Da Words of My Jesus


Forerunner: Apakah Kita Siap Untuk Berubah?
Maret 4, 2009, 3:34 pm
Filed under: The Forerunner | Tag: ,

Apakah Kita Siap Untuk Berubah?

by Bill Onisick
translated by Roy Fadly
Forerunner, November-December 2008

Akhir-akhir ini kita telah mendengar banyak hal tentang perubahan. Politisi berpidato kepada bangsa bahwa negara membutuhkan perubahan kepemimpinan, perubahan ide dan cara pikir, dan perubahan dalam cara pandang ke masa depan. Dan kita tidak membutuhkan perubahan yang semata-mata hanya untuk berubah, akan tetapi yang kita perlukan adalah “perubahan yang kita percayai”. Sementara para politisi demi mendapatkan suara pemilih, mereka membuat janji akan membuat langit menjadi biru dan dihiasi pelangi; pada kenyataannya, tidak banyak perubahan yang terjadi. Seperti pepatah berkata, “Semakin banyak hal yang berubah, semakin banyak yang tetap sama.”

Dalam Efesus 4:22-24, Rasul Paulus menulist surat kepada gereja yang ia anggap Kristen yang sesungguhnya:

Efesus 4:22-24
4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Paulus berkata kepada kita bahwa orang-orang Kristen harus berubah – akan tetapi perubahan yang ia sarankan bukanlah perubahan biasa. Syarat perubahan itu ia nyatakan dalam, “Menanggalkan… manusia lama…, dan…. mengenakan manusia baru.” Perubahan yang disampaikan Paulus adalah perubahan sepenuhnya dari hati kita, sebuah perubahan dari diri yang korup menuju ke dalam kesucian.

Perubahan ini dampaknya begitu besar, kita seakan-akan secara total diperbarui atau dengan kata lain menjadi seorang yang baru sepenuhnya. Kita memiliki sifat baru, harapan baru, kebiasaan-kebiasaan baru dan perilaku baru. Rasul Paulus kemudian menjelaskan lebih lagi bahwa tujuan perubahan yang radikal ini untuk dibentuk menjadi serupa dengan sifat dan karakter Allah yang merupakan kebenaran dan suci. Perubahan ini adalah tujuan dasar dari Allah: menciptkan putra dan putri dari rupa Allah.

Kejadian 1:26
1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Perubahan mengakibatkan perbedaan. Dalam bentuknya yang paling sederhana, sebuah perubahan dapat dikategorikan kedalam salah satu dari empat kategori berikut:

1. Kita dapat memulai melakukan sesuatu yang sudah seharusnya kita lakukan, misalnya berpuasa atau pelayanan.

2. Kita dapat berbuat lebih lagi dari perbuatan yang sudah kita lakukan, yang untuk saat ini masih kurang dari cukup. Contoh, Pendalaman Alkitab atau berdoa.

3. Kita mampu berhenti melakukan perbuatan yang tidak seharusnya kita lakukan, contoh, gosip atau mencuri perlengkapan stationery kantor.

4. Kita dapat mengurangi perbuatan kita yang baik untuk dilakukan akan tetapi tidak baik kalau berlebihan. Mungkin ini adalah sesuatu yang kita lakukan berlebihan, sesuatu seperti menonton televisi.

Perubahan Yang Terbesar

Dengan latar belakang yang telah kita baca, marilah kita sekarang untuk sesaat membayangkan kita dapat mendengar pikiran Allah, dan saat ini Allah sedang melihat kita pribadi tiap pribadi satu per satu dan mengevaluasi hati kita, persis seperti yang sudah Tuhan firmankan. Kita mendengar Allah berkata kepada kita, ” Aku sungguh mengasihi kamu, dan Aku ingin kamu dalam keluarga-Ku. Akan tetapi, sebelum kamu dapat bergabung dengan Keluarga-Ku, kamu harus berubah dahulu dan perubahan terbesar yang harus kamu lakukan adalah….”

Sekarang kita perlu mengisi titik dalam kalimat di atas dengan menggunakan kemungkinan dari empat kategori perubahan yang telah kita baca, melakukan lebih, berhenti melakukan, atau mengurangi melakukan — dan tahan dulu pikiran-pikiran itu sejenak. Selagi begitu banyak yang harus kita ubah, kita harus fokus terlebih dahulu kepada perubahan nomor satu, fokus kepada perubahan yang prioritasnya paling tinggi untuk kita lakukan.Renungkanlah selama satu menit apa yang akan terjadi di masa depan jikalau kita berhasil sepenuhnya berubah, renungkanlah hal-hal apa saja yang akan berbeda.

Tentunya kita tidak dapat memperkirakan apa yang Tuhan pikirkan, sudah pasti kita juga tau bahwa manusia yang paling bijakpun adalah seorang yang bodoh ketika dibandingkan dengan kebijakan Allah

1 Korintus 1:25
1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Sebenarnya, perubahan yang kita pikirkan bukanlah hal yang baru bagi kita. Kita semua perlu untuk berubah, dan kita sadar berapa banyak yang harus kita ubah. Misalnya dalam berbagai kesempatan kita telah mencoba melakukan suatu perubahan, entah kenapa – sampai saat ini kita masih belum saja berhasil.

Mengapa? Mengapa untuk berubah itu begitu sulit?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memutar balik waktu. Sejak kita dilahirkan, semua pengalaman yang kita lalu telah membentuk hati dan pikiran kita. Secara bertahap melalui pengalaman pribadi di masa lalu kita, terbentuklah kepribadian dan kebiasaan-kebiasaan kita yang tertanam dalam diri kita. Tidak seorangpun dari kita mengalami hal yang sama dalam hidupnya, dan dalam berperilaku kita semua kurang lebih dapat dikatakan unik antara satu dengan yang lain. Inilah sebabnya mengapa begitu sulit untuk mengenal seseorang jikalau kita tidak mengetahui sejarah hidupnya: dimana dia dibesarkan, seperti apakah masa kanak-kanaknya, dimanakah dia bersekolah, seberapa seringkah dia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, apakah pekerjaan orang tuanya dan seterusnya.

Dalam proses kehidupan inilah orang-orang dibentuk dan mengembangkan pola perilaku dan kebiasaannya. Begitu seringnya pola perilaku ini dijalani dalam kehidupan, hingga menjadi suatu tindakan yang dilakukan tanpa sadar. Pola-pola menjadi tertanam dalam diri mereka begitu kuatnya dan oleh karena itu menjadi sulit untuk dipatahkan. Kita dapat berpikir mereka seperti ban karet setelah 5 inci. Kita bisa merenggangkannya, dipelintir atau diperas, akan tetapi segera setelah kita lepaskan – karet itu akan kembali ke wujudnya semula. Semakin kita reggangkan pola perilaku ini, semakin kita menjadi tidak nyaman dan di saat bersamaan kita dapat merasakan munculnya perlawanan yang semakin banyak.

Di sinilah letak sulitnya perubahan. Seringkali kita berpikir bahwa kita ingin berubah, tapi apa yang terjadi di dalam diri kita? Sifat manusia yang kita miliki, kedagingan kita menyarankan kita untuk bertahan. Inilah perlawanan yang terjadi di dalam diri kita terhadap perubahan. Seperti sebuah per yang diregangkan, per itu akan berusaha untuk ke wujudnya yang semula – dengan kata lain, kita berusaha kembali menjadi manusia yang lama. Sungguh adalah sifat kedagingan kitalah yang terus melawan, menghambat kita mengenakan manusia yang baru yang tertulis dalam Efesus 4. Akal pikiran dari kedagingan kita telah menciptakan sebuah kecenderungan untuk memeluk pilihan lain  ketimbang memilih untuk berubah menjadi sesuatu yang nyaman bagi kita.

Dalam Roma 7:15, Paulus menyatakan pergumulannya dengan perubahan:

Roma 7:15
7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

Meskipun kita sudah tahu bahwa kita harus membuangnya jauh-jauh sejak lama, hal-hal yang kita benci adalah kebiasaan atau sikap yang melawan perubahan tetap dilakukan.

Kekuatan dari kebiasaan dan sikap  yang disimpan lama dapat menjadi kekuatan yang melampaui kemampuan kita. Sementara kita berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan cara-cara baru dalam perbuatan kita, di sisi lain kecenderungan kita yang sudah terbentuk secara otomatis berkerja di belakang layar untuk menggagalkan usaha kita. Kecenderungan ini terus menerus berkerja melawan kita, menghentikan langkah kita dengan menciptakan dan memberikan dorongan emosional yang membuat kita bersikap seperti biasa, dengan cara-cara yang tidak kita harapkan.

Cara untuk keluar dari perangkap ini adalah melalui jalan yang sama kita terjebak ke dalamnya, dan proses untuk untuk keluar ini harus dilakukan secara bertahap. Kita harus dengan sadar melatih ulang pikiran kita dan mengembangkan kebiasaan baru, perilaku yang baru.

Tapi, bagaimanakah caranya?

Membuat Perubahan Itu Nyata

Sebelum kita dapat memulai perjalanan kita membuat perubahan yang berhasil, kita terlebih dahulu harus mengenali dan menyatakan apa saja yang harus dirubah. Supaya kita dapat mengenali apa saja yang harus kita rubah, kita harus ikut cara  Paulus yang dikatakan kepada kita dalam Efesus 4, yaitu kita harus mengevaluasi diri kita terhadap kebenaran Allah dan kekudusan yang sesungguhnya.

Lalu, jangan berhenti sampai di situ saja. Selanjutnya kita harus menuliskannya dan kita harus mengelompokkan hal-hal yang harus dirubah ke dalam empat kategori yang telah di tulis di atas: Memulai berbuat, Berbuat lebih lagi, Berhenti berbuat dan Mengurangi perbuatan.

Kita juga harus mengerti dan sepenuhnya mengimani sebab-sebab mengapa kita harus berubah. Kita perlu memandang ke depan hidup seperti apakah – seperti apakah kita – ketika kita sudah melakukan perubahan. Apakah perbedaan-perbedaan yang dihasilkan yang dapat kita sadari dalam diri kita dan di dalam hubungan kita kepada pasangan kita, keluarga kita, rekan kerja dan sahabat kita?

Hambatan terbesar dalam berubah adalah kurangnya motivasi atau keyakinan untuk memulai proses perubahan. Akan tetapi, bagi orang Kristen yang di dalam Bait Allah, kita memiliki motivasi yang luar biasa – kita memiliki masa depan yang cerah dengan menjadi Anak Allah sebagai ahli waris kerajaan Surga. Contoh, Paulus menulis di dalam

Roma 8:18
8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Lihat juga

1 Yohanes 3:1-2
3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Sadarkah teman-teman sekalian, kita memiliki potensi akan masa depan yang begitu mengagumkan!

Jadi, atribut pertama yang harus kita kenakan adalah kesiapan untuk berubah. Kita harus selalu siap untuk berubah, dan kita harus minta kepada Tuhan untuk menolong kita mengenali perubahan-perubahan yang harus kita perbuat. Jika kita memiliki kerelaan untuk menjadi lebih baik, memahami perubahan yang perlu kita lakukan dan menggaris bawahi sebab-sebab mengapa kita perlu berubah, maka kita akan memiliki langkah awal yang kuat menuju perubahan yang nyata.

Akan tetapi, ketika berbicara perubahan munculah sifat manusia yaitu ketidak sabaran. Perubahan itu tidaklah nyaman, dan menurut hasil penelitian dinyatakan bahwa dibutuhkan rata-rata 21 hari untuk membuat atau merubah kebiasaan. Pikiran manusia menginginkan perubahan yang instan, tapi kita juga harus ingat bahwa berubah itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Tidak ada jalan pintas menuju perubahan yang berhasil.

Sebenarnya, Tuhan telah menciptakan waktu bagi kebaikan kita. Dia tidak terikat oleh batas waktu dan dengan kecepatan dari pikiran Tuhan, Dia pasti mampu merubah kita secara instan. Akan tetapi, dalam kebijakan-Nya – Pencipta kita Yang Agung mengetahui bahwa semua perubahan yang bersifat instan akan menjadi terlalu mudah bagi kita dan perubahan itu mungkin saja tidak bertahan. Oleh karena itu, Dia tidak ingin mengambil resiko ini.

Perubahan seiring waktu dari persamaan ini sangatlah penting. Dibutuhkan waktu untuk dapat mampu mengatasi kelemahan kita dan untuk  mengenakan manusia yang baru. Jika kita menyadari bawah perubahan ini membutuhkan waktu, oleh karena itu kita harus tetap berada di jalur perubahan. Perhatikan dukungan dari Paulus dalam

2 Korintus 4:16-18
4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Kita harus untuk tetap fokus pada kebutuhan kita untuk berubah. Kita akan memerlukan ketekunan dan komitmen, bukan hanya untuk berubah, tapi untuk menyelesaikan perubahan itu – bertekun dan berkomitment melalui berbagai macam cara untuk menjalani proses menuju perubahan itu sampai akhir. Mungkin di permukaan, secara fisik kita menjadi manusia yang lemah, di dalam hati kita menjadi manusia rohani yang diperbarui. Setiap pencobaan, setiap kesulitan dalam perubahan kita, meski terasa berat, akan menghasilkan sesuatu yang jauh dari bayangan kita dan sukacita dan kemuliaan yang kekal.

Atribut terakhir dan yang terpenting yang harus kita kenakan untuk mencapai perubahan yang sukses adalah  menjaga iman di dalam Allah Bapa dan Yesus Kristus. Perubahan bisa terjadi hanya melalui mereka dan oleh karena mereka. Pikiran kedagingan kita memberikan perlawanan yang terbesar dalam perubahan rohani dan oleh karena itu kita tidak mampu berjalan sendirian.

Perubahan yang berhasil membutuhkan Penolong kita, yaitu Roh Kudus dari Allah (Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7). Kita harus meminta pertolongan Tuhan, kekuatan-Nya, untuk menjaga hati dan pikiran kita untuk tetap fokus terhadap perubahan yang positif, meskipun kita sedang di tengah-tengah pencobaan. Rasul Paulus menyatakan dalam

Filipi 4:13
4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Kita juga mampu seperti Rasul Paulus. Kebutuhan kita untuk berubah dan kebutuhan kita akan kekuatan dan tuntunan untuk berubah harus menjadi bagian dari doa harian kita. Melalui hubungan terus menerus dengan Tuhan (yang mengendalikan yang diperlukan dalam perubahan rohani) kita akan mampu menjaga iman kita di dalam Dia.

Panggilan untuk Berubah

Dalam Efesus 4:22-24, Paulus mengajar kita untuk berubah: untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Kita harus merubah hati kita. Kita harus mengembangkan sifat baru, harapan baru dan perilaku yang sesuai dengan rupa Allah yang kudus.

Allah menciptakan kita menurut rupa-Nya dan dalam proses perubahan sampai selesai ini sangatlah sulit dan tidak nyaman bagi pikiran daging kita. Jika kita terus berjalan tanpa perubahan, efeknya dan sudah pasti adalah kegagalan! Tuhan telah memberikan kita motivasi yang luar biasa, di dalam kepastian masa depan menjadi ahli waris-Nya dan bergabung dalam warisan itu dengan Kristus. Sungguh sebuah tujuan yang tidak terbayangkan!

Sebelum kita dapat memulai perubahan, kita harus mengenali kebutuhan kita untuk  berubah melalui mengevaluasi diri sendiri. Kita harus minta kepada Tuhan untuk pertolongan-Nya mengenali hal-hal yang harus kita ubah. Apapun cara perubahannya (Mulai, Berbuat lebih, Berhenti, Mengurangi) kita harus menuliskannya dan tulis juga sebab mengapa kita perlu untuk berubah. Kita harus dengan jelas memandang ke depan perbedaan yang akan terjadi ketika perubahan telah terjadi.

Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam, dan kita harus bertahan dan berkomitmen untuk tetap fokus pada kebutuhan kita untuk berubah (kebutuhan kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru) karena kedagingan kita dengan teguh melawan perubahan rohani. Untuk mengatasinya, kita harus berusaha dengan rajin, memohon pertolongan Tuhan hari demi hari. Perubahan adalah sebuah kebutuhan, bukan sebuah pilihan biasa; Tuhan telah memanggil kita untuk masuk ke dalam proses persiapan secara rohani bagi kerajaan-Nya.

Paul dalam 2 Korintus 5:17 menyatakan

2 Korintus 5:17
5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Untuk berada di dalam Kristus adalah untuk bersatu dengan Yesus di dalam iman. Jika kita telah bersatu dengan Yesus dalam iman, kita akan memiliki hidup seperti Yesus. Sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipungkiri, perubahan akan hadir melalui hati kita yang telah diperbarui dan kita akan menjadi  baru, menjadi ciptaan dari Allah yang tiada banding, melalui kuasa penciptaan yang mungkin saja lebih ajaib ketimbang ketika Ia menciptakan alam semesta dari kosong.

© 2008 Church of the Great God
PO Box 471846
Charlotte, NC  28247-1846
(803) 802-7075

*source from http://cgg.org/index.cfm/fuseaction/Library.sr/CT/ARTB/k/1425/Are-We-Ready-for-Change.htm


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: