Da Words of My Jesus


The Berean: 1 Raja 18:19-21, 36, 39
Maret 19, 2009, 10:46 am
Filed under: Moment of Peace, The Bereans | Tag: ,
1 Raja-raja 18:19-21,36,39
18:19 Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel.”
18:20 Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel.
18:21 Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.
18:36 Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.
18:39 Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: “TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!”

Elia dalam ayat-ayat yang kita baca di atas sangat jelas dalam menyampaikan informasi dan perintah. Segera ketika krisis melanda, Elia memulai bernubuat sebelum krisis tersebut menjadi lebih parah, sebelum krisis tersebut berkembang. Ada kuasa iblis yang besar yang harus diatasi. Pelayanan Elia dimulai 150 tahun sebelum kejatuhan bangsa Israel, sebelum menjadi 10 suku Israel yang terhilang (The Lost Ten Tribes), dapat disimpulkan Tuhan telah memulai sebuah kesaksian nyata bagi bangsa Israel. Tugas Elia adalah untuk menyatakan Allah bangsa Israel yang sesungguhnya di dalam periode waktu ketika sebuah bangsa mengalami krisis. Elia mempersiapkan jalan bagi Elisa, yang beroleh dua kali lipat dari Roh yang ada dalam Elia dan Elisa melakukan mujizat lebih banyak ketimbang Elia. Dalam posisi ini, Elia menjadi seperti Yohanes Pembaptis, dan Elisa menjadi seperti Kristus. Pola Tuhan sedang dipancangkan. Allah mengirimkan seseorang jauh-jauh hari sebelum krisis yang sesungguhnya mencapai puncaknya, Allah mengirimkan orang tersebut saat krisis itu baru saja terbentuk.

Elia berkata hal-hal yang tidak mengenakkan. Ini adalah pekerjaan seorang nabi, sebuah tanda bahwa Elia adalah seorang nabi dari Allah. Orang-orang lebih senang merasa nyaman. Masalahnya adalah orang-orang senang menjadi nyaman di dalam tingkatan moral yang tanggung. Mereka yang menjadi “berdiam dalam endapannya,” seperti yang dikatakan dalam

Zefanya 1:12
1:12 Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya dan yang berkata dalam hatinya: TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat!

Sang nabi datang dan bersamaan mengganggu orang-orang dengan membangkitkan mereka pada dosa-dosa mereka, membuat mereka merasa bersalah atas hubungan mereka dengan Tuhan dan sesama. Nabi membangkitkan tugas rohani dan moral mereka. Suku-suku Israel ini adalah orang-orang yang malas dalam hal-hal kebenaran secara rohani.

Ketika seseorang membeku sampai mati, yang pertama ia rasakan adalah rasa kebal (numb) yang tidak ingin ia akhiri. Dia terus tertidur sampai mati beku. Akan tetapi ketika ada panas, dan darah mulai mengalir ke daerah-daerah yang membeku, seketika itu juga rasa sakit muncul. Meskipun sakit, rasa sakit itu adalah tanda-tanda pertolongan dan kesembuhan. Tuhan mengirimkan nabi-Nya kepada orang-orang yang memiliki hubungan “membeku sampai mati secara rohani” dengan Tuhan, meskipun orang-orang itu tetap bertahan dalam kebekuan rohani mereka. Nabi menyalakan panas, dan mereka menjadi marah kepada nabi ketika sesungguhnya nabi itu sedang berkerja untuk membuat kebaikan bagi  mereka. Nabi sering disalahkan karena rasa sakit yang mereka rasakan.

Hidup seorang nabi bukanlah situasi yang menyenangkan. Contoh yang paling jelas adalah  Yeremia, yang mengeluh kepada Tuhan, “Ini lebih sulit dari yang pernah Kau katakan kepadaku. Kau (Tuhan) telah menipu aku.” Yeremia tidak menyukai posisi yang Tuhan letakkan baginya. Yeremia ingin orang-orang menyukai dia, yang mana sangat lumrah. Meski begitu, Yeremia tetap setia dan beriman dan menyelesaikan tugasnya. Tetap saja, Yeremia dalam masalah sepanjang hidupnya, sejak ia masih remaja.

Ada beberapa pemikiran atas apa saja yang Elia maksud dengan kalimat “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?” Pemikiran yang pertama adalah, “Sampai kapankah kamu akan melompat dari satu cabang pohon ke cabang lainnya?” Sama seperti seekor burung di atas pohon. Sang burung tidak dapat membuat ketetapan dimana dia akan berdiam diri, sehingga burung itu terus saja melompat dari satu cabang ke cabang lainnya. Pemikiran lainnya adalah kalimat yang disampaikan Elia menggambarkan seseorang yang memindahkan bebannya dari satu kaki ke kaki lainnya, menandakan suatu tingkatan ketimpangan. Pemikiran yang ketiga adalah Elia sedang menggambarkan seseorang yang sedang berjalan di atas tali keseimbangan (seperti pada sirkus akrobat) dan orang tersebut sedang berusaha untuk menjaga keseimbangan badannya di atas tali tersebut. Apapun masalahnya, tidak ada keraguan atas tujuan Elia berkata:  “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?” Mengantuknya rohani mereka kepada Allah yang sejati membuat mereka tidak dapat mengkomitmenkan diri mereka kepada Allah. Pada awalnya komitmen mereka mengarah kepada suatu jalan dan kemudian beralih kepada jalan yang lain.

Di saat yang sama ketika Elia mulai berkotbah, hati nurani mereka menusuk hati mereka dan memberikan dorongan untuk menyembah Allah yang sejati. Akan tetapi, sifat kedagingan dan rasa takut mereka kepada manusia membujuk mereka untuk menyembah Baal, karena mereka ingin bersahabat dengan sesama bangsa Israel. Mereka berdiri dengan kaki terbuka lebar di sebuah pagar, di dalam kondisi  yang penuh kebimbangan mereka berusaha menggabungkan antara penyembahan kepada Allah dengan penyembahan kepada Baal dan Asherah yang lebih populer di antara mereka. Ini adalah penggabungan dua paham yang berlawanan menurut cara bangsa Israel, akan tetapi cara ini tidak akan berjalan.

Pada sebuah titik dalam buku “A Stillness at Appomattox” oleh Bruce Catton, dia berurusan dengan tentara yang meninggalkan melayani angkatan bersenjata mereka, baik dari pidah Konfederasi atau Pasukan Serikat. Para tentara ini lebih memilih untuk menyerahkan diri mereka kepada sisi musuh untuk mendapatkan sedikit pengampunan dan dipenjarakan. Dan sebagai imbalannya, mereka akan menawarkan informasi tentang pasukan mereka. Untuk sementara waktu, kedua sisi pasukan Konfederasi dan Serikat menerima mereka yang berpindah sisi ini dan menerima informasi yang ditawarkan. Akan tetapi, sebelum perang berakhir, kedua sisi dengan segera mengeksekusi siapapun yang melakukan cara ini – karena para pengkhianat itu tidak dapat mereka percayai. Sebagian besar informasi yang diberikan ternyata salah, merupakan kebohongan. Sebagian besar dari mereka hanyalah berusaha untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing dan mencari kenyamanan bagi diri mereka sendiri di dalam situasi perang. Mereka tidak memiliki komitmen kepada sisi yang seharusnya mereka berada. Elia dalam pembahasan ini berada dalam posisi yang sama, secara rohani.

Ketika Elia menyampaikan pesan ini, pesan yang sama membuat orang-orang yang mendengarnya dalam sebuah ikatan karena mereka tahu bahwa hati nurani mereka mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus memilih kepada satu, Allah atau Baal. Pesan ini sangat mengganggu mereka. Hanya beberapa orang saja yang dapat memilih sisi untuk berpihak, karena Elia telah dengan sangat jelas berkata, “Tuhan tidak ingin kamu berada di tempat kamu berada sekarang. Pilihannya adalah antara kamu memilih untuk di pihak Tuhan atau bukan kepada-Nya. Jika kamu tidak berkomitmen di pihak Tuhan, kamu akan mati.”

Baal tentunya tidak dapat berkata apapun kepada mereka, apabila Baal bisa, dia mungkin akan berkata yang kurang lebih sama, sehingga orang-orang akan menjadi di dalam situasi yang lebih tidak nyaman. Pelajaran ini menjadi lebih jelas bagi kita karena Yesus telah berkata hal yang sama di dalam

Matius 6:24
6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Matius 12:25
12:25 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.

Pencipta kita yang Agung bukanlah Tuhan yang membiarkan belas kasihannya dibeli dengan remah roti. Dia adalah seorang Tuan yang penuh kasih terbatas hanya kepada orang-orang yang patuh dan melayani Dia dan hanya pada peraturan-Nya.

Elia diutus oleh Tuhan, dan dia menggenapi tanggung jawabnya sebagai seorang nabi Allah, untuk menunjukkan kepada orang-orang siapakah yang telah mengutus dirinya dan kepada siapakah orang-orang itu bertanggung jawab. Elia menjadi seorang penolong untuk membantu mereka dari kondisi sekedar “sudah ke gereja” menjadi orang-orang yang sungguh beragama dan menjadi pelayan-pelayan Allah Maha Tinggi.

Beberapa orang menjadi patah semangat dengan gereja karena mereka selalu mendengar untuk “mengukur” hal-hal yang mengganggu tentang diri mereka sendiri. Sebenarnya gereja adalah tempat dimana pikiran kita dibentangkan dan diukur dengan standar Kristus. Bagi seseorang yang tetap datang ke setiap kebaktian dan setelah itu pulang seperti orang yang menonton bioskop, tanpa membuat ketetapan pilihan, opini atau keputusan, malahan orang ini menunda untuk berubah membuat kondisi karakternya terkikis. “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” (Roma 14:23)

Kesimpulan dari apa yang Elia sampaikan sebenarnya sangatlah berbahaya secara rohani, karena pada kenyataannya – Allah sedang menghakimi. Karena tujuan Kristus adalah untuk menyembuhkan dan bukan untuk memberikan kenyamanan, maka rasa sakit akan sering terlibat ketika berkenaan dengan seorang nabi.

John W. Ritenbaugh for www.theberean.org

*diterjemahkan dan disadur dari sumber bahasa Inggris


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: