Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
22 November 2010, Senin
Perkataan adalah alat yang sangat berkuasa. Perkataan bisa membangun, akan tetapi bisa juga menjatuhkan seseorang. Kita tidak dapat ceroboh mengatakan apapun yang kita inginkan dan kemudian mengharapkan untuk segera dimaafkan demi memulihkan semua luka. Bahkan, perkataan yang disampaikan dengan tergesa-gesa dapat sangat melukai hati seseorang. Tentu saja, tidak semua pesan yang kita sampaikan berbentuk verbal. Ekspresi wajah dan bahasa tubuh dapat menyampaikan sikap penerimaan atau penolakan, suka atau tidak suka, mengasihi atau membenci. Terkadang, kehadiran kita saja bisa menyampaikan pesan yang sangat kuat.
Rasul Paulus mengajarkan orang percaya, ”Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29). Artinya bukan hanya kita harus menghindari untuk mengucapkan kata-kata kutuk, melainkan apa yang kita katakan seharusnya memberkati orang lain. Kata-kata memiliki kuasa yang luar biasa – kita semua adalah produk dari apa yang dikatakan orang lain mengenai diri kita. Orangtua, guru, figur pemimpin lainnya dan teman kita telah menguatkan atau mengecilkan hati kita melalui perkataan mereka.
Bila Anda seorang ibu atau ayah, Anda harus berhati-hati untuk mengatakan perkataan yang benar kepada anak-anak Anda. Akan tetapi bukan itu saja, Anda harus berhati-hati dalam menyampaikan hal-hal non verbal kepada mereka. Contohnya, bila anak Anda ingin berbincang dengan Anda saat Anda sedang menonton TV, dan kemudian Anda berkata kepadanya, ”Jangan sekarang. Memang kamu tidak lihat bahwa saya lagi bersantai?” Anda sedang menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang nilai anak itu bagi Anda. Ia akan belajar bahwa ia tidak lebih penting daripada program TV.
Apa yang Anda sampaikan kepada anak Anda, akan mempengaruhi moral dan keyakinan mereka juga. Karena itu, bangun dan kuatkan anak-anak Anda dengan hal-hal yang dari Tuhan. Katakan kepada mereka bahwa mereka diterima, dikasihi, dilindungi dan mampu oleh karena Kristus. Mintalah Tuhan untuk menolong Anda menguatkan anak-anak menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.
-Sentuhan Hati-
| Efesus 4:29 | |
| 4:29 | Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
01 November 2010, Senin
Dalam budaya kuno, orang yang memiliki posisi terendah dalam suatu keluarga diberi tanggungjawab menjaga kawanan ternak. Ia bertanggungjawab menuntun domba-domba ke padang rumput hijau dengan aliran air yang segar, melindungi domba itu dari pemangsa dan menemukan yang hilang ketika domba tersesat. Pekerjaan ini adalah pekerjaan rendah, kerja kasar dan tidak enak. Sang gembala tinggal di antara ternak dan tidur melintang di pintu masuk kandang, menjaga agar dombanya tetap di dalam dan serigala tidak dapat masuk. Sungguh pekerjaan kotor, berbau dan tidak dihargai.
Namun demikian, Kristus di tengah para pengikut-Nya di dalam budaya yang kental ini berkata ”Akulah gembala yang baik” (Yohanes 10:11, 14). Gereja masa kini melewatkan kedalaman arti dari perkataan-Nya itu. Pandangan tentang Yesus sebagai gembala sudah karatan tetapi membuat kita tersipu Penguasa alam semesta merendahkan diri-Nya dan mengotorkan tangan-Nya karena bekerja secara langsung dengan umat manusia yang suka memberontak, melakukan apa yang menjadi keinginannya sendiri dan terkadang bebal.
Ingat yang tadi Anda baru baca bahwa menjaga kawanan ternak menuntut sang gembala tidur melintang di pintu masuk kandangnya? Yesus melakukan hal itu – Ia menjadi pintu bagi kita. Ia mengorbankan hidup-Nya demi umat manusia sehingga barangsiapa memilih percaya kepada-Nya dapat masuk kepada pintu Allah (Yohanes 3:16). Dan begitu berada di dalam, apa yang kita perlu disediakan, dicari saat kita tersesat, dan dilindungi dari musuh.
Yesus memandang diri-Nya sebagai Gembala umat manusia. Puji Tuhan karena kita lebih dari sekedar kawanan domba bagi-Nya. Ia mengetahui segala sesuatu tentang diri kita masing-masing nama, karakter dan cela kita dan mengasihi kita dengan segala ketidaksempurnaan itu. Adakah cara lebih baik untuk membalas kasih-Nya selain daripada mengenal suara-Nya dan ikut kemana pun Ia menuntun?
-Sentuhan Hati-
| Yohanes 10:7-15 | |
| 10:7 | Maka kata Yesus sekali lagi: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. |
| 10:8 | Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. |
| 10:9 | Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. |
| 10:10 | Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. |
| 10:11 | Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; |
| 10:12 | sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. |
| 10:13 | Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. |
| 10:14 | Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku |
| 10:15 | sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. |