Da Words of My Jesus


Bahaya Kemarahan | Efesus 4:26-27
October 31, 2011, 10:38 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: ,

31 Oktober 2011, Senin

Kita sudah belajar tentang bagaimana mengatasi kemarahan yang bercokol dalam hidup kita. Hari ini kita akan menemukan prinsip Tuhan untuk mencegah kemarahan yang berkepanjangan. Kuncinya adalah segera atasi perasaan yang berbahaya ini.

Penting disadari bahwa orang percaya juga bisa mengalami saat-saat menjadi marah dan tetap benar di hadapan Tuhan. Namun, kemarahan yang dibiarkan tetap bercokol dan membusuk akan menjadi kesempatan bagi Iblis. Ia dengan cepat akan menaburkan pembenaran di pikiran kita: Orang itu pantas dimarahi. Engkau tidak seharusnya diperlakukan seperti itu! Allah mengerti kamu kecewa. Dengan membuat orang punya alasan untuk membangun pertahanan diri dan menyimpan kemarahan, Iblis menciptakan tembok dalam kehidupan mereka. Dan orang yang bodoh bersembunyi di balik tembok itu (Pengkhotbah 7:9).

Kita tidak boleh membiarkan satu bata pun untuk membangun kubu si jahat. Sebaliknya, orang percaya harus menanggapi hasutan itu dengan mengampuni orang lain seperti Tuhan mengampuni. Kemurahan-Nya tidak bersyarat. Orang percaya tidak dapat berdiri di hadapan Tuhan dengan tetap menyimpan kemarahan  berkepanjangan. Kita harus segera menyingkirkan kemarahan itu dengan mengampuni.

Kita juga dapat melindungi diri kita dengan mengenali gangguan yang sering terjadi. Ketika situasi (atau orang) itu mulai membayangi, kita perlu berdoa agar Tuhan membuat kita cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan untuk marah (Yakobus 1:9). Itulah saatnya bagi buah roh pengendalian diri untuk beraksi.

Kemarahan hanya menghasilkan buah yang busuk – relasi yang pahit, kesaksian yang buruk, dsb. Orang percaya yang bijaksana memakai pendekatan ganda dalam mengatasinya. Pertama, memperhatikan lebih dari 300 peringatan Alkitab tentang emosi berbahaya ini dan mewaspadainya. Kedua, membuang kemarahan karena lebih suka mengampuni.

-Sentuhan Hati-

Efesus 4:26-27
4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.


Studi Alkitab Tentang Kemarahan
October 31, 2011, 9:23 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: ,

30 Oktober 2011, Minggu

Menurut Pengkhotbah 7:9, di mana kemarahan itu menetap? Masalah apa yang menanti orang yang menuruti nafsu amarah
(Mazmur 37:8, Amsal 19:19: 29:22)?

Saran apakah yang diberikan di dalam Yakobus 1:19-20? Apa yang tidak dapat dicapai kemarahan manusia?

Dengan memakai ayat-ayat berikut ini, daftarkanlah kebodohan dari kata-kata kasar dan berbagai manfaat dari tidak cepat berkata-kata:
(Amsal 10:19,  12:16, 15:28; 17:27-28; 18:13.

Apa saja akibat dari kemarahan (Amsal 14:29; Ibrani 12:14-15)?
Bagaimana Anda menemukan akar pahit yang tersembunyi di dalam jiwa Anda? Baca Mazmur 139:23-24 dan Ibrani 4:12-13.
Bagaimana cara yang disarankan Mazmur 32:1-5 dalam mengatasi dosa tersembunyi?

Apa yang dikatakan Efesus 4:26-32 tentang mengatasi kemarahan?
Bahaya apa yang kita hadapi jika menyimpan amarah? Kapan kemarahan itu menjadi dosa?
Daftarkanlah sifat-sifat yang harus kita “tanggalkan” dan yang pantas menggantikannya.

Sikap tidak mengampuni menuntut orang membayar harga kesalahannya. Sebaliknya, bagaimana perintah Yesus dalam memperlakukan orang yang bersalah kepada kita (Matius 5:43-45)?

Menurut Roma 12:17-21, hak siapakah pembalasan dendam itu?
Daripada menjadi marah, bagaimana kita seharusnya menyikapi perlakuan buruk?
Mengapa kita tidak punya hak untuk tidak mengampuni (Matius 18:21-35)?

-Sentuhan Hati-



Membuang Kemarahan | Efesus 4:30-32
October 29, 2011, 6:43 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: ,

29 Oktober 2011, Sabtu

Hidup yang benar tidak memberi tempat pada kemarahan, baik yang dilampiaskan maupun yang dipendam. Kemarahan yang mengeras di hati kita akan menjadi kubu pertahanan iblis.

Cara jasmani dalam “mengatasi” kemarahan adalah dengan melampiaskan (amukan kemarahan) atau menekan (pendaman kejengkelan). Keduanya tidak efektif  dalam menyelesaikan masalah atau membuat orang yang sedang marah merasa lebih baik. Cara Tuhan dalam menghadapi emosi berbahaya ini adalah dengan melenyapkan kemarahan dan memerdekakan orang percaya itu. Sebagaimana diperingatkan dalam bacaan hari ini, kita harus membuang “segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah …, demikian pula segala kejahatan” (ayat 31). Namun untuk membuangnya kita perlu mengakui bahwa perasaan itu ada.

Entah kita merasa jengkel pada diri kita sendiri, orang lain atau Allah, kita harus mengakui adanya perasaan itu. Berpura-pura tidak merasa marah atau malah membesar-besarkannya tidak ada gunanya. Jika Anda marah, akuilah dan kemudian kenalilah sumbernya. Mengetahui siapa atau apa pemicu awal kemarahan itu dapat mencegah orang melampiaskan amarah pada yang tidak bersalah.

Beberapa pertanyaan ini bisa menolong kita untuk mengenali sumber kemarahan:

Mengapa saya marah?
Kepada siapa saya marah?
Apa penyebab saya merasa/bertindak begini?
Kapan/di mana saya mulai merasakan hal ini?
Apakah saya sudah lama marah?

Begitu kita mengetahui sumber amarah kita, tibalah saatnya untuk mengampuni, apa pun yang terjadi. Marah dan tidak mengampuni seringkali berjalan bersama, dan menjadi beban berat yang  membuat Anda jatuh. Allah memanggil kita untuk menyingkirkannya dan menggantinya dengan membangun kasih dan kemurahan. Membuang kemarahan berarti melangkah dalam kehendak-Nya dengan langkah ringan.

-Sentuhan Hati-

Efesus 4:30-32
4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.


Mengatasi Perasaan Bersalah | Yohanes 5:24-26
October 27, 2011, 10:47 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: ,

27 Oktober 2011, Kamis

Orang yang percaya Kristus sering bergumul dengan rasa kecewa dan malu atas segala kesalahan yang mereka perbuat. Sebagian menjadi sangat berduka atas kesalahan yang dilakukan sebelum mereka menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Namun, apa yang dikatakan Alkitab tentang rasa bersalah?

Sebelum kita diselamatkan, sifat kedagingan kita membuat kita memberontak kepada Tuhan dan memilih jalan sendiri. Keadaan berdosa ini memisahkan kita dari Tuhan dan menempatkan kita di bawah murka Tuhan (Roma 2:5-8). Semua manusia berdosa di hadapan Tuhan (Roma 3:23). Namun, saat kita percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat, kita disucikan oleh darah-Nya (Imamat 17:11; Ibrani 9:14). Dia mengangkat kita dari status kita sebagai orang berdosa dan terpisah dari Allah menjadi orang yang diampuni dan diterima oleh Bapa. Rasa malu kita sudah disingkirkan, dan kebenaran Kristus telah membenarkan kita (Roma 5:17). Meskipun kita mungkin masih harus menanggung akibat perbuatan, kita tidak lagi bersalah di hadapan Tuhan.

Jika kita membiarkan diri kita terus dikuasai rasa malu atas perbuatan yang lalu-lalu, kita akan menjadi orang yang bimbang, yang terlalu terfokus pada masa lalu. Sebagian dari kita mungkin meragukan kasih Allah dan bertanya, Bagaimana mungkin Dia memperhatikan orang seperti saya? Yang lain mungkin merasa tidak layak menjadi anak-Nya – sehingga mereka menjauhkan diri dari Tuhan. Rasa bersalah dapat membuat kita tertekan, menguras energi kita untuk dapat melakukan tugas sehari-hari, dan menghancurkan semangat kita untuk masa depan.

Kita semua pernah melakukan kesalahan yang kita sesali. Namun, kita memiliki Bapa surgawi yang sudah mengampuni semua dosa kita dan menyingkirkan kesalahan kita melalui Yesus, Putra-Nya. Jika Anda masih dibebani rasa malu, renungkanlah karya-Nya di kayu salib, dan biarkan kebenaran Allah memerdekakan Anda.

-Sentuhan Hati-

Yohanes 5:24-26
5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
5:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.


Alasan untuk Percaya | Amsal 3:5-6
October 27, 2011, 10:01 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: ,

26 Oktober 2011, Rabu

Kita sering mendapati, tidak sulit untuk percaya kepada Tuhan pada saat situasi menyenangkan. Tetapi, pada saat-saat sulit, bersandar pada-Nya bisa menjadi tantangan. Namun, seperti itulah tepatnya yang diperintahkan Tuhan kepada Daud: “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, aku akan meluputkan engkau” (Mazmur 50:15).

Sebagaimana kita lihat kemarin, kita bisa mempercayai Tuhan karena Dia mengasihi kita. Di Alkitab, kita melihat kasih Tuhan ini ditunjukkan dengan jelas melalui karakter Bapa, kematian penebusan Juru Selamat, dan pengangkatan orang percaya sebagai anak Allah.

Alasan lain untuk kita bersandar pada Bapa surgawi adalah hikmat-Nya yang tak terbatas (Roma 11:33). Dia selalu tahu apa yang terbaik bagi kita, dan keputusan-Nya itu sempurna. Kita tidak dapat memahami semua rencana-Nya. Dibandingkan gambaran yang jelas dan lengkap yang dimiliki-Nya atas hidup kita, yang kita lihat hanyalah gambaran realitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu, yang Dia pilihkan untuk kita boleh jadi tidak bisa kita pahami pada saat itu.

Kita juga dapat bersandar pada Tuhan karena Dia berdaulat. Dengan kata lain, apa pun yang dipilih-Nya – dengan hikmat dan kasih-Nya, Dia dapat menyempurnakan-Nya. Tidak ada yang dapat menghalangi jalan Tuhan. Dia berkuasa atas segala sesuatu; bahkan Iblis pun harus meminta izin-Nya dulu sebelum bertindak (Ayub 1:9-12).

Kita tentu tidak menyukai penderitaan dan mungkin tergoda untuk bertanya, “Mengapa, Tuhan?” Namun, dengan mengakui bahwa Allah bertindak dengan kasih, bijaksana dan berdaulat, kita bisa mengetahui bahwa Dia mengizinkan situasi itu dan merencanakan yang terbaik bagi kita untuk jangka panjang. Dengan demikian kita dapat mengganti “mengapa?” dengan ucapan syukur dan percaya.

-Sentuhan Hati-

Amsal 3:5-6
3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
3:6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.