Apakah Kita Siap Untuk Berubah?
by Bill Onisick
translated by Roy Fadly
Forerunner, November-December 2008
Akhir-akhir ini kita telah mendengar banyak hal tentang perubahan. Politisi berpidato kepada bangsa bahwa negara membutuhkan perubahan kepemimpinan, perubahan ide dan cara pikir, dan perubahan dalam cara pandang ke masa depan. Dan kita tidak membutuhkan perubahan yang semata-mata hanya untuk berubah, akan tetapi yang kita perlukan adalah “perubahan yang kita percayai”. Sementara para politisi demi mendapatkan suara pemilih, mereka membuat janji akan membuat langit menjadi biru dan dihiasi pelangi; pada kenyataannya, tidak banyak perubahan yang terjadi. Seperti pepatah berkata, “Semakin banyak hal yang berubah, semakin banyak yang tetap sama.”
Dalam Efesus 4:22-24, Rasul Paulus menulist surat kepada gereja yang ia anggap Kristen yang sesungguhnya:
| Efesus 4:22-24 | |
| 4:22 | yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, |
| 4:23 | supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, |
| 4:24 | dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. |
Paulus berkata kepada kita bahwa orang-orang Kristen harus berubah – akan tetapi perubahan yang ia sarankan bukanlah perubahan biasa. Syarat perubahan itu ia nyatakan dalam, “Menanggalkan… manusia lama…, dan…. mengenakan manusia baru.” Perubahan yang disampaikan Paulus adalah perubahan sepenuhnya dari hati kita, sebuah perubahan dari diri yang korup menuju ke dalam kesucian.
Perubahan ini dampaknya begitu besar, kita seakan-akan secara total diperbarui atau dengan kata lain menjadi seorang yang baru sepenuhnya. Kita memiliki sifat baru, harapan baru, kebiasaan-kebiasaan baru dan perilaku baru. Rasul Paulus kemudian menjelaskan lebih lagi bahwa tujuan perubahan yang radikal ini untuk dibentuk menjadi serupa dengan sifat dan karakter Allah yang merupakan kebenaran dan suci. Perubahan ini adalah tujuan dasar dari Allah: menciptkan putra dan putri dari rupa Allah.
| Kejadian 1:26 | |
| 1:26 | Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” |
Perubahan mengakibatkan perbedaan. Dalam bentuknya yang paling sederhana, sebuah perubahan dapat dikategorikan kedalam salah satu dari empat kategori berikut:
1. Kita dapat memulai melakukan sesuatu yang sudah seharusnya kita lakukan, misalnya berpuasa atau pelayanan.
2. Kita dapat berbuat lebih lagi dari perbuatan yang sudah kita lakukan, yang untuk saat ini masih kurang dari cukup. Contoh, Pendalaman Alkitab atau berdoa.
3. Kita mampu berhenti melakukan perbuatan yang tidak seharusnya kita lakukan, contoh, gosip atau mencuri perlengkapan stationery kantor.
4. Kita dapat mengurangi perbuatan kita yang baik untuk dilakukan akan tetapi tidak baik kalau berlebihan. Mungkin ini adalah sesuatu yang kita lakukan berlebihan, sesuatu seperti menonton televisi.
Perubahan Yang Terbesar
Dengan latar belakang yang telah kita baca, marilah kita sekarang untuk sesaat membayangkan kita dapat mendengar pikiran Allah, dan saat ini Allah sedang melihat kita pribadi tiap pribadi satu per satu dan mengevaluasi hati kita, persis seperti yang sudah Tuhan firmankan. Kita mendengar Allah berkata kepada kita, ” Aku sungguh mengasihi kamu, dan Aku ingin kamu dalam keluarga-Ku. Akan tetapi, sebelum kamu dapat bergabung dengan Keluarga-Ku, kamu harus berubah dahulu dan perubahan terbesar yang harus kamu lakukan adalah….”
Sekarang kita perlu mengisi titik dalam kalimat di atas dengan menggunakan kemungkinan dari empat kategori perubahan yang telah kita baca, melakukan lebih, berhenti melakukan, atau mengurangi melakukan — dan tahan dulu pikiran-pikiran itu sejenak. Selagi begitu banyak yang harus kita ubah, kita harus fokus terlebih dahulu kepada perubahan nomor satu, fokus kepada perubahan yang prioritasnya paling tinggi untuk kita lakukan.Renungkanlah selama satu menit apa yang akan terjadi di masa depan jikalau kita berhasil sepenuhnya berubah, renungkanlah hal-hal apa saja yang akan berbeda.
Tentunya kita tidak dapat memperkirakan apa yang Tuhan pikirkan, sudah pasti kita juga tau bahwa manusia yang paling bijakpun adalah seorang yang bodoh ketika dibandingkan dengan kebijakan Allah
| 1 Korintus 1:25 | |
| 1:25 | Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. |
Sebenarnya, perubahan yang kita pikirkan bukanlah hal yang baru bagi kita. Kita semua perlu untuk berubah, dan kita sadar berapa banyak yang harus kita ubah. Misalnya dalam berbagai kesempatan kita telah mencoba melakukan suatu perubahan, entah kenapa – sampai saat ini kita masih belum saja berhasil.
Mengapa? Mengapa untuk berubah itu begitu sulit?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memutar balik waktu. Sejak kita dilahirkan, semua pengalaman yang kita lalu telah membentuk hati dan pikiran kita. Secara bertahap melalui pengalaman pribadi di masa lalu kita, terbentuklah kepribadian dan kebiasaan-kebiasaan kita yang tertanam dalam diri kita. Tidak seorangpun dari kita mengalami hal yang sama dalam hidupnya, dan dalam berperilaku kita semua kurang lebih dapat dikatakan unik antara satu dengan yang lain. Inilah sebabnya mengapa begitu sulit untuk mengenal seseorang jikalau kita tidak mengetahui sejarah hidupnya: dimana dia dibesarkan, seperti apakah masa kanak-kanaknya, dimanakah dia bersekolah, seberapa seringkah dia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, apakah pekerjaan orang tuanya dan seterusnya.
Dalam proses kehidupan inilah orang-orang dibentuk dan mengembangkan pola perilaku dan kebiasaannya. Begitu seringnya pola perilaku ini dijalani dalam kehidupan, hingga menjadi suatu tindakan yang dilakukan tanpa sadar. Pola-pola menjadi tertanam dalam diri mereka begitu kuatnya dan oleh karena itu menjadi sulit untuk dipatahkan. Kita dapat berpikir mereka seperti ban karet setelah 5 inci. Kita bisa merenggangkannya, dipelintir atau diperas, akan tetapi segera setelah kita lepaskan – karet itu akan kembali ke wujudnya semula. Semakin kita reggangkan pola perilaku ini, semakin kita menjadi tidak nyaman dan di saat bersamaan kita dapat merasakan munculnya perlawanan yang semakin banyak.
Di sinilah letak sulitnya perubahan. Seringkali kita berpikir bahwa kita ingin berubah, tapi apa yang terjadi di dalam diri kita? Sifat manusia yang kita miliki, kedagingan kita menyarankan kita untuk bertahan. Inilah perlawanan yang terjadi di dalam diri kita terhadap perubahan. Seperti sebuah per yang diregangkan, per itu akan berusaha untuk ke wujudnya yang semula – dengan kata lain, kita berusaha kembali menjadi manusia yang lama. Sungguh adalah sifat kedagingan kitalah yang terus melawan, menghambat kita mengenakan manusia yang baru yang tertulis dalam Efesus 4. Akal pikiran dari kedagingan kita telah menciptakan sebuah kecenderungan untuk memeluk pilihan lain ketimbang memilih untuk berubah menjadi sesuatu yang nyaman bagi kita.
Dalam Roma 7:15, Paulus menyatakan pergumulannya dengan perubahan:
| Roma 7:15 | |
| 7:15 | Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. |
Meskipun kita sudah tahu bahwa kita harus membuangnya jauh-jauh sejak lama, hal-hal yang kita benci adalah kebiasaan atau sikap yang melawan perubahan tetap dilakukan.
Kekuatan dari kebiasaan dan sikap yang disimpan lama dapat menjadi kekuatan yang melampaui kemampuan kita. Sementara kita berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan cara-cara baru dalam perbuatan kita, di sisi lain kecenderungan kita yang sudah terbentuk secara otomatis berkerja di belakang layar untuk menggagalkan usaha kita. Kecenderungan ini terus menerus berkerja melawan kita, menghentikan langkah kita dengan menciptakan dan memberikan dorongan emosional yang membuat kita bersikap seperti biasa, dengan cara-cara yang tidak kita harapkan.
Cara untuk keluar dari perangkap ini adalah melalui jalan yang sama kita terjebak ke dalamnya, dan proses untuk untuk keluar ini harus dilakukan secara bertahap. Kita harus dengan sadar melatih ulang pikiran kita dan mengembangkan kebiasaan baru, perilaku yang baru.
Tapi, bagaimanakah caranya?
Membuat Perubahan Itu Nyata
Sebelum kita dapat memulai perjalanan kita membuat perubahan yang berhasil, kita terlebih dahulu harus mengenali dan menyatakan apa saja yang harus dirubah. Supaya kita dapat mengenali apa saja yang harus kita rubah, kita harus ikut cara Paulus yang dikatakan kepada kita dalam Efesus 4, yaitu kita harus mengevaluasi diri kita terhadap kebenaran Allah dan kekudusan yang sesungguhnya.
Lalu, jangan berhenti sampai di situ saja. Selanjutnya kita harus menuliskannya dan kita harus mengelompokkan hal-hal yang harus dirubah ke dalam empat kategori yang telah di tulis di atas: Memulai berbuat, Berbuat lebih lagi, Berhenti berbuat dan Mengurangi perbuatan.
Kita juga harus mengerti dan sepenuhnya mengimani sebab-sebab mengapa kita harus berubah. Kita perlu memandang ke depan hidup seperti apakah – seperti apakah kita – ketika kita sudah melakukan perubahan. Apakah perbedaan-perbedaan yang dihasilkan yang dapat kita sadari dalam diri kita dan di dalam hubungan kita kepada pasangan kita, keluarga kita, rekan kerja dan sahabat kita?
Hambatan terbesar dalam berubah adalah kurangnya motivasi atau keyakinan untuk memulai proses perubahan. Akan tetapi, bagi orang Kristen yang di dalam Bait Allah, kita memiliki motivasi yang luar biasa – kita memiliki masa depan yang cerah dengan menjadi Anak Allah sebagai ahli waris kerajaan Surga. Contoh, Paulus menulis di dalam
| Roma 8:18 | |
| 8:18 | Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. |
Lihat juga
| 1 Yohanes 3:1-2 | |
| 3:1 | Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. |
| 3:2 | Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. |
Sadarkah teman-teman sekalian, kita memiliki potensi akan masa depan yang begitu mengagumkan!
Jadi, atribut pertama yang harus kita kenakan adalah kesiapan untuk berubah. Kita harus selalu siap untuk berubah, dan kita harus minta kepada Tuhan untuk menolong kita mengenali perubahan-perubahan yang harus kita perbuat. Jika kita memiliki kerelaan untuk menjadi lebih baik, memahami perubahan yang perlu kita lakukan dan menggaris bawahi sebab-sebab mengapa kita perlu berubah, maka kita akan memiliki langkah awal yang kuat menuju perubahan yang nyata.
Akan tetapi, ketika berbicara perubahan munculah sifat manusia yaitu ketidak sabaran. Perubahan itu tidaklah nyaman, dan menurut hasil penelitian dinyatakan bahwa dibutuhkan rata-rata 21 hari untuk membuat atau merubah kebiasaan. Pikiran manusia menginginkan perubahan yang instan, tapi kita juga harus ingat bahwa berubah itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Tidak ada jalan pintas menuju perubahan yang berhasil.
Sebenarnya, Tuhan telah menciptakan waktu bagi kebaikan kita. Dia tidak terikat oleh batas waktu dan dengan kecepatan dari pikiran Tuhan, Dia pasti mampu merubah kita secara instan. Akan tetapi, dalam kebijakan-Nya – Pencipta kita Yang Agung mengetahui bahwa semua perubahan yang bersifat instan akan menjadi terlalu mudah bagi kita dan perubahan itu mungkin saja tidak bertahan. Oleh karena itu, Dia tidak ingin mengambil resiko ini.
Perubahan seiring waktu dari persamaan ini sangatlah penting. Dibutuhkan waktu untuk dapat mampu mengatasi kelemahan kita dan untuk mengenakan manusia yang baru. Jika kita menyadari bawah perubahan ini membutuhkan waktu, oleh karena itu kita harus tetap berada di jalur perubahan. Perhatikan dukungan dari Paulus dalam
| 2 Korintus 4:16-18 | |
| 4:16 | Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. |
| 4:17 | Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. |
| 4:18 | Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. |
Kita harus untuk tetap fokus pada kebutuhan kita untuk berubah. Kita akan memerlukan ketekunan dan komitmen, bukan hanya untuk berubah, tapi untuk menyelesaikan perubahan itu – bertekun dan berkomitment melalui berbagai macam cara untuk menjalani proses menuju perubahan itu sampai akhir. Mungkin di permukaan, secara fisik kita menjadi manusia yang lemah, di dalam hati kita menjadi manusia rohani yang diperbarui. Setiap pencobaan, setiap kesulitan dalam perubahan kita, meski terasa berat, akan menghasilkan sesuatu yang jauh dari bayangan kita dan sukacita dan kemuliaan yang kekal.
Atribut terakhir dan yang terpenting yang harus kita kenakan untuk mencapai perubahan yang sukses adalah menjaga iman di dalam Allah Bapa dan Yesus Kristus. Perubahan bisa terjadi hanya melalui mereka dan oleh karena mereka. Pikiran kedagingan kita memberikan perlawanan yang terbesar dalam perubahan rohani dan oleh karena itu kita tidak mampu berjalan sendirian.
Perubahan yang berhasil membutuhkan Penolong kita, yaitu Roh Kudus dari Allah (Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7). Kita harus meminta pertolongan Tuhan, kekuatan-Nya, untuk menjaga hati dan pikiran kita untuk tetap fokus terhadap perubahan yang positif, meskipun kita sedang di tengah-tengah pencobaan. Rasul Paulus menyatakan dalam
| Filipi 4:13 | |
| 4:13 | Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. |
Kita juga mampu seperti Rasul Paulus. Kebutuhan kita untuk berubah dan kebutuhan kita akan kekuatan dan tuntunan untuk berubah harus menjadi bagian dari doa harian kita. Melalui hubungan terus menerus dengan Tuhan (yang mengendalikan yang diperlukan dalam perubahan rohani) kita akan mampu menjaga iman kita di dalam Dia.
Panggilan untuk Berubah
Dalam Efesus 4:22-24, Paulus mengajar kita untuk berubah: untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Kita harus merubah hati kita. Kita harus mengembangkan sifat baru, harapan baru dan perilaku yang sesuai dengan rupa Allah yang kudus.
Allah menciptakan kita menurut rupa-Nya dan dalam proses perubahan sampai selesai ini sangatlah sulit dan tidak nyaman bagi pikiran daging kita. Jika kita terus berjalan tanpa perubahan, efeknya dan sudah pasti adalah kegagalan! Tuhan telah memberikan kita motivasi yang luar biasa, di dalam kepastian masa depan menjadi ahli waris-Nya dan bergabung dalam warisan itu dengan Kristus. Sungguh sebuah tujuan yang tidak terbayangkan!
Sebelum kita dapat memulai perubahan, kita harus mengenali kebutuhan kita untuk berubah melalui mengevaluasi diri sendiri. Kita harus minta kepada Tuhan untuk pertolongan-Nya mengenali hal-hal yang harus kita ubah. Apapun cara perubahannya (Mulai, Berbuat lebih, Berhenti, Mengurangi) kita harus menuliskannya dan tulis juga sebab mengapa kita perlu untuk berubah. Kita harus dengan jelas memandang ke depan perbedaan yang akan terjadi ketika perubahan telah terjadi.
Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam, dan kita harus bertahan dan berkomitmen untuk tetap fokus pada kebutuhan kita untuk berubah (kebutuhan kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru) karena kedagingan kita dengan teguh melawan perubahan rohani. Untuk mengatasinya, kita harus berusaha dengan rajin, memohon pertolongan Tuhan hari demi hari. Perubahan adalah sebuah kebutuhan, bukan sebuah pilihan biasa; Tuhan telah memanggil kita untuk masuk ke dalam proses persiapan secara rohani bagi kerajaan-Nya.
Paul dalam 2 Korintus 5:17 menyatakan
| 2 Korintus 5:17 | |
| 5:17 | Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. |
Untuk berada di dalam Kristus adalah untuk bersatu dengan Yesus di dalam iman. Jika kita telah bersatu dengan Yesus dalam iman, kita akan memiliki hidup seperti Yesus. Sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipungkiri, perubahan akan hadir melalui hati kita yang telah diperbarui dan kita akan menjadi baru, menjadi ciptaan dari Allah yang tiada banding, melalui kuasa penciptaan yang mungkin saja lebih ajaib ketimbang ketika Ia menciptakan alam semesta dari kosong.
© 2008 Church of the Great God
PO Box 471846
Charlotte, NC 28247-1846
(803) 802-7075
*source from http://cgg.org/index.cfm/fuseaction/Library.sr/CT/ARTB/k/1425/Are-We-Ready-for-Change.htm
Are We Ready for Change?
by Bill Onisick
Forerunner, November-December 2008
We have heard a great deal lately about change. Politicians tell the nation that it needs a change of leadership, a change of ideas, and change in outlook. And we do not just need change for the sake of change, but we need “change we can believe in.” While they promise blue skies and rainbows in exchange for votes, very little change actually happens. As the saying goes, “The more things change, the more they remain the same.”
The apostle Paul writes to the church-those he considered to be true Christians-in Ephesians 4:22-24:
[P]ut off, concerning your former conduct, the old man which grows corrupt according to the deceitful lusts, and be renewed in the spirit of your mind, and that you put on the new man which was created according to God, in true righteousness and holiness.
Paul tells us that Christians must change-but the change he advocates is not just any change. He qualifies the change by stating, “Put off . . . the old man . . ., and . . . put on the new man.” The change he commands is a complete change of heart, a change from corruption toward inward purity.
This change is so severe that it is as if we have been totally renewed or become a completely new person. We are to have new attitudes, new desires, new habits, and new behaviors. The apostle further clarifies for us that the goal of this radical change is to be modeled after God’s righteous and holy character. It is a transformation that is a fundamental part of God’s purpose: creating sons and daughters in His image (Genesis 1:26).
To change is to cause to be different. In its simplest form, a change can fall into one of four categories:
1. We can start doing something that we should already be doing, say, fasting or serving.
2. We can do more of something that we are already doing but currently not doing enough of, for instance, Bible study or prayer.
3. We can stop doing something that we currently do but should not be doing at all, for example, gossiping or stealing office supplies.
4. We can do less of something that we are already doing and that is fine to do but not if done in excess. Perhaps it is something we are currently doing too much of, like watching television.
The Biggest Change
With that backdrop, let us imagine for a moment that we can hear God’s thoughts, and right now He is looking at each of us individually and evaluating our hearts, just as He tells us He does. We hear Him say to us, “I sure do love you, and I want you in my Family. However, before you can enter My Family, you must make changes, and the biggest change you need to make is . . . .”
Now we need to complete that sentence using one of the four possible changes-start doing, do more, stop doing, or do less of something-and hold that thought for a minute. While we all have many changes to make, we should be focusing now on the number-one change, the top-priority change that we need to make. Envision for a minute what it would be like-what would be different-when we have successfully completed this change.
We certainly cannot assume that we are thinking as God thinks, for we know that even the wisest of men are but fools when compared to the wisdom of God (I Corinthians 1:25). More likely than not, the particular change that we are thinking about right now is nothing new to us. We all need to make changes, and we know what many of those changes are. In many instances we have been trying to make this exact change for some time, but for whatever reason, we have been unsuccessful thus far.
Why? Why is change so difficult?
To answer this question, we must each turn back the clock. From the time we were born, all of our experiences have been shaping and molding our hearts and minds. Our personalities and habits have gradually formed and been cast as a result of our own personal histories. None of us has experienced exactly the same things, and we are all somewhat unique in our behaviors. This is why it is so difficult to know someone unless we know his life’s story: where he grew up, what his childhood was like, what school he went to, how often he moved, what his father or mother did for a living, and so on.
It is during this process of living that people develop behavior patterns and habits. These patterns are performed so often that they become almost involuntary responses. They are deeply entrenched and therefore difficult to break. We can think of them as being like a 5-inch strip of a rubber tire. We can stretch, twist, or compress it, but as soon as we let it go, it snaps back to its original shape. The harder we stretch one of these patterns, the more uncomfortable we become, and likewise the more resistance we feel.
Herein lies the difficulty with change. Often, we think we want to change, yet inwardly our human nature, our carnality, suggests that we really want to remain the same. This is our internal resistance to change. It is like a spring stretched out, struggling to return to its former shape-in our case, to the old man. Our resistance to putting on the new man of Ephesians 4 is indeed our carnality. Our carnal minds have a proclivity to embrace any other option rather than changing what is comfortable to us.
In Romans 7:15, Paul relates his struggle with change: “For what I am doing, I do not understand. For what I will to do, that I do not practice; but what I hate, that I do.” The things we hate are habits or behaviors that resist change, even when we know that we should have discarded them long ago.
The power of longstanding habits and behaviors can be overwhelming. We try with all of our might to establish a new way of doing things, while the cognitive processes, which are now automatic, are working behind the scenes to undermine our efforts. They continuously work against us to create and promote an emotional drive that urges us to behave in the familiar, albeit undesired way.
The only way out of this trap is the same way we got into it, and that happened oh-so-gradually. We must consciously retrain our minds and develop new habits, new behaviors.
But how?
Making Change Happen
Before we can begin to go down the road of making successful changes, we must recognize and be convicted of the need to change. As Paul tells us in Ephesians 4, we must evaluate ourselves against God’s righteousness and true holiness to identify the specific changes we need to make.
However, we cannot stop there. We need to write them down, and we should categorize them into one of the four actions identified above: Start, Do More, Stop, Do Less.
We also must understand and truly believe the reasons for making the change. We need to envision what life will be like-what we will be like-when we have made this change. What differences will we notice in ourselves and in our relationships with our mates, our families, our coworkers, and our friends?
The biggest barrier to change is a lack of motivation or conviction to start the change process. But as Christians in God’s church, we have an incredible motivation in the prospect of the future inheritance as sons of God. For instance, Paul writes in Romans 8:18, “For I consider that the sufferings of this present time are not worthy to be compared with the glory which shall be revealed in us” (see I John 3:1-2). We have an awesome potential!
So, the first attribute of successful change is change readiness. We must be ready to change, and we must ask God to help us identify changes that need to be made. If we have the willingness to improve, the understanding of the changes that we need to make, and the underlying reasons why we need to make them, then we have a solid start towards making change happen.
However, human nature is impatient when it comes to change. Change is uncomfortable, and research indicates that it takes on average 21 days to create or change habits. The human mind wants to see instantaneous results, but we must remember that change is hard work. There are no short cuts to successful change.
After all, God created time for our benefit. He is outside of the constraints of time, and with His speed of thought, He could certainly transform us instantly. However, in His wisdom our Almighty Creator knows that instantaneous change would come too easy for us, and it would probably not be everlasting. He is not willing to take this risk.
The changing-over-time part of this equation for man is crucial. It takes time for us to overcome our weaknesses and to put on the new man. Realizing that it takes time, we must stay the course of change. Notice Paul’s encouragement in II Corinthians 4:16-18:
Therefore we do not lose heart. Even though our outward man is perishing, yet the inward man is being renewed day by day. For our light affliction, which is but for a moment, is working for us a far more exceeding and eternal weight of glory, while we do not look at the things which are seen, but at the things which are not seen. For the things which are seen are temporary, but the things which are not seen are eternal.
We must stay focused on the need for change. We will need endurance and commitment, not just to change, but to complete the change-to take the process all the way to the end. While the outward, physical man may be growing weak, the inward, spiritual man-our hearts-will be renewed. The trials, the difficulties of our changes, while severe, will produce for us a far more exceeding and eternal joy and glory.
The final and most important attribute of successful change is maintaining faith in God the Father and Jesus Christ. It is through them and with them that all change is possible. Our carnal minds provide the greatest resistance to spiritual change, and therefore we cannot go it alone.
Successful change requires our Helper, God’s Holy Spirit (John 14:16, 26; 15:26; 16:7). We must ask for God’s help, His strength, to keep our hearts and minds focused on positive change even though we are in the midst of trials. The apostle Paul declares in Philippians 4:13, “I can do all things through Christ who strengthens me.” And so can we. Our need for change and our need for the strength and guidance to change should be a part of our daily prayer. Through constant contact with God-who is driving these necessary, spiritual changes-we will maintain our faith in Him.
Called to Change
In Ephesians 4:22-24, Paul instructs us to change: to put off the old man and to put on the new man. We must change our heart. We need to develop new attitudes, desires, and behaviors modeled after God’s holy character.
God is creating us in His image, and this process of change to this end is difficult and uncomfortable for our carnal minds. Yet, to continue without change is, in effect, to ensure failure! God has given us incredible motivation in the prospect of being His heirs and joint-heirs with Christ. What an astounding goal!
Before we can start to change, we must recognize the need to change through self-evaluation. We should ask God for help in identifying the changes that we need to make. Whatever the change-Start, Do More, Stop, Do Less-we should write it down and the reasons why we need to change it. We should vividly envision what will be different when the change is made.
No change happens overnight, and we must with endurance and commitment remain focused on our need for change-our need to put off the old man and put on the new one-because our carnality vigorously resists spiritual change. To overcome, we must work diligently, asking God daily for His help. For us, successful change is a requirement, not just an option: God has called us to this process of spiritual preparation for His Kingdom.
Paul proclaims in II Corinthians 5:17, “Therefore, if anyone is in Christ, he is a new creation; old things have passed away; behold, all things have become new.” To be in Christ is to be united to Him by faith. If we are united to Christ by faith, we will live like Him. Of necessity, changes will be produced in our renewed hearts, and we will become new, a work of God’s divine, creative power even more magnificent than when He created the universe out of nothing.
© 2008 Church of the Great God
PO Box 471846
Charlotte, NC 28247-1846
(803) 802-7075
*source from http://cgg.org/index.cfm/fuseaction/Library.sr/CT/ARTB/k/1425/Are-We-Ready-for-Change.htm
*translation in Bahasa Indonesia will follow shortly in the next post