kepada Anak-Nya (I Petrus 1:7). Melalui cara kita menyikapi kemalangan, kepercayaan kita kepada Yesus menjadi nyata bagi orang-orang di sekitar kita. Orang yang sudah percaya akan dikuatkan, dan orang yang masih mencari-cari akan bertanya tentang iman kita.
Pada saat lain, Allah akan memakai penderitaan untuk mengajar kita taat. Ibrani 5:8 berkata bahwa, Juru Selamat kita pun belajar taat dari hal-hal yang diderita-Nya. Tujuan lain dari kesukaran adalah untuk meluaskan pelayanan kita. Karena dipenjara, rasul Paulus bisa melayani para penjaga, sehingga banyak di antara mereka yang juga diselamatkan.
Kesulitan juga bisa menjadi alat Tuhan untuk mencegah terjadinya masalah, suatu penyakit yang tidak kita ketahui mencegah Paulus untuk tidak menjadi sombong. Ketika ketidaktaatan mengancam perjalanan kita bersama Allah, Dia akan melakukan apa saja untuk menarik kita kembali kepada-Nya. Dia mungkin akan membiarkan suatu kebutuhan tidak pernah terpenuhi, atau sesuatu yang berharga disingkirkan. Tujuannya adalah agar kita mengakui dosa kita dan kembali pada-Nya.
Kita mungkin tidak tahu mengapa kita mengalami penderitaan, tetapi pilihan paling bijak adalah tetap percaya Allah. Bagaimana pun, Dia yang sudah menyelamatkan kita dengan mengorbankan Anak-Nya, juga sudah berjanji akan memakai penderitaan kita untuk mendatangkan kebaikan yang bernilai kekal (Roma 8:28).
| 2 Korintus 12:7-10 | |
| 12:7 | Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. |
| 12:8 | Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. |
| 12:9 | Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. |
| 12:10 | Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
17 Agustus 2009, Senin
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:1-2)
“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Roma 8:31-32)
“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)
“ Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13)
“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (I Petrus 2:16)