Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
29 November 2011, Selasa
Iman dan tindakan berjalan beriringan. Seorang Kristen adalah orang yang dipakai Kristus untuk mengerjakan karya-Nya di muka bumi. Karena itu, melayani Tuhan lebih dari sekedar sesuatu yang kita kerjakan; bekerja bagi Tuhan juga menegaskan siapa diri kita.
Setelah masuk dalam keluarga Allah, orang percaya dikenal melalui buah perbuatan mereka, termasuk pelayanan yang mereka lakukan bagi Dia dan orang lain. Bahkan, Tuhan menyelamatkan orang dari dosa supaya mereka dapat melakukan pekerjaan yang Ia telah rancangkan (Efesus 2:10). Seringkali dikatakan bahwa kita adalah tangan dan kaki Tuhan di dunia ini.
Bapa yang sama, yang memanggil kita untuk bekerja dalam nama-Nya, juga menyediakan sumber daya yang diperlukan. Sebagaimana Paulus berkata, Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada anak-anak-Nya, supaya mereka senantiasa berkecukupan di dalam pelbagai kebajikan (II Korintus 9:8). Selain itu, kita diperlengkapi oleh Firman-Nya dan dikuatkan serta dituntun oleh Roh-Nya yang Kudus (II Timotius 3:16-17). Dari sumber-sumber inilah, orang Kristen belajar tentang berhubungan dengan orang lain sehingga mereka bisa menolong, menguatkan hati dan memberi kepada orang lain.
Yang jelas, perbuatan kita tidak ada hubungannya dengan keselamatan. Kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia saja melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Titik. Setelah itu terjadi, seorang percaya termotivasi untuk melakukan kebaikan dalam nama Tuhan dengan maksud untuk menyenangkan hati-Nya.
Kita terpanggil untuk menunjukkan iman kita melalui perbuatan setiap hari. Tuhan berkarya melalui kita untuk menjangkau mereka yang mungkin tidak pernah membuka Alkitab atau masuk ke gereja. Lebih dari itu, Ia meminjam suara kita untuk memberitakan kisah-Nya dan memakai hidup kita untuk mendemonstrasikan kasih karunia dan kemuliaan-Nya. Pekerjaan baik adalah tugas kasih orang percaya.
-Sentuhan Hati-
| 2 Korintus 9:8-11 | |
| 9:8 | Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. |
| 9:9 | Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” |
| 9:10 | Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; |
| 9:11 | kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
27 November 2011, Minggu
Setelah mengalami pertobatan, Paulus menghilang di padang gurun selama 3 tahun, waktunya Roh Kudus mengajarkan jalan-jalan Tuhan. Ia muncul kembali, siap untuk menyampaikan kebenaran ilahi.
Tuhan berbicara kepada orang percaya agar mereka memahami kebenaran, hidup seturut dengan kebenaran, dan menyampaikan kebenaran. Langkah-langkah yang sama ini membentuk suatu pemetaan menuju pemuridan. Apa yang terjadi selama Paulus berada di padang gurun bertahun-tahun hanyalah awal dari suatu proses yang berlangsung seumur hidup – Tuhan memperbaharui pikirannya dan mengubahnya segambar dengan rupa Kristus. Bagi sang rasul, perubahan itu dimulai dengan menghubungkan pengetahuannya yang kaya akan hukum taurat dengan pewahyuan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.
Paulus mengetahui isi taurat seluruhnya, namun kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan telah membuatnya memikirkan kembali pondasi yang selama ini dipercayainya. Segala sesuatu yang ia tahu tentang Allah harus dievaluasi kembali dalam terang pengetahuan yang baru didapatnya. Paulus memiliki sejarah dimana ia ingin menyenangkan Tuhan, sehingga tanpa ragu, Roh Kudus melihatnya sebagai murid yang berkehendak kuat. Roh sang rasul harus dibentuk seturut kehendak Bapa. Dan Tuhan terus bekerja atas dirinya jauh setelah Paulus meninggalkan padang gurun dan memulai pelayanannya. Setiap orang yang membaca surat-suratnya menjadi saksi atas karya Tuhan di dalam diri pria yang tunduk kepada-Nya.
Peta pemuridan Tuhan nampak serupa bagi setiap orang percaya. Sebagaimana Paulus, Anda adalah murid Roh Kudus, dan pengetahuan yang Anda peroleh dari Alkitab seharusnya mengubah hidup Anda. Jadilah seperti sang rasul dalam hal ini juga: menjadi orang yang memuridkan dengan membagikan apa yang Anda pelajari dengan orang lain.
-Sentuhan Hati-
| Galatia 1:11-17 | |
| 1:11 | Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. |
| 1:12 | Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. |
| 1:13 | Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. |
| 1:14 | Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. |
| 1:15 | Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, |
| 1:16 | berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; |
| 1:17 | juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
22 November 2011, Selasa
Bacaan kita hari ini memberikan gambaran apa yang terjadi bila orang percaya tidak mendengarkan Tuhan. Hawa mengetahui dengan baik perintah Tuhan hingga ia dapat mengucapkan perintah itu dengan hampir sama persis kepada si ular. Akan tetapi, keangkuhan dan hawa nafsu kedagingan lebih besar pada dirinya, dan ia tertipu. Hawa berhenti mendengarkan Tuhan dan membuka telinganya kepada suara yang salah.
Pikirkan berapa banyak suara yang kita dengar setiap hari. Media, papan iklan, dan bahkan teman dan keluarga memborbardir pikiran kita dengan banyak gagasan dan filsafat. Kita mendengar banyak pesan yang sia-sia dan tidak kudus yang terbungkus dalam bahasa yang cukup manis. Sangat mudah untuk termakan tipu muslihat kecuali kita senantiasa mendahulukan prinsip Alkitab terhadap mata dan hati kita.
Hawa mendapat masalah hanya karena memberikan waktu cukup lama untuk mencerna perkataan si ular. Dengan pandainya, Iblis memutarbalikan apa yang Tuhan maksudkan untuk menyimpangkan Hawa dari kebenaran dan menuntunnya membuat kesalahan. Ia menjanjikan Hawa bahwa ia tidak akan mati, melainkan Ia akan seperti Allah: matanya akan terbuka, dan ia akan mengetahui kebenaran! Di satu sisi, perkataan Iblis memang akurat, namun tidak benar. Mata Hawa memang terbuka; akan tetapi, pengetahuan tidak seindah seperti yang disiratkan si ular. Ia tersadar akan keadaannya sendiri yang berdosa dan jurang yang telah terbentuk antara dia dan Allah. Lebih dari itu, tubuh fisik Hawa akan mengalami kematian sebagai akibat dari dosanya.
Waspadalah ketika banyak pesan berlomba-lompa mendapatkan perhatian Anda. Iblis sama liciknya seperti ketika ia di taman Eden, menyelubungi tipuan sehingga terdengar seperti kebenaran. Namun si Jahat berbohong ketika ia berbicara (Yohanes 8:44). Dengarkan Tuhan dan prinsip Firman-Nya. Ia hanya berkata apa yang benar.
-Sentuhan Hati-
| Kejadian 3:1-13 | |
| 3:1 | Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” |
| 3:2 | Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, |
| 3:3 | tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” |
| 3:4 | Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, |
| 3:5 | tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” |
| 3:6 | Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. |
| 3:7 | Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. |
| 3:8 | Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. |
| 3:9 | Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” |
| 3:10 | Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” |
| 3:11 | Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” |
| 3:12 | Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” |
| 3:13 | Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
21 November 2011, Senin
Siapa yang memberikan dampak terbesar bagi hidup Anda? Mungkin Anda akan menunjuk pada orangtua Anda atau seorang guru yang sangat berpengaruh. Mungkin juga seorang teman, pendeta atau mentor yang mempengaruhi Anda. Besar kemungkinan, ada begitu banyak orang yang memainkan peran dalam membentuk pribadi Anda sebagaimana Anda ada sekarang.
Sekarang, siapa yang Anda pengaruhi dengan hidup Anda? Yesus berkata, ”Kamu adalah garam dunia…” (ayat 13). Kita terpanggil menjadi garam.
Pada zaman purbakala, garam dipakai untuk mencegah daging menjadi busuk. Garam penting untuk menjaga kesegaran daging, sama pentingnya dengan lemari es pada masa kita sekarang. Bila karakter kita terus mewakili Yesus Kristus, maka kita memiliki pengaruh positif bagi lingkungan kita. Garam juga mengubah rasa makanan. Sebagai orang percaya, hidup kita seharusnya membuat perbedaan. Entah kita berpendidikan atau tidak, kaya atau miskin, pandai atau tidak pandai, kita tetap bisa memberikan dampak kepada orang lain.
Yesus juga berkata, “Kamu adalah terang dunia” (ayat 14). Yesus berkata kepada para pengikut-Nya bahwa mereka adalah terang dunia. Semakin tekun para murid-Nya menjalankan ajaran-Nya, semakin teranglah sinar mereka. Hari ini, seluruh dunia telah merasakan dampak kesetiaan beberapa orang ini yang kebanyakan dari mereka adalah nelayan yang tidak berpendidikan.
Pengaruh seperti apa yang Anda miliki? Apakah Anda menjadi garam dan terang di lingkungan masyarakat Anda? Atau, pengaruh dalam hidup Anda hilang karena dosa, kompromi dan cara hidup duniawi? Tindakan, karakter dan percakapan Anda akan membawa orang lain kepada sang Anak Allah, atau malah membawa mereka semakin jauh dari-Nya.
-Sentihan Hati-
| Matius 5:13-16 | |
| 5:13 | “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. |
| 5:14 | Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. |
| 5:15 | Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. |
| 5:16 | Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” |
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tags: daily reading, www.sentuhanhati.com
20 November 2011, Minggu
Saat Kristus mengajar para murid-Nya untuk berdoa, Ia memberitahu mereka untuk memanggil Allah sebagai ”Bapa kami”. Sebelumnya mereka mendengar Yesus berkata, “Bapa-Ku”, akan tetapi mereka pun sekarang memiliki hubungan kekeluargaan yang istimewa itu. Setiap kita yang telah dilahirkan kembali di dalam keluarga Allah memiliki hak yang sama.
Konsep kita tentang Allah terbentuk oleh bapa duniawi kita, oleh karena itu kita semua memiliki persepsi berbeda tentang Dia, namun Yesus adalah satu-satunya yang memiliki pemahaman akurat sempurna tentang Bapa surgawi. Renungkan beberapa cara bagaimana Ia begitu peduli dengan anak-anak-Nya:
Mengasihi: Kasih Allah tidak bersyarat, oleh karena kasih itu didasarkan pada sifat-Nya dan bukan kinerja kita (I Yohanes 4:16).
Mendengarkan: Ketika kita berdoa, Ia memberikan perhatian kepada kita sepenuhnya (Mazmur 55:17-18).
Menyediakan: Bapa bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan kita (Filipi 4:19).
Menuntun: Dialah yang menuntun langkah kita saat kita percaya kepada-Nya (Amsal 3:5-6).
Melindungi: Tuhan melindungi kita secara rohani, emosional, dan fisik, memilah setiap pengalaman melalui tangan-Nya yang berdaulat (Mazmur 121:1-8).
Menemani: Ia bukanlah orangtua yang tidak hadir dalam kehidupan kita, karena Ia tidak membiarkan ataupun meninggalkan kita (Ulangan 31:8).
Mendisiplinkan: Tuhan mendisiplinkan kita untuk kebaikan kita, supaya kita dapat beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibrani 12:5-11).
-Sentuhan Hati-
| Matius 6:8-13 | |
| 6:8 | Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. |
| 6:9 | Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, |
| 6:10 | datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. |
| 6:11 | Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya |
| 6:12 | dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; |
| 6:13 | dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) |