Da Words of My Jesus


The Berean: Siapakah Yesus?
November 5, 2009, 9:11 am
Filed under: Articles, The Bereans | Tags: ,

Siapakah Yesus?

diterjemahkan dari: http://dawords.wordpress.com/2009/11/05/the-berean-who-is-jesus/

Di dalam hati keKristenan, terpusat sebuah pertanyaan, “Siapakah Yesus Kristus sesungguhnya?” Pertanyaan ini mungkin masih terdengar menarik bagi sebagian orang, karena pertanyaan seperti ini masih berlaku setelah keKristenan beraktifitas hampir dua milenia.  Dan mungkin akan terlihat aneh bahwa penganut agama Kristen belum menemukan kesepakatan akan siapa sesungguhnya yang mendirikan agama mereka. Fakta ini akan bermakna besar kepada siapapun yang mengaku “Orang Kristen”, yang pada dasarnya berarti “pengikut Kristus.” Jika orang-orang Kristen dapat dengan penelitian mendalam menyatakan ketidak sepakatan mereka mengenai pribadi Yesus Kristus, dapatkah mereka sesungguhnya mengikuti Pribadi yang sama?

 
Subjek kali ini menjadi yang terpenting sejak pada umumnya keKristenan menyatakan mereka menyampaikan pesan tentang Yesus. Apa yang satu orang percaya mengenai Yesus, lalu orang tersebut akan menyampaikan pemahamannya akan agama Kristen yang dianutnya. Kita dapat melihat hasil dari proses pemahaman tiap-tiap orang ini pada kehadiran ribuan denominasi Kristen yang tersebar di penjuru dunia. Mereka semua mengaku sebagai orang Kristen, akan tetapi tiap denominasi memiliki penekanan masing-masing akan Yesus dalam pengajaran mereka. Contoh:

» Baptis

Denominasi ini menamai diri mereka seturut teladan Yesus saat dibaptis dan mereka secara turun temurun menekankan kepada aturan perilaku tertentu seperti: Tidak boleh minum minuman keras, tidak boleh bermain kartu, tidak boleh menari. Yesus bagi penganut aliran ini adalah seorang Guru besar yang mengajarkan nilai-nilai moral.

» Pentakosta

Mereka yang menganut aliran ini, menyebut diri mereka sebagai orang-orang yang menerima janji Yesus akan karunia Roh Kudus, yang mana digenapi saat perjamuan Pentakosta setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Penganut aliran ini dikenal dengan baik karena merindukan untuk mengekspresikan karunia-karunia Roh. Pada umumnya mereka mampu berbicara dalam bahasa Roh. Dengan kata lain, Yesus bagi mereka adalah Pembuat Mujizat.

» Advent Hari ke Tujuh

Denominasi ini mengambil nama mereka dari hari ke tujuh, yaitu hari Sabat. Yang mana Yesus sendiri dengan jelas tercatat memegang amanat ibadah Hari Sabat ini, sama seperti akan janji-Nya untuk datang kembali. Penganut aliran ini memposisikan Yesus di tempat yang lebih tinggi sebagai pembawa tempat peristirahatan yang akan datang dari Tuhan.

» Metodis

Penganut aliran ini disebut Metodis karena John Wesley menekankan pada terstrukturnya metode pendekatan akan pendalaman Alkitab dan cara hidup orang Kristen, John mengajarkan bahwa orang-orang percaya harus melatih “free will” yang mereka miliki untuk diarahkan untuk datang kepada Kristus (sebagai cara perlawanan yang benar-benar agar ditakdirkan untuk keselamatan). Dengan demikian, mereka mengangkat banyak perintah Yesus kepada jemaatnya untuk aktif terlibat dalam keselamatan pribadi masing-masing dan pertumbuhan keKristenan.

» Gereja Reform

Gereja Reform yang merupakan pengikut ajaran John Calvin, menggaris bawahi pentingnya penebusan melalui iman kepada Kristus. Denominasi ini merupakan gerakan perlawanan terhadap penyimpangan penerapan doktrin Gereja Katolik jaman kerajaan. Dalam pandangan mereka, Yesus dilihat sebagai Penebus yang agung.

Sebagian besar denominasi dapat dikenali – bahkan ada yg bilang dapat digambarkan – dengan mengenali konsep mereka akan pribadi Yesus itu sendiri. Yesus memang sosok pusat dari keKristenan; jadi cara seseorang memandang pribadi Kristus menentukan apa yang orang tersebut percayai dan agama yang dianut.

Kebingungan mengenai pribadi Yesus sesungguhnya telah dimulai ketika Ia masih hidup, bahkan hal ini terjadi di antara orang-orang yang telah mengenal-Nya seumur hidup-Nya selama mengambil rupa manusia:

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia (Matius 13:54-57a)

Sepertinya juga ada perdebatan secara umum di daerah Yudea akan siapa Yesus itu sesungguhnya:

  • Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” (Matius 16:13-14)
  • Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: “Siapakah orang ini?” Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.” (Matius 21:10-11)
  • Beberapa orang Yerusalem berkata: “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya.” (Yohanes 7:25-27)

Tentunya, musuh-musuh Yesus pun memiliki pertanyaan-pertanyaan akan diri-Nya yang sesungguhnya:

  • Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Lukas 5:21)
  • Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” (Lukas 7:49)
  • Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka. (Yohanes 9:16)

Akan tetapi, Matius 16:15-17 menunjukkan kepada kita titik awal yang terbaik untuk mengenal diriNya dan dikonfirmasikan oleh Kristus sendiri ketika Ia menjawab pertanyaan, “Siapakah Yesus?”

Lalu Yesus bertanya kepada mereka [murid-murid-Nya]: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”  Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Jawaban yang dinyatakan oleh Bapa adalah Yesus adalah Mesias yang telah dijanjikan, yang secara hurufiah merupakan Anak dari Penguasa Agung alam semesta. Tentunya, Dia lebih berkuasa daripada ini, tadi dua fakta ini merupakan adalah dasar kita berpijak kepada pemahaman yang lebih rohani akan keagungan sang Pencipta. Mereka memberikan dasar dari hubungan-Nya dengan kita dan masa depan kita, sebagaimana pula hubungannya dengan sifat ilahi, membuat Yesus sebagai jembatan antara manusia dan Tuhan. Dengan dasar ini, barulah kita dapat memulai pertimbangan yang lebih mendalam akan Yesus secara alkitabiah.

Diterjemahkan dari: The Berean



The Berean: Who is Jesus?
November 5, 2009, 7:32 am
Filed under: Articles, The Bereans | Tags: ,

Who is Jesus?

At the heart of Christianity is a central question, “Just who is Jesus Christ?” It may be astounding to some that such a question is still relevant after nearly two millennia of Christian activity, but as strange as it may seem, even Christians do not agree about the nature of the founder of their religion. This fact says a great deal about those who profess to be “Christian,” which at its most basic means “follower of Christ.” If Christians display such profound disagreement about Jesus Christ Himself, can they all really be following the same Person?
This subject becomes all the more important since, in its most common form, Christianity is proclaimed as a message about Jesus. What a person believes about Jesus, then, informs his understanding of the religion itself. We can see the result of this process in the thousands of Christian denominations in all parts of the world. While they all proclaim to be Christian, the individual sects emphasize different aspects of Jesus in their teaching. For instance:
» Baptists name themselves after Jesus’ practice of baptizing converts, and they traditionally stress conformity to certain behavioral rules: no drinking, no card playing, no dancing. Jesus, to them, is a great moral Teacher.

» Pentecostals, on the other hand, call themselves after Jesus’ promise of the gift of the Holy Spirit, which was fulfilled on the Feast of Pentecost after Jesus’ death and resurrection. They are known for their great desire to express the gifts of the Spirit, particularly being able to speak in tongues. In other words, their Jesus is a Miracle Worker.

» Seventh-day Adventists take their name from the seventh-day Sabbath, which Jesus is plainly shown to have kept, as well as from His promise to come again. They promote Jesus as the bringer of the soon-coming rest of God.

» Methodists are so called because John Wesley emphasized a structured, methodical approach to Bible study and Christian living, teaching that believers must exercise their free will to come to Christ (as opposed to being absolutely predestined to salvation). Thus, they highlight Jesus’ many commands for the individual to be actively involved in his own salvation and Christian growth.

» The Reformed Churches, descendants of the teaching of John Calvin, underscore the necessity of grace through faith in Christ, a reaction to abuses of the medieval Catholic Church’s doctrine of works. In this way, they see Jesus as a gracious Redeemer.

Most denominations can be characterized—some would say caricatured—by identifying their concepts of Jesus Himself. He is Christianity’s central figure, so how one views Christ determines what one believes and the religion he follows.

This confusion about Him actually began during His own life—even among those who had known Him all His life:

When He had come to His own country, He taught them in their synagogue, so that they were astonished and said, “Where did this Man get this wisdom and these mighty works? Is this not the carpenter’s son? Is not His mother called Mary? And His brothers James, Joses, Simon, and Judas? And His sisters, are they not all with us? Where then did this Man get all these things?” So they were offended at Him. (Matthew 13:54-57)

It seems that there was general disagreement in Judea over just who He was:

» When Jesus came into the region of Caesarea Philippi, He asked His disciples, saying, “Who do men say that I, the Son of Man, am?” So they said, “Some say John the Baptist, some Elijah, and others Jeremiah or one of the prophets.” (Matthew 16:13-14)
» And when He had come into Jerusalem, all the city was moved, saying, “Who is this?” So the multitudes said, “This is Jesus, the prophet from Nazareth of Galilee.” (Matthew 21:10-11)
» Now some of them from Jerusalem said, “Is this not He whom they seek to kill? But look! He speaks boldly, and they say nothing to Him. Do the rulers know indeed that this is truly the Christ? However, we know where this Man is from; but when the Christ comes, no one knows where He is from.” (John 7:25-27)

Of course, His enemies had questions about Him too:
» And the scribes and the Pharisees began to reason, saying, “Who is this who speaks blasphemies? Who can forgive sins but God alone?” (Luke 5:21)
» And those who sat at the table with Him began to say to themselves, “Who is this who even forgives sins?” (Luke 7:49)
» Therefore some of the Pharisees said, “This Man is not from God, because He does not keep the Sabbath.” Others said, “How can a man who is a sinner do such signs?” And there was a division among them. (John 9:16)

However, Matthew 16:15-17 provides us with the best starting point, confirmed by Christ Himself, in answering the question, “Who is Jesus?”
He said to [His disciples], “But who do you say that I am?” Simon Peter answered and said, “You are the Christ, the Son of the living God.” Jesus answered and said to him, “Blessed are you, Simon Bar-Jonah, for flesh and blood has not revealed this to you, but My Father who is in heaven.”

The God-revealed answer is that Jesus is the promised Messiah, the literal Son of the Supreme Being of all the universe. Of course, He is a great deal more than this, but these two facts are the most foundational to our spiritual understanding of this wonderful Being. They give us the basis of His relationship to us and our future, as well as His relationship to Deity, fixing Him as the bridge between man and God. From this foundation, we can begin a deeper consideration of the biblical Jesus.

From: The Berean



05.08.2009 | Christine’s Dew – Mazmur 119:105
August 5, 2009, 9:55 am
Filed under: Christine's Dew, Moment of Peace | Tags: ,

Pesan dari Christine, rekan pelayanan saya bagi kita semua hari ini;

“Banyak orang tersesat dalam kehidupannya, sementara mereka memegang kompas.
Firman Tuhan adalah kompas yang akan menunjukkan arah kehidupan Anda”

Mazmur 119:105
119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Selamat pagi, teman-teman sekalian.

Hari ini kita menerima satu ayat yang sudah biasa terdengar bagi telinga kita. Apalagi bagi yang sudah menjadi orang Kristen tahunan lamanya. Kita tahu bahwa Firman Tuhan adalah penerang jalan bagi kehidupan kita, kita tahu dan sadar tanpa firman hidup kita menjadi gelap dan mudah tersesat, lalu akhirnya terperangkap dalam dosa.

Inilah yang hendak rekan saya Christine ingatkan kepada kita semua, banyak orang Kristen tersesat di jalan kehidupannya — padahal mereka sudah memegang firman itu, padahal mereka sudah rajin beribadah, mereka ikut persekutuan doa, kelas pendalaman Alkitab. Akan tetapi mengapa hidup keseharian mereka masih berlumurkan dosa?

Marilah mulai hari ini kita teliti lagi motivasi kita melakukan itu semua. Jangan lagi kita datang karena kita sudah biasa datang ibadah. Jangan lagi kita datang bersekutu karena perasaan ga enak dengan salah satu anggota persekutuan. Jangan lagi datang dengan alasan lain selain mencari kebenaran Firman Tuhan itu.

Dan jika alasan dan motivasi kita untuk bersekutu sudah tepat, akan tetapi jalan keluar itu belum terlihat. Sekarang adalah saatnya teman-teman sekalian memeriksa hamba Tuhan yang menyampaikan Firman di tempat kita semua beribadah. Jika Firman itu tidak mampu untuk bertahan dalam hati dan pikiran Anda hingga Firman itu mampu membuat Anda membicarakan Firman itu dengan orang-orang yang dekat dengan Anda; Jika Firman itu tidak mampu menegur Anda dan membuat Anda bertumbuh dalam iman kepada Yesus; Jika Firman yang ditabur tidak mampu menguatkan dan memberikan jawaban bagi teman-teman sekalian; Jika Firman itu tidak mampu membuat hati anda terbakar saat mendengarkannya dan jika tidak pernah terjadi mujizat pernyataan kuasa Tuhan di tempat teman-teman beribadah — Saran saya, sebaiknya cari gereja lain untuk beribadah sekarang juga.

Karena Firman yang sejati, pasti akan diikuti oleh pernyataan kuasa Tuhan dan tidak berhenti sampai pada hamba Tuhan saja untuk menyatakan mujizat; jemaatpun juga akan menerima kuasa Roh karena mendengarkan Firman yang benar, yang ditabur melalui hamba Tuhan yang hidupnya dekat dengan Allah.

Saya pribadi mengalaminya, mujizat demi mujizat saya saksikan – pertolongan Tuhan saya rasakan hari demi hari dan saya bukanlah seorang hamba Tuhan. Saya hanyalah seorang jemaat, akan tetapi karena saya menerima Firman yang benar melalui hamba Tuhan yang sudah teruji dan Firman itu saya pegang sebagai dasar pedoman dan rambu bagi kehidupan saya, maka saya juga diberikan kuasa Roh itu sesuai dengan kebutuhan kondisi saat itu. Entah itu mendoakan yang sakit, mendoakan yang kerasukan, diberikan kemampuan untuk bersaksi dan mengabarkan injil, bentuknya bisa bermacam-macam tergantung Tuhan mau memberikan yang mana.

Intinya yang terpenting adalah Firman itu memberikan saya pengharapan untuk menghadapi hari esok, Firman itu menuntun saya seperti sebuah kompas melalui hari-hari saya, dan Firman itu akan terus menuntun bagi orang-orang yang terus mencari kebenaran-Nya sampai Tuhan datang menjemput gereja-Nya.

Tuhan memberkati kita semua

RF



Kisah Seekor Anak Anjing
July 14, 2009, 1:03 pm
Filed under: Illustration | Tags: ,

Sebuah toko hewan peliharaan (pet shop) memasang papan iklan yang menarik bagi anak-anak kecil, “dijual anak anjing”. Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya “Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?”

Pemilik toko itu menjawab, “Harganya berkisar antara 30 – 50 Dollar.”

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, “Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?”

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya.

Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang.

Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu.
Tanyanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?”

Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing yang cacat itu.”

Pemilik toko itu menjawab, “Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu.”

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu.”

Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaimana anak anjing lainnya.”

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya.
Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat.
Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya. “

Kini  pemilik  toko  itu  menggigit  bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya.
Ia  tersenyum  dan  berkata,  ”Aku  akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”

Bahkan mereka yang cacat pun mempunyai nilai yang sama dengan mereka yang
normal…… ………

Dan sesungguhnya, seperti nyawamu pada hari ini berharga di mataku, demikianlah hendaknya nyawaku berharga di mata TUHAN, dan hendaknya Ia melepaskan aku dari segala kesusahan. (I Samuel 26:24)



Talenta | Matius 25:14-30 (Matthew 25:14-30)
March 5, 2009, 12:25 pm
Filed under: Articles | Tags:

TALENTA

(Mat 25:14-30)

Tentunya, kita sudah sering mendengar tentang perikop ini. Dimana ada seorang tuan yang hendak melakukan perjalanan dan selama tuan ini pergi, tuan ini menitipkan talenta kepada tiga orang pelayannya. Kita juga sudah tahu hasil dari tiga orang pelayan ini. Mari kita coba mengingat lagi perikop ini.

Matius 25:14

“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

Dalam catatan di Alkitab – ayat ini atau perumpamaan dalam perikop ini serupa dengan

Lukas 19:12

Maka Ia berkata: “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.

Dalam versi NIV – Perikop Luke 19:12 diawali oleh ayat 11 yang berbunyi

11 As they heard these things, he proceeded to tell a parable, because he was near to Jerusalem, and because they supposed that the kingdom of God was to appear immediately.

Perumpaan ini disampaikan oleh Yesus sendiri dalam perjalanannya dari kota Yerikho menuju Yerusalem. Yerikho adalah perlambangan dunia ini dan kalau membaca Lukas 19:1 – Yesus hanya berjalan melalui kota Yerikho.

Jadi Yesus datang ke dunia dan setelah selesai di dunia – Yesus kembali ke takhta-Nya di Surga mulia. Bukti bahwa Yesus berkarya selama di dalam dunia diwakili oleh pertemuan Yesus dengan Zakheus (Lukas 19:1-10; Matius 20:29-34; Markus 10:46-52) dan saat Yesus keluar dari kota Yerikho dengan diikuti orang banyak; Yesus menyatakan kuasa-Nya atas Bartimeus anak Timeus yang buta (Markus 10:46-52)

Dari pertemuan dengan Zakheus – Tuhan Yesus hendak mengajar kita untuk tidak bergantung kepada harta kita (dapat berupa kekayaan, kekuasaan, pangkat, kepintaran, dll dari dunia) dan setelah melepaskan itu semua, hendaklah kita bertobat. Dari pertobatan Zakheus itu, ia berhak mendapatkan bagian dari kerajaan Surga – Zakheus telah beroleh keselamatan.

Dari pertemuan dengan Bartimeus anak Timeus, Tuhan Yesus hendak mengajarkan kita untuk mencari Yesus dan beriman dalam nama-Nya agar kita tidak selamanya buta Rohani. Jangan sampai kita tahunan beribadah di gereja, tapi kita tidak tahu dimana dan kemana arah jalan yang Yesus tempuh.

Kembali ke topik mengenai “Talenta”

Dalam Lukas 19:11 menandakan bahwa kerajaan Allah sudah dekat dan dari Matius 25:14 serta Lukas 19:12 melambangkan Yesus yang telah kembali ke Surga, duduk di takhta-Nya yang mulia dan Yesus akan kembali lagi ke dunia ini untuk menjemput kita pelayan-Nya dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja.

Sementara Ia berada di surga – Ia mempercayakan harta-Nya kepada kita pelayan-Nya. Perlu diperhatikan bahwa kita dapat menjadi pelayan-Nya karena kita telah dibeli, karena sebelumnya kita adalah budak dosa dan Yesus telah membeli / menebus kita dengan darah-Nya.

Setelah kita menjadi pelayan-Nya – barulah kita diberikan talenta oleh Allah. Jadi talenta ini tidak dapat dimiliki bagi orang-orang yang belum bertobat dan menerima keselamatan yang telah disediakan Tuhan Yesus bagi manusia. Dan langkah pertama untuk menerima keselamatan itu adalah untuk bertobat dan dengan dibaptis selam dalam air, sama seperti Yesus diselam di dalam air. Pada kenyataannya – Yesus sebenarnya tidak perlu diselam karena Ia tidak berdosa, tapi karena kehadiran-Nya adalah sebagai teladan bagi kita – sudah seharusnya kita mengikuti cara Yesus dibaptis.

Matius 25:15

Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Hari-hari yang kita jalani ini adalah hari-hari yang sama seperti para pelayan yang dititipkan talenta-talenta itu. Di antara kita ada yang memiliki karunia untuk mendoakan, ada yang mampu berbahasa Roh, ada yang mampu untuk menguatkan saudara seiman, ada yang mampu membuat renungan dan masih banyak macam-macam karunia Roh – besar dan kecil di mata manusia; tapi semua karunia Roh itu penting keberadaan-nya di mata Tuhan kita (Baca 1 Korintus 12).

Pertanyaan: Mengapa ada pelayan yang diberikan banyak dan pelayan lain diberikan sedikit?

“Masing-masing menurut kesanggupannya” dalam versi NIV dituliskan “each according to his ability.”

Talenta yang kita miliki saat ini adalah berdasarkan kemampuan kita. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang tahu akan kemampuan / skill / keahlian kita dalam menjalankan perintah-Nya dalam menggunakan talenta yang telah dititipkan kepada kita.

Oleh karena itu jangan kecil hati kalau hanya mampu menjadi jemaat – karena kita tidak pernah tahu bahwa dengan menjadi jemaat saja kita dapat menjadi pelayan Tuhan.

Caranya?

Dengan menjadi jemaat yang setia dalam setiap persekutuan, dalam persekutuan itu kita menyimak dengan seksama saat firman Tuhan ditabur oleh hamba Tuhan. Dan firman itu setelah kita dengar, lalu camkanlah firman itu dalam hati kita. Setelah itu, haruslah kita terapkan ke dalam kehidupan kita sehari-hari dan jangan waktu di gereja saja atau di hadapan orang-orang yang kita segani.

Setelah itu – sudah pasti firman yang diterapkan itu akan berbuah dan saat kita berbuah (buah Roh baca Gal 5:22-23), pastilah orang-orang di sekitar kita akan tahu bahwa kita adalah orang Kristen yang telah berkemenangan, orang Kristen yang telah peroleh keselamatan – Mereka akan tahu tanpa perlu pasang salib besar-besar di rumah, di kalung, di aksesoris dan pakaian kita. Pada saat itulah secara otomatis mereka akan tertarik untuk mengetahui sumber dari buah Roh itu. Karena semua orang di dunia ini mencari kasih, sukacita, damai sejahtera dan buah Roh lainnya dalam hidup mereka. Tetapi selama ini mereka tidak tahu sumbernya atau mereka mencari ke tempat yang salah dan mereka semakin tersesat oleh perangkap iblis.

Di saat itulah kita membawa mereka ke tempat kita beribadah, memperkenalkan Yesus sebagai sumber dari buah Roh yang kita hasilkan – kita mendampingi mereka sampai mereka menerima baptisan (jika belum dibaptis) dan menjadi penuntun mereka yang iman-nya belum sedewasa kita. Saat itulah kita telah menggunakan talenta kita dan mendapatkan hasil dari talenta itu.

Matius 25:19

Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

Harinya akan tiba bagi kita semua yang telah ditebus oleh-Nya. Hari Perhitungan, hari dimana Tuhan ingin tahu pertanggung jawaban kita atas talenta yang telah Dia berikan atas kita. Percayalah, hari itu akan tiba dan hanya Tuhan Allah kita saja yang tahu kapan hari itu akan datang (baca Wahyu 16:15).

Matius 25:20-23

20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Jika kita telah menggunakan talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita dan kita telah beroleh hasil dari talenta tersebut. Tuhan berkata “engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” artinya jika sebelumnya kita hanya menjadi jemaat yang setia dan telah berperan serta turut memikul tanggung jawab dalam memberitakan injil Yesus melalui perbuatan kita sehari-hari – Tuhan akan memberitakan talenta yang lain kepada kita. Ia akan memberikan tugas pelayanan yang lebih berat lagi kepada kita.

Dan hendaknya kita bersyukur saat kita diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar karena upah kita besar di surga (baca Matius 5:3-12) dan itulah arti dari “Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” – yaitu untuk masuk ke dalam kerajaan surga, untuk merasakan sukacita Allah Bapa saat bertemu kembali dengan kita, anak-anakNya (baca Matius 18:14).

Lalu tentu kita tahu nasib dari hamba yang menyembunyikan talentanya ke dalam tanah dan tidak menghasilkan apapun.

Matius 25:29-30

29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Belum lama saya mendengar kejadian dari hamba Tuhan tempat saya beribadah. Beliau sharing bahwa ada seorang ex jemaat gereja, orang itu kaya raya dan berusaha mengatur hamba Tuhan, serta gereja dan ex jemaat itu pernah berkata dengan kekayaannya dia tidak perlu Tuhan. Setelah kejadian itu, dalam tempo enam bulan hartanya ludes – dari memiliki lima rumah, sekarang ex jemaat itu harus tinggal dalam sebuah rumah kontrakan bersama empat keluarga yang juga saudaranya.

Itulah bukti nyata dari ayat 29 – jikalau kita diberikan talenta misalnya harta kekayaan, hendaklah harta itu dipergunakan untuk membiayai pekerjaan Tuhan. Agar melalui pekerjaan Tuhan yang kita dukung dapat meraih jiwa-jiwa baru. Toh harta itu bukan milik kita saat kita lahir ke dunia dan harta itu juga tidak akan kita bawa saat kita dikubur. Dan tentunya kita tahu, harta yang dimiliki sekarang – semuanya adalah pemberian Tuhan.

Lalu ayat 30 – selain kita akan kehilangan segalanya yang kita banggakan di bumi ini (harta, kekuasaan, kepintaran, dll); ada hukuman menanti bagi hamba yang tidak berguna di mata Tuhan.

Apakah kita sanggup menjalani hukuman itu?

Mari kita baca Matius 18:23-27

23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Bagian ini serupa dengan perumpamaan mengenai talenta (Matius 25:14-30) – tapi ada yang berbeda dari perumpamaan ini yaitu Sang Raja memberikan pengampunan atas belas kasihan kepada hambanya.

Raja itu adalah Bapa di Surga dan oleh belas kasih-Nya atas kita – Ia memberikan pengampunan. Hutang adalah lambang dari dosa kita dan oleh darah Yesus – kita telah dibebaskan dari belenggu dosa dan dosa kita di masa lalu telah Ia hapuskan tanpa memandang seberapa besar dosa kita itu (hutang sepuluh ribu talenta)

Sekarang, maukah engkau sujud di hadapan Raja yang maha kuasa?

Sudahkah engkau bersyukur atas penebusan yang telah diberikan atasmu?

Sudahkah engkau mulai menggunakan talenta itu bagi kerajaan Surga?

Lakukanlah sekarang, sebelum semuanya itu terlambat karena setiap detik hidupmu lebih baik / lebih berarti menjadi detik-detik melayani pekerjaan Tuhan.

Tuhan memberkati

RF

Wrote on: 2008.12.29




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.