Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
24 Februari 2010, Rabu
Anda mungkin berpikir bahwa ancaman badai dahsyat dan beberapa hari di dalam perut ikan, akan membuat orang sadar. Namun, jika orang itu adalah Yunus, Anda keliru. Bagian terakhir kisah Yunus mengungkapkan tentang seorang nabi yang penuh dendam, yang hanya menaati Allah secara fisik sementara hatinya masih terus dalam pelarian.
Yunus membayar mahal untuk melarikan diri dari Allah – tiket yang dibelinya untuk pergi ke Yafo dan Tarsis tidaklah murah. Dan, anak-anak sekolah minggu pun bisa menceritakan derita fisik yang harus ditanggungnya. Tetapi, ketika semua peristiwa itu sudah berlalu, Yunus pun masih terus bergelut secara spiritual dengan akibat pelariannya. Damai dan sukacitanya lenyap. Yang ada hanyalah kepahitan luar biasa sampai-sampai ia meminta Allah untuk mencabut nyawanya saja.
Sebagai orang percaya, kita tidak dapat melawan Tuhan tanpa membayar harganya. Kehidupan rohani kita akan melemah. Keterampilan dan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita akan menurun akibat kurang dipakai selama kita menyia-nyiakan waktu untuk melarikan diri. Dan kita pun berisiko kehilangan banyak hal lain akibat tindakan kita. Keluarga, keuangan, kesehatan dan yang lain-lainnya bisa terinfeksi oleh dosa.
Mungkin Anda punya kebiasaan, rencana atau tindakan yang Anda tahu bertentangan dengan kehendak Allah. Sudahkah Anda memikirkan akibatnya? Meskipun Iblis mungkin berupaya meyakinkan Anda yang sebaliknya, pelanggaran Anda tetap akan membawa akibat. Tuhan yang kudus dan benar tidak akan membiarkan kita terus berkanjang dalam dosa. Harga mengikuti kemauan sendiri itu mahal. Lihat saja betapa menderitanya Yunus akibat pilihannya. Ganjaran dari menaati Allah jauh lebih menyenangkan.
-Sentuhan Hati-
| Yunus 4:9-11 | |
| 4:9 | Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” |
| 4:10 | Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. |
| 4:11 | Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
22 Februari 2010, Senin
Banyak orang memakai tanda salib karena salib itu melambangkan kekristenan. Tetapi tidak banyak orang yang benar-benar memahami kedalaman kasih yang dilambangkan oleh salib itu.
Salib dipakai sebagai cara menghukum mati yang paling menyakitkan dalam sejarah. Penyaliban biasanya diawali dengan dua orang serdadu yang mencambuk dari depan dan belakang. Cambuk yang dipakai itu berlilitkan tiga tali kulit, yang masing-masing ujungnya berisi duri, yang dapat merobek-robek dan menghancurkan daging. Tak heran jika Yesus sampai jatuh tersungkur dan tak kuat memikul salib-Nya setelah dicambuk seperti itu.
Para serdadu kemudian menancapkan paku panjang di telapak atau pergelangan tangan, yang makin menambah rasa sakit luka penyaliban itu. Pergelangan kaki juga ditancap paku sampai tembus ke kayu salib. Untuk mendirikan salib itu, para algojo akan menjatuhkan salib itu ke dalam sebuah lubang, dan “bunyi gedebuk” lagi-lagi menambah hancur tubuh yang sudah tercabik-cabik itu. Untuk menarik napas saja, orang yang disalib itu harus bertumpu pada pergelangan kakinya yang berdarah.
Yesus adalah Allah, tetapi Dia juga manusia. Jadi, Dia tahu betul penderitaan fisik manusia yang mengalami kekejaman itu. Di atas segalanya, Dia juga merasakan kepedihan emosional dan spiritual yang dalam karena ditolak oleh bangsa-Nya dan disangkal oleh murid-murid-Nya. Yang paling memilukan, ketika Dia menanggung dosa-dosa kita, Bapa meninggalkan-Nya (Matius 27:46; II Korintus 5:21). Namun, Yesus tidak memandang diri-Nya sebagai korban; Dia dengan rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, dan menganggapnya sukacita (Ibrani 12:2). Tak ada kasih yang lebih agung dari itu.
Ambillah waktu untuk merenungkan segala penderitaan Yesus di kayu salib bagi Anda. Setelah Anda mengerti betapa besar pengorbanan-Nya, bersyukurlah pada-Nya atas kasih-Nya yang tak terukur itu.
| Yohanes 10:18 | |
| 10:18 | Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
15 Februari 2010, Senin
Menunjukkan “ketidaksesuaian” sudah lama menjadi hiburan yang populer di kalangan para kritisi Alkitab. Yang menyedihkan, beberapa orang berpengaruh pun ada yang beranggapan bahwa, bagian-bagian Alkitab hanyalah kata-kata biasa.
Para kritisi ini tentu saja tidak dapat sepakat tentang bagian-bagian yang dianggapnya tidak tepat. Ada yang menghilangkan kalimat di sana-sini, ada juga yang mengabaikan seluruh kitab. Ini membuat orang percaya di bangku gereja menjadi bingung untuk membedakan antara Firman Allah dan pendapat penulisnya. Siapa yang dapat dipercaya? Saya punya jawabannya: Percayailah Allah sebagai otoritas tertinggi. Sang Penguasa alam semesta tak pernah mengalami kesulitan menjaga kemurnian Alkitab.
Membaca Alkitab sebagai satu kesatuan akan menunjukkan bahwa setiap bagiannya konsisten atau sesuai dengan bagian lainnya. Allah memang membiarkan perbedaan sudut pandang dan latar belakang para penulisnya, yang kadang menampakkan ketidaksesuaian. Tetapi penelitian yang lebih mendalam selalu menyingkapkan, betapa berbagai bagian itu cocok satu sama lain. Contohnya, renungkan empat sudut pandang kitab injil tentang satu kisah. Matius yang menulis untuk orang Yahudi, lebih menekankan sejarah dan penggenapan nubuat tentang Mesias. Sementara Yohanes menuturkan kisah cinta Juru Selamat yang rela mati untuk dunia. Meskipun kedua penulis itu sama-sama pernah hidup bersama Yesus, perspektif mereka berbeda. Namun pada dasarnya, mereka dan kedua penulis injil lainnya bersesuaian.
Orang percaya harus meyakini konsistensi Kitab Suci. Buku yang tidak sempurna hanya bisa dihasilkan oleh tangan manusia, tetapi Alkitab adalah Firman Allah yang berkuasa. Roh-Nyalah yang berbicara, tak peduli siapa pun yang menuliskan pesan itu.
| 2 Timotius 3:14-17 | |
| 3:14 | Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. |
| 3:15 | Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. |
| 3:16 | Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. |
| 3:17 | Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
06 Februari 2010, Sabtu
Kehidupan Musa ditandai dengan banyak ketidakpastian. Ia lahir di Mesir pada waktu pertambahan penduduk orang Ibrani dianggap sebagai ancaman. Raja Mesir sedang memperbudak bangsanya, dan setiap anak laki-laki yang lahir harus dibunuh (Keluaran 1:22; 2:1-4). Untuk melindunginya, keluarganya harus membiarkan orang lain membesarkannya sebagai orang Mesir.
Sesudah dewasa, ia harus lari dari Mesir dan hidup jauh dari keluarga (Keluaran 2:11-15). Kemudian, dalam perjumpaan pribadinya dengan Tuhan, Allah memilihnya menjadi pemimpin para budak Israel itu (Keluaran 3). Dalam peran barunya ini, yang ia merasa tidak mampu, ia harus menghadap Firaun untuk meminta kemerdekaan bangsanya. Dan bayangkan, betapa ia meragukan kemampuannya ketika harus memimpin lebih dari satu juta orang, yang seringkali menantangnya dengan sungut-sungut dan pemberontakan.
Namun, Musa terus maju dengan tegar. Alkitab mengatakan bahwa, yang membuatnya mampu bertahan hanyalah iman, yang di Ibrani 11:1 didefinisikan sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Musa sudah belajar melihat “Dia yang tidak kelihatan” (Ibrani 11:27). Hasilnya, ia dapat memahami fakta dari sifat dan janji-janji Tuhan yang tidak kelihatan. Setelah perjumpaannya dengan Allah di semak duri yang menyala itu (Keluaran 3:2), caranya memandang kehidupan berubah: tujuan hidup barunya adalah bersandar pada Tuhan dan menggenapi rencana-Nya.
Meskipun kehidupan Musa tidak sempurna, Alkitab menyebutnya sebagai orang yang berjalan dengan iman. Dari teladannya kita bisa belajar untuk bertekun melalui ketidakpastian hidup. Dan dengan pertolongan Roh Kudus, kita juga bisa menjadi orang yang tekun beriman.
| Ibrani 11:23-29 | |
| 11:23 | Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja. |
| 11:24 | Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, |
| 11:25 | karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. |
| 11:26 | Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. |
| 11:27 | Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. |
| 11:28 | Karena iman maka ia mengadakan Paskah dan pemercikan darah, supaya pembinasa anak-anak sulung jangan menyentuh mereka. |
| 11:29 | Karena iman maka mereka telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga. |