Da Words of My Jesus


Yunus dan Kota Ninewe – YUN 4:1-11 (JONAH 4:1-11)
Maret 2, 2009, 2:20 pm
Filed under: Articles | Tag:

YUNUS DAN KOTA NINEWE

(YUN 4:1-11)

YUN 4:1-4

1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.

2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

Mengapa Nabi Yunus marah dalam sepenggal ayat ini?

Apakah yang dikatakan oleh Nabi Yunus saat ia masih berada di negerinya?

Apa yang menyebabkan ia berdoa memohon kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya?

Mari kita pelajari lebih lanjut.

Kita sudah sering mendengar kisah tentang Nabi Yunus yang TUHAN utus untuk memperingatkan seluruh warga Kota Niniwe akan hukuman akibat murka TUHAN atas perbuatan warga Kota Niniwe.

Kita juga tahu, bahwa Nabi Yunus “kabur” alias melarikan diri dari tugas yang TUHAN berikan kepadanya. Hingga akhirnya saat Nabi Yunus ini dalam perjalanannya di sebuah kapal menuju Tarsis – terjadilah badai, dan setelah melalui proses undi para awak kapal membuang Yunus ke laut; barulah badai itu menjadi tenang.

Setelah itu kita tahu, bahwa Yunus ditelan oleh ikan besar selama 3 hari dan 3 malam. Akan tetapi, ada hal yang menarik yang saya dapat dari versi NIV tentang ditelannya Yunus ini.

Jonah 1:17

But the LORD provided a great fish to swallow Jonah, and Jonah was inside the fish three days and three nights.

Dalam bahasa Indonesia yang biasa kita baca, dituliskan

“Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.”

Melalui bahasa Indonesia, kita mendapatkan kesan bahwa TUHAN menghukum penolakan Yunus dengan mengirimkan ikan besar untuk menelan Yunus selama tiga hari dan tiga malam. Akan tetapi, melalui versi NIV kesan yang muncul adalah TUHAN menyediakan (NIV: “provided”) seekor ikan besar untuk menelan Yunus.

Apakah tujuan TUHAN menyediakan ikan besar ini?

TUHAN dengan cara-Nya yang ajaib dan luar biasa mengutus seekor ikan besar untuk menjadi alat tranportasi dari posisi terakhir Yunus dibuang dari atas kapal yang Yunus tumpangi, sampai Yunus berada dekat pantai Kota Niniwe. Dan perjalanan itu memerlukan tiga hari dan tiga malam.

Dan karena rancangan TUHAN itu penuh kuasa, efisien dan efektif – ada hal lain yang terjadi saat Yunus di dalam perut ikan.

*NOTE* :   Tiga hari mewakili waktu yang telah direncanakan dan telah ditetapkan oleh BAPA di surga bagi YESUS KRISTUS untuk bangkit dari kematian, mengalahkan maut.

Dan Yunus, pada saat tiga hari dan tiga malam itu merasakan dirinya dekat dengan kematian karena ia sedang berada di dalam perut seekor ikan besar. Yunus tahu ia telah berdosa karena telah tidak menuruti perintah TUHAN dan Yunus sebagai hamba TUHAN juga tahu, bahwa hukuman atas dosa adalah maut.

Tapi ada yang Yunus tidak tahu, yaitu rancangan TUHAN atas dirinya. Bahwa TUHAN telah menggunakan ikan besar sebagai alat transportasi bagi Yunus. Untuk mengembalikan Yunus kepada jalan yang telah TUHAN tetapkan.

Hal yang sama juga terjadi kepada kita semua. Di saat kita menerima tugas untuk menginjili atau bersaksi akan kebaikan dan kuasa TUHAN kepada orang-orang di sekitar kita. Kita terkadang merasa ogah-ogahan, atau malas bertindak, atau enggan untuk melakukannya.

Tidak lama kemudian, datang masalah menghampiri kehidupan pribadi kita. Bahkan mungkin kehidupan rumah tangga, atau di sekolah, dan dimanapun kita beraktifitas sehari-hari. Lalu akan ada masa mempertanyakan atas apa yang terjadi pada diri kita. Kita akan mempertanyakan kenapa TUHAN membiarkan masalah ini terjadi dalam kehidupan kita. Kita bertanya-tanya dan terus bertanya-tanya tanpa mengerti apa yang terjadi atas kehidupana kita.

Lalu baru kita sadari, bahwa kita telah berbuat dosa karena telah mengabaikan perintah TUHAN. Oleh karena salah satu yang TUHAN YESUS perintahkan bagi kita adalah

MAT 28:18-20

18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Kita memiliki tugas dan kewajiban untuk menjadikan semua bangsa murid YESUS, yaitu untuk mengajar mereka sesuai dengan firman yang telah disampaikan dari mulut TUHAN YESUS.

Dan kita bertugas dan wajib untuk menuntun orang-orang di sekitar kita untuk menerima baptisan air di dalam nama Bapa (Allah Bapa) dan Anak (YESUS KRISTUS) dan Roh Kudus yaitu Firman TUHAN.

Nabi Yunus juga mengemban tugas yang sama dengan kita – akan tetapi ia telah mengacuhkan perintah TUHAN, Yunus telah mengabaikan firman TUHAN. Oleh karena itu – saat Yunus di dalam perut ikan. Ia sadar akan kesalahannya, dan Yunus segera berdoa.

YUN 2:1-10

1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Dalam ayat 2 – Yunus berdoa dengan iman bahwa TUHAN mendengarkan doa Yunus. Dari tengah-tengah orang mati menceritakan kondisi Yunus yang sedang berada di dalam perut ikan, yang pada saat itu Yunus tidak sadar dan tidak mengerti akan rencana TUHAN yang sesungguhnya. Yunus hanya mampu merasakan bahwa ia dekat dengan kematiannya.

Lalu ayat 3 menggambarkan Yunus yang dibuang oleh awak kapal karena dosa Yunus terhadap TUHAN (baca lebih jelas YUN 1:4-16).

Ayat 4 menuliskan Yunus yang telah berdosa dan memohon belas kasih TUHAN agar dapat melihat Bait TUHAN yang kudus.

Ayat 5 dan 6 menggambarkan kondisi dunia yang menghimpit Yunus dan kita sebagai orang Kristen. Lalu dilanjutkan dengan pengakuan Yunus bahwa TUHAN adalah penyelamat hidupnya dari jeratan maut dunia.

Ayat 7 mengajar bahwa ketika kita berbeban berat, ingatlah TUHAN yang sanggup menangkat beban itu dari pundak kita dan bagaimana TUHAN akan mendengarkan doa kita, umat-NYA

Ayat 8 menjelaskan bahwa kita lah manusia yang meninggalkan ALLAH yang setia kepada kita, karena kita lebih memilih berhala yang terlihat di mata kita; ketimbang TUHAN yang tidak terlihat. Padahal pada berhala tersebut hanya ada kesia-siaan, karena berhala tersebut tidak mampu menjaga kita di saat apapun. Berhala itu hanya bisa diam saja di tempatnya, tanpa mampu melakukan kebaikan dalam kehidupan kita.

Ayat 9 menuliskan tentang ucapan syukur atas keselamatan yang TUHAN telah berikan bagi kita semua dan hendaknya kita bernazar untuk selalu mengucap syukur akan penebusan yang TUHAN telah sediakan bagi kita.

Hendaknya kita memiliki pattern / pola doa seperti Yunus ini – kita datang dengan rendah diri ke hadapan TUHAN, kita bersimpuh di dekat kaki TUHAN dan serahkan masalah dan kekhawatiran kita kepada-NYA, kita ceritakan atau curhat masalah yang sedang kita hadapi kepada TUHAN. Juga kita akui bahwa TUHAN adalah juru selamat kita di setiap keadaan.

Dan dengan iman percaya kepada YESUS, bahwa TUHAN mendengarkan doa kita dan dengan iman percaya TUHAN akan menjawab doa kita.

Lalu, jangan lupa dalam doa untuk selalu mengucap syukur kepada-NYA atas kebaikan yang telah TUHAN berikan kepada kita. Dan kalau doa kita sudah benar maka ayat 10 – sebagai jawaban atas doa Yunus; TUHAN mengeluarkan Yunus dari perut ikan besar itu dan meletakan Yunus di darat.

Dengan melihat rentetan kejadian dari pasal 1 sampai ayat yang terakhir kita baca.

Percayakah atau pernahkah terpikirkan oleh teman-teman sekalian bahwa ALLAH kita ajaib?

Pernahkah teman-teman sekalian terbayang, ada ikan besar yang mampu mengeluarkan seorang manusia tepat di darat?

Tak lain dan tak bukan, hanya ALLAH saja yang mampu memungkinkan  melakukan itu semua. Dan ALLAH juga di saat yang bersamaan mengingatkan kita, juga mengingatkan Yunus bahwa kita manusia baru mau datang kepada TUHAN  dan mengakui kebesaran-NYA di saat kita dekat dengan kematian.

Kita, sebagai manusia, sebagai ciptaan TUHAN – baru mencari TUHAN kalau sudah sekarat atau kepepet. Dan kalau sedang sehat, mempunyai harta yang melimpah, di saat mempunyai kepintaran yang luar biasa – kita terkadang lupa akan kuasa dan kebaikan TUHAN dalam hidup kita.

Di saat kita masih mempunyai opsi lain untuk mengatasi masalah kita – kita lebih memilih opsi yang berasal dari pikiran kita dan bukan dari tuntunan TUHAN.

Apakah kita masih suka lupa akan kebaikan TUHAN?

_________________________________________________________________________________

YUN 3:1-2

1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:

2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.”

Dalam ayat pertama dijelaskan bahwa Yunus diberikan kesempatan kedua oleh TUHAN. Dan dalam ayat kedua, Yunus diberikan perintah yang sangat jelas dari TUHAN, yaitu untuk menyampaikan firman TUHAN kepada kota Niniwe.

YUN 3:3-8

3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”

5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.

7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.

8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.

Niniwe ibarat kota metropolitan, sebuah kota yang besar – yang berpenghuni banyak, dituliskan dalam ayat 3 untuk menjelajahi seluruh kota Niniwe diperlukan tiga hari perjalanan.

Kota Niniwe adalah kota yang serupa dengan kota Jakarta dan kota-kota besar di negara lainnya.

Penyakit yang sering terjadi di kota besar adalah saking sibuknya berusaha, berkerja, mengurus keluarga, mengurus diri sendiri hingga-hingga para penduduk kota besar itu melupakan TUHAN. Kejahatan atas dasar ambisi dan harta juga merupakan dosa yang kerap terjadi di kota-kota besar.

Ayat 4 – setelah sepanjang hari pertama Yunus berjalan masuk ke dalam kota Niniwe, ia menyerukan di antara para penduduk kota Niniwe “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”

Ayat 5 – warga kota yang mendengar pada saat itu segera merespond firman yang disampaikan oleh Yunus. Mereka tidak mempertanyakan siapa Yunus, karena saat Yunus menyampaikan firman dari TUHAN, saya percaya di saat itu juga Yunus memancarkan kemuliaan TUHAN yang mampu menepis keraguan akan firman TUHAN yang disampaikan melalui mulut Yunus.

Dan juga oleh karena warga kota Niniwe adalah orang-orang yang percaya akan ALLAH – sudah pasti mereka mengenal suara yang datang dari firman TUHAN.

Lalu ayat berikutnya dituliskan, semua orang dewasa dan anak-anak, beserta Raja dan pembesar kota Niniwe, berikut hewan ternak mereka. Saat itu juga mengenakan kain kabung dan mereka berpuasa.

Ayat 8 – mereka semua, termasuk harta mereka (jaman dahulu hewan ternak merupakan tolak ukur dari kekayaan seseorang) berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat dan dari kekerasan.

Seluruh penduduk kota Niniwe yang besar itu, tanpa memandang umur dan pangkat atau jabatan – seketika itu juga mengenakan kain kabung yaitu pertobatan dan mereka berdoa dengan berseru kepada ALLAH, kemudian mereka juga berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum. Lalu harta mereka tidak lagi mereka gunakan untuk berbuat kejahatan dan kekerasan. Dapat disimpulkan oleh karena harta, ada warga yang menindas sesama warga kota.

Tujuan dari bertobat, berdoa dan berpuasa?

YUN 3:9

Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

Ayat 9 – tujuannya sangat jelas yaitu untuk memohon belas kasihan kepada TUHAN agar tidak membinasakan kita manusia. Karena siapakah di atas muka bumi ini yang dapat lolos dari murka ALLAH?

Melalui pasal ketiga ini, dapat kita saksikan dari tindakan mereka ini ada sebuah kesatuan iman di antara penduduk kota; mereka bersatu dalam iman memohon belas kasihan TUHAN.

Sebuah teladan yang patut dicontoh ketika misalnya sebagai sebuah keluarga sedang dilanda masalah. Hendaklah keluarga tersebut bersepakat dan bersama-sama bersatu di dalam iman, berdoa dan berpuasa memohon ampunan dan pertolongan TUHAN.

Hasilnya?

YUN 3:10

Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Warga kota Niniwe berhasil mengetuk hati TUHAN dan karena memang ALLAH kita adalah ALLAH yang penuh kasih dan ALLAH melihat bahwa kota Niniwe telah sadar akan perbuatannya yang berdosa dan mau bertobat, serta kembali beribadah kepada TUHAN. Oleh karena itu semua, ALLAH membatalkan niat-NYA untuk menghukum kota Niniwe oleh karena kasih-NYA yang begitu besar kepada kita.

_________________________________________________________________________________

Nah sekarang kita mulai membahas ayat-ayat yang kita baca pada awal artikel ini.

Kenapa Yunus marah?

Padahal telah terjadi kebaikan pada hari itu – warga kota Niniwe diselamatkan dari murka ALLAH dan Yunus terlibat dalam perkerjaan yang baik itu.

Mari kita baca ulang ayat yang kita baca pada awal artikel ini

YUN 4:1-3

1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.

2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

Ada sesuatu yang aneh setelah kita baca ketiga ayat ini.

Kalau kita baca ayat 2 di atas dengan seksama – Yunus tahu bahwa ALLAH kita adalah ALLAH yang penuh dengan kasih dan sayang. ALLAH kita itu panjang sabar dan berlimpah kasih setia-NYA, juga “menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-NYA”

Kutipan yang terakhir perlu saya perbaiki. TUHAN kita tidak pernah membuat keputusan secara gegabah – IA tidak pernah menyesali keputusan yang telah dibuat. Oleh karena itu saat saya baca versi NIV dari ayat Yun 4:2 ini – saya dapati kata “relents”.

JONAH 4:2

He prayed to the LORD, “O LORD, is this not what I said when I was still at home? That is why I was so quick to flee to Tarshish. I knew that you are a gracious and compassionate God, slow to anger and abounding in love, a God who relents from sending calamity.

Yang artinya Yunus berdoa kepada TUHAN, “Ya TUHAN, bukankah ini yang telah kukatakan kepada-Mu ketika aku masih di rumahku? Oleh karena inilah aku begitu cepat melarikan diri ke Tarsis. Aku sudah tahu bahwa Engkau adalah ALLAH yang mengampuni dan penyayang, lambat marah dan berlimpah dalam kasih, ALLAH yang membatalkan / mencabut putusan / memikirkan kembali untuk mengirimkan bencana kehancuran.

Kata “Relents” ini sinonim dengan mencabut, memikirkan kembali, membatalkan. Bukan berarti menyesal.

Jadi yang sebenarnya terjadi adalah inilah bukti bahwa TUHAN kita itu sebenarnya tidak pernah mau menghukum manusia. Setiap kali manusia berbuat keji di hadapan TUHAN, berbuat hal-hal yang mendukakan TUHAN – TUHAN akan berusaha untuk memperingatkan kita untuk kembali kepada jalan-NYA, supaya TUHAN tidak perlu menghukum manusia atas perbuatan mereka.

Jadi TUHAN kita itu selain sungguh mengasihi kita, TUHAN kita juga tegas terhadap yang berbuat dosa. BAPA di surga sungguh adalah ALLAH yang maha ADIL. IA memberikan kesempatan kepada kita manusia untuk bertobat sebelum hukuman itu dijatuhkan.

Yang terjadi pada kota Niniwe ini adalah mereka sadar dan mereka adalah orang-orang yang percaya kepada ALLAH dan perbuatan mereka telah mengetuk hati TUHAN yang sebenarnya tidak mau menghukum kota Niniwe. Oleh karena itu TUHAN membatalkan / mencabut hukuman atas kota tersebut. Jadi TUHAN kita tidak pernah menyesal atas keputusan yang telah dibuat-NYA, tapi IA bisa saja membatalkan / mencabut hukuman atas kita – asalkan kita bertobat, mengakui dosa kita dan mau kembali kepada jalan-NYA.

Kembali ke pertanyaan mengapa Yunus marah

Mengapa Yunus marah sampai ia minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya?

Mengapa Yunus menghindari perintah TUHAN untuk memberitakan firman-NYA di kota Niniwe?

Saat saya baca kitab Yunus ini dari pasal 4 – lalu saya baca ulang dari pasal pertama. Saya tidak berhasil menemukan mengapa Yunus melarikan diri dari tugas yang diperintahkan TUHAN. Saya juga tidak menemukan mengapa Yunus begitu kesal kepada tugas yang diberikan kepadanya, sehingga Yunus minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya.

Akhirnya saya cari komentar-komentar para ahli yang mempelajari kitab Yunus ini dan dituliskan bahwa Yunus adalah orang Israel. Warga Niniwe bukan bangsa Israel. Yunus adalah salah satu dari bangsa Israel yang masih menganggap bahwa keselamatan adalah milik bangsa Israel saja dan bukan untuk bangsa-bangsa lain di dunia.

Inilah yang menyebabkan Yunus begitu kesal dan marah, sampai-sampai ia minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya.

Yunus kesal dan marah akibat arogansi yang ada dalam dirinya karena ia seorang bangsa Israel, sebuah bangsa yang merupakan pilihan TUHAN. Ia melarikan diri dari tugas yang diberikan kepadanya, karena ia tidak ingin ada bangsa lain yang diselamatkan dan dikasihi oleh TUHAN.

Dengan kesombongan dan dengan keyakinan yang berlebih bahwa Yunus pasti masuk surga; Yunus minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawanya, karena Yunus tahu “hidup adalah milik TUHAN“. Yunus sangat tahu, bunuh diri merupakan dosa besar dan ia akan menerima hukuman kekal di neraka jika melakukannya.

Yunus di masa kini melambangkan orang Kristen yang telah menerima keselamatan, orang Kristen yang mengenal dan belajar firman. Akan tetapi, kabar keselamatan ini disimpan sendiri. Orang Kristen yang macam ini tidak mau berbagi apa yang ia tahu akan firman TUHAN. Orang ini lebih senang ngurusi dirinya sendiri, tanpa memperdulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Sungguh orang semacam ini telah berdosa kepada TUHAN tanpa ia sadari.

Ia tidak menyadari bahwa setiap orang yang telah terbebas dari dosa di masa sekarang adalah orang-orang Kristen perjanjian baru. Kita dibebaskan oleh darah YESUS, kita telah ditebus oleh darah-NYA; Darah YESUS adalah Darah Perjanjian yang mengikat kita semua yang terima penebusan ini. Melalui perjannjian ini kita mempunyai tugas dan kewajiban untuk mengabarkan injil keselamatan yaitu injil YESUS KRISTUS.

Dan Yunus telah berdosa karena telah berusaha mengatur TUHAN dengan meminta TUHAN untuk mencabut nyawanya.

YUN 4:4

Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”

Lalu TUHAN menegur Yunus yang sedang marah pada ayat 4 ini dengan berkata “Layakkah engkau marah?

Sebuah pertanyaan yang sifatnya agar Yunus untuk instropeksi diri, agar Yunus bertanya kepada dirinya sendiri “apakah pantas Yunus marah karena kasih TUHAN atas kota Niniwe?”

Apakah kita patut mempertanyakan kasih TUHAN?

Apakah kita patut memberi tahu TUHAN siapa yang layak untuk menerima kasih dan sayang-NYA?

Apakah kita lebih tahu daripada TUHAN?

_________________________________________________________________________________

YUN 4:5

Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.

Ayat berikutnya TUHAN sendiri mengajar Yunus untuk lebih mengenal kasih TUHAN kepada kota Niniwe.

Dituliskan pada ayat ke 5 – Yunus yang masih dengan perasaan kesal dan marah keluar dari kota Niniwe, mendirikan sebuah pondok / tempat berteduh yang sederhana (dalam NIV ditulis “shelter”) dan duduk di bawah bayangan-nya (dalam NIV ditulis “shadow”). Lalu Yunus menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.

Di sini diajarkan – bahwa kalau kita dikuasai amarah, kita tidak dapat mendengar firman TUHAN. Karena di ayat sebelumnya TUHAN telah berfirman bahwa TUHAN telah mencabut keputusan-NYA untuk menghukum kota Niniwe.

Akan tetapi yang Yunus perbuat adalah Yunus malah pergi ke Timur dengan tujuan supaya ia tidak ketinggalan melihat apa yang akan terjadi kepada kota Niniwe; agar ketika matahari menyingsing Yunus masih berharap TUHAN mendengar dan mengabulkan keinginannya – yaitu kota Niniwe tetap dihukum.

YUN 4:5

Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.

Lalu dituliskan – Yunus membuat tempat berteduh sementara dari teriknya matahari, ia berteduh di bawah bayangan tempat berteduh. Ayat 6 – TUHAN membuat pohon jarak (NIV: Vine – tanaman merambat) untuk tumbuh di atas kepala Yunus dan menaunginya dengan tujuan agar Yunus reda kesal dan marahnya. Pohon jarak dari TUHAN ini berhasil membuat Yunus bersuka cita karenanya. Akan tetapi Yunus bukan bersuka cita atas keajaiban yang TUHAN perbuat baginya, melainkan suka citanya Yunus oleh karena pohon jarak semata.

YUN 4:7-9

7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.

8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.”

9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

Kemudian ayat 7 dan 8 – akan tetapi berikutnya, saat fajar menyingsing TUHAN mengirimkan seekor ulat yang dalam waktu singkat membuat pohon jarak itu layu. Lalu saat matahari terbit meninggalkan horizon, ALLAH membuat angin timur yang sangat panas dan membakar. Ditambah dengan panasnya sinar matahari yang sangat menyakiti kepala Yunus.

Lalu dalam ayat 9 – TUHAN menegur Yunus sekali lagi dengan menanyakan pertanyaan yang tujuannya sama dengan ayat 4 di atas dan kali ini Yunus masih belum sadar juga, Yunus tetap menyimpan amarahnya dan berharap ia dapat mati oleh tangan TUHAN.

Tidakkah terasa aneh, kalau kita sebagai seorang pelayan TUHAN saat menghadapi masalah (angin timur dan terik matahari) dan saat kesenangan pribadi kita diambil oleh TUHAN – malah menjadi kesal dan marah, lalu ujung-ujungnya selalu minta kepada TUHAN untuk mencabut nyawa kita??

Bukankah sudah seharusnya kalau pelayan TUHAN itu tunduk sepenuhnya kepada perintah TUHAN? Dan bukan memaksakan kehendak pribadi kepada TUHAN? Kemudian jika ada masalah, bukankah pelayan TUHAN itu seharusnya memohon pertolongan TUHAN dan bukan minta mati?

Satu hal yang perlu kita renungkan.

Janganlah karena kita sudah menjadi pelayan TUHAN, lalu dengan sangat yakin kita sudah beriman telah beroleh keselamatan yang datang dari TUHAN; lalu dengan seenaknya kita bisa minta untuk mati saja, karena kita tidak mau susah di dalam TUHAN, karena kita tidak mau dibentuk dan diajar oleh TUHAN??

Sungguh perilaku Yunus ini adalah sebuah sikap dan pola pikir yang harus kita buang jauh-jauh, karena sikap dan pola pikir Yunus ini membuat kita bukan semakin dekat kepada TUHAN, malah membuat kita semakin jauh dari TUHAN.

YUN 4:10-11

10 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.

11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Kemudian dalam ayat 10 TUHAN mulai menjelaskan kepada Yunus dan kepada kita semua maksud dari menumbuhkan pohon jarak hingga pohon itu layu.

TUHAN berfirman bahwa Yunus lebih sayang dan lebih perduli kepada pohon jarak yang bukan hasil pekerjaan Yunus sendiri. Dan Yunus lebih memperhatikan pohon jarak yang sifatnya sementara itu ketimbang warga kota Niniwe yang lebih berarti dan yang lebih perlu diperhatikan oleh Yunus, oleh pelayan TUHAN, oleh kita semua.

Ayat 11 – kata “Aku” mewakili ALLAH, ALLAH yang akan lebih menyayangi kota Niniwe yang jauh lebih bernilai daripada pohon jarak. ALLAH lebih menghargai jiwa manusia ketimbang pohon jarak yang melambangkan segala hal yang TUHAN telah ciptakan dan sediakan di atas muka bumi ini.

Lalu dijelaskan oleh ALLAH bahwa penduduk kota Niniwe yang jumlahnya lebih dari seratus dua puluh ribu orang, semuanya itu tidak tahu cara membedakan tangan kanan dari tangan kiri dengan jumlah ternak yang banyak.

Maksud ALLAH dengan tangan kanan dan kiri serta jumlah ternak yang banyak adalah warga kota Niniwe beserta harta yang mereka miliki – tidak tahu perbuatan mana yang merupakan dosa dan mana yang bukan. Hidup mereka, pekerjaan mereka dan hasil yang mereka capai – mereka jalani dan mereka raih tanpa mengetahui apakah yang telah mereka lakukan adalah dosa atau bukan.

Dari ayat 11 dapat kita serap bahwa Kota Niniwe ini juga mewakili kita dan orang-orang di sekitar kita semua pada masa ini, yaitu masih banyak dari kita yang tidak mengerti dan tidak mengetahui firman sepenuhnya. Karenanya, terkadang kita suka bingung sendiri, apakah yang kita perbuat sudah sesuai dengan firman atau belum? Apakah cara hidup kita dengan harta yang dimiliki atau saat kita berusaha dan berkerja untuk meraih harta itu, sudah sesuai dengan cara TUHAN atau belum?

Berdosakah kita saat berupaya dalam menjalani hidup kita ini?

_________________________________________________________________________________

Dan yang dapat saya simpulkan setelah membaca seluruh ayat dalam kitab Yunus ini adalah;

Pada kesempatan ini TUHAN hendak mengajar kepada kita semua, termasuk kepada saya pribadi untuk lebih setia dalam menjalankan perintah TUHAN. Untuk menanggalkan kesombongan, amarah dan kepentingan pribadi yang sudah pasti tidak sejalan dengan cara TUHAN.

Untuk menanggalkan akal pikiran kita yang sudah pasti bukan pemikiran TUHAN dan sudah pasti tidak mampu menduga rencana-rencana TUHAN yang ajaib di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Untuk lebih menghargai dan memperhatikan jiwa-jiwa yang belum mengenal ALLAH atau jiwa-jiwa yang sudah Kristen tapi tidak tahu perbuatan mereka itu dosa atau bukan. Singkat kata yaitu untuk mengabarkan injil YESUS kepada semua orang, tanpa memandang asal-usul mereka, tanpa menghakimi apakah mereka layak atau tidak layak menerima keselamatan itu.

Untuk tidak lebih memperhatikan hal-hal yang sifatnya sementara, yaitu segala hal yang ada di muka bumi ini. Yang asal dan pertumbuhannya, beserta hasilnya bukanlah hasil usaha kita semata, melainkan ciptaan TUHAN, pemberian dari TUHAN yang disediakan bagi kita selama kita di muka bumi ini.

Untuk lebih menghargai hidup yang kita miliki saat ini dan untuk menghasilkan yang terbaik dari hidup kita ini melalui talenta yang TUHAN telah berikan kepada tiap pribadi.

Dan untuk tetap bersandar kepada TUHAN di setiap saat, apalagi di saat banyak masalah terus menghimpit kita, banyak masalah yang membuat kita panas, masalah yang membuat kita seperti tanah kering. Janganlah cepat putus asa seperti Yunus yang minta agar nyawanya diambil TUHAN, karena kita tidak tahu apa rencana TUHAN atas apa yang terjadi atau yang kita hadapi saat ini.

Karena mungkin saja saat ini kita sedang dalam proses diajar, dibentuk dan diubahkan oleh TUHAN. Untuk menjadi ciptaan-NYA yang baru.

2 KOR 5:17-18

17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

Di dalam KRISTUS, melalui penebusan yang YESUS genapi – kita adalah ciptaan baru. Yang baru itu ialah KRISTUS YESUS, IA sudah datang dan IA sudah menyediakan keselamatan bagi kita. Tinggal terserah kepada kita untuk meraih keselamatan itu atau membiarkannya berlalu.

Melalui darah yang KRISTUS curahkan di atas kayu salib – kita menjadi layak untuk menghadap dan bersekutu dengan ALLAH BAPA yang memiliki dan menciptakan segala yang di bumi dan di surga.

Dan kita telah dipercaya oleh ALLAH BAPA untuk menjadi pelayan pendamaian, yaitu untuk mengabarkan berita Injil YESUS yang telah menebus dosa-dosa kita, mati ganti kita.

Yang terakhir, percayalah dan imanilah bahwa TUHAN mampu, TUHAN sanggup melakukan perkara ajaib bagi kita yang berseru kepada-NYA.

IA mendengar.

TUHAN memberkati kita semua

Amin!

RF

Wrote on: 2009.01.29


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: