Da Words of My Jesus


Sukacita Ilahi | Yohanes 15:5-11
December 21, 2009, 5:48 pm
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: ,

21 Desember 2009, Senin

  Di Yohanes 15, Yesus menggambarkan relasi kita dengan-Nya seperti ranting yang menempel pada pokok anggur. Di kebun anggur, buah baru bisa dihasilkan apabila sari-sari makanan mengalir ke ranting-rantingnya. Jika Roh Kristus yang memberi hidup mengalir melalui kita, buah roh akan muncul. Di antaranya adalah sukacita ilahi (Galatia 5:22-23).

   Untuk mengalami kepuasan rohani yang mendalam, kita harus tetap melekat erat dengan Tuhan. Yesus sering menyelinap pergi agar Dia dan Bapa bisa memiliki hubungan yang intim (Markus 1:35). Dia mampu menanggung banyak penderitaan karena persekutuan-Nya dengan Allah, dan karena sukacita yang akan diterima-Nya. Rasul Paulus juga mengalami sukacita yang melimpah sekalipun di tengah penderitaan (II Korintus 7:4). Ia menggambarkan hubungan orang percaya dengan Allah seperti ini: “Hidupku bukannya aku lagi, tetapi  Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20).

   Sukacita akan bertambah-tambah jika kita mengikuti teladan Paulus dan terfokus pada Yesus, bukan pada diri kita sendiri atau situasi kita. Semakin kita melekat pada-Nya, semakin besar kebahagiaan rohani kita. Reaksi awal kita dalam menghadapi kesulitan mungkin putus asa atau sangat menderita. Namun jika kita memusatkan perhatian kita kepada-Nya, dan bersatu dengan Roh-Nya, kita akan kembali merasakan damai sejahtera. Ingat, Tuhan berjanji sukacita-Nya akan tinggal di dalam kita jika kita tinggal di dalam Dia.

   Betapa hebatnya kesaksian kita  jika sukacita Tuhan mengalir di dalam dan melalui kita. Yang dikerjakan Roh Kudus di dalam kita bukanlah kebahagiaan duniawi, tetapi kepuasan ilahi. Biarlah sukacita ilahi memengaruhi setiap perbuatan dan perkataan Anda.

-Sentuhan Hati-

Yohanes 15:5-11
15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
15:8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
15:9 Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.


Janji-Janji pada Saat Menderita | II Korintus 4:16-18
December 21, 2009, 11:02 am
Filed under: Articles

20 Desember 2009, Minggu

 

Kemarin kita sudah belajar tentang sarana yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi serupa dengan Yesus. Sebagai orang percaya, kita tentu menginginkan hasilnya, tetapi prosesnya memang menyakitkan. Itu sebabnya Bapa surgawi memberi kita penghiburan dengan berbagai cara.

   Pertama, Tuhan menghancurkan kita dengan kasih. Orang percaya adalah anak-anak-Nya; seperti orangtua yang mendisiplin putra-putrinya dengan kasih, begitu juga Allah kita. Dia tak pernah membuat kita menderita hanya karena murka.

   Kedua, Dia membatasi penderitaan kita, mengontrol tekanan agar tidak sampai melampaui yang dapat kita tanggung (II Korintus 4:8). Bapa kita tahu persis apa yang dibutuhkan untuk menghancurkan keras kepala, pemberontakan dan keegoisan kita, tetapi Dia tidak pernah menghancurkan roh kita.

   Ketiga, Allah membawa kejelasan pada saat kita menderita. Dengan menyelami jalan-Nya yang lebih tinggi dari jalan kita, kita bisa makin mengenal sifat-sifat-Nya yang mengherankan. Pada saat yang sama, kesadaran-diri kita makin membaik, dan pola-pola pikir lama yang tidak berguna mulai memudar.

   Keempat, Allah berjanji tidak meninggalkan kita. Kehancuran bisa membuat kita merasa kesepian dan kosong, karena kita kehilangan hal-hal yang pernah merebut kesetiaan kita. Tetapi Bapa sudah mengganti semuanya itu dengan diri-Nya sendiri – dan Dia jauh lebih memuaskan dan dapat diandalkan.

   Kelima, Tuhan selalu sabar. Dia mengenal latar belakang kita dan pola-pola pikir kita yang sudah berurat akar. Namun Dia juga mengharapkan hasil akhirnya dan menghargai semua proses itu.

   Ketika Anda menghadapi kesulitan, ingatlah janji-janji Tuhan dan tetaplah mengarahkan pandangan kepada tujuan. Dia  selalu memikirkan yang terbaik untuk Anda, karena itu, temukanlah pelajaran-Nya bagi Anda.

-Sentuhan Hati-

2 Korintus 4:16-18
4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.


Kehancuran: Berkat | II Korintus 12:7-9
December 21, 2009, 8:33 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: ,

19 Desember 2009, Sabtu

   Tidak ada orang yang senang menderita. Namun Allah sering memakai penderitaan untuk membentuk anak-anak-Nya. Meskipun saat-saat indah dan bahagia itu terasa menyenangkan, masa-masa penderitaan cenderung menghasilkan pertumbuhan.

   Kehancuran merupakan cara Allah menangani sebagian dari kita yang  tidak ingin bergantung pada-Nya. Target-Nya adalah bagian-bagian yang menghalangi tujuan-Nya. Dengan kasih dan terampil, Bapa akan mengatur situasi-situasi yang akan membuat kita tidak cukup nyaman, sehingga kita menyadari ketergantungan kita pada-Nya.

   Rasul Paulus juga pernah mengalami hal ini. Setelah diselamatkan di jalan ke Damaskus, ia masih membutuhkan pertumbuhan rohani agar menjadi sangat efektif bagi Kristus. Maka Allah mengizinkan ia mengalami penderitaan tertentu, yang disebutnya “duri dalam daging.” Tiga kali ia sudah memohon  kepada Allah untuk menyingkirkannya, tetapi tanpa hasil.  Eloknya, Paulus tetap bersyukur. Ia bahkan menulis, “Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesengsaraan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (II Korintus 12:10).

   Seperti Paulus, kita boleh-boleh saja tidak suka menderita, tetapi tetaplah meyakini bahwa Allah sedang menumbuhkan kita. Tujuannya supaya kita dapat hidup dalam hubungan yang erat dengan-Nya, dan melayani dengan efektif sesuai tujuan dan kehendak-Nya. Untuk ini, Dia harus  menghancurkan pemberontakan, pertahanan dan kehendak kita sendiri.

   Jika Anda ingin benar-benar hidup bagi Yesus, percayailah Dia untuk berdoa, “Tuhan, melebihi apa pun di dalam kehidupan ini, aku ingin hidup bagi-Mu. Hancurkanlah bagian-bagian dalam diriku yang tidak sepenuhnya tunduk pada kehendak-Mu.”

-Sentuhan Hati-

2 Korintus 12:7-9
12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.