Da Words of My Jesus


The Berean: Kisah Para Rasul 10:9-16
April 27, 2009, 2:56 pm
Filed under: Moment of Peace, The Bereans | Tag: ,
Kisah Para Rasul 10:9-16
10:9 Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.
10:10 Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi.
10:11 Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah.
10:12 Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.
10:13 Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”
10:14 Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”
10:15 Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”
10:16 Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.

Ayat-ayat ini seringkali digunakan sebagai “bukti” bahwa hukum Allah sudah tidak berlaku atas binatang yang boleh dan tidak boleh dimakan. Akan tetapi, melalui analisa akhir, perikop ini sama sekali tidak membahas tentang daging yang tahir maupun yang haram bagi orang Kriten untuk dikonsumsi.

Dalam penglihatan yang diterima Petrus, selembar kain yang besar penuh dengan binatang yang haram yang diturunkan dari surga, dan sebuah suara berkata, “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Bagaimanapun, tanpa keraguan sedikitpun Petrus membalas, “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” (ayat 14). Lalu Sang Suara membalas, ” “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” (ayat 15).

Pertama, apakah tujuan dari Kis 10 ini? Jikalau kita membaca pasal ini dengan menyeluruh, kita akan mendapati bahwa pasal ini sepenuhnya ditujukan mengenai perubahan Kornelius, seorang perwira kerajaan Roma (ayat 1), dia adalah yang pertama dari keturunan di luar bangsa Yahudi yang dibaptis, masuk ke dalam Bait Allah. Untuk dapat memahami Penglihatan Petrus ini dengan benar, kita harus memahami lebih dahulu bahwa Penglihatan Petrus adalah latar belakang dari keseluruhan pasal ini.

Kedua, terlihat dengan jelas dalam ayat 17 bahwa pada awalnya Petrus sendiri tidak mengerti maksud dari penglihatan yang didapatnya; tapi yang pasti adalah ia tidak dengan segera membuat kesimpulan bahwa semua daging telah menjadi tahir. Sementara ia sedang bergumul dengan penglihatannya itu, seorang utusan dari Kornelius tiba dan memintanya untuk mengikuti mereka ke Kaisarea untuk bertemu dan berbicara kepada perwira itu. Lalu Tuhan berkata kepada sang rasul (Petrus) untuk segera berangkat dengan mereka, “sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari.” (ayat 20). Terlihat dengan jelas, bahwa Tuhan kita sudah merancangkan dan menuntun setiap pribadi yang terlibat dalam skenario ini.

Ketiga, jika daging yang haram telah disetujui, bukankah Petrus telah mengerti ini terlebih dahulu dengan berdasarkan pelajaran yang ia dapat dari Yesus sendiri? Karena Petrus telah hidup bersama Sang Juru Selamat selamat lebih dari tiga tahun. Jikalau semua orang sudah mengetahui kalau hukum tentang daging yang tahir dan yang haram telah dihapus oleh korban kematian Kristus, bukankah seharusnya Petrus sudah lebih tahu duluan? Akan tetapi di dalam titik ini, setelah sepuluh tahun lamanya, Petrus tidak bertindak seperti itu. Petrus masih memegang hukum untuk tidak memakan daging yang haram.

Keempat, ketika ia berkata “Tidak, Tuhan” (dalam bahasa Inggris “Not so, Lord!”) kepada Sang Suara, pada saat itu Petrus membalas dengan sangat yakin bahwa suara itu adalah milik Tuhan, dan di dalam bendahara kata dalam bahasa Inggris, pernyataan Petrus ini setara dengan “No way!” atau “Tidak akan pernah”. Ini adalah sebuah perintah yang para rasul ketahui kalau perintah untuk makan bertentangan dengan segala yang para rasul telah ketahui tentang hukum Tuhan. Meskipun Sang Suara terus mengulang perintah tersebut dua kali lagi (lihat ayat 16), tertulis Petrus tidak pernah merubah pendiriannya!

Kelima, di dalam konteks ini, Petrus sendiri mengungkapkan maksud dari penglihatan tersebut. Kepada semua orang yang berkumpul di rumah Kornelius, Petrus berkata, “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.” (ayat 28). Penglihatan tentang binatang yang tidak tahir hanyalah sekedar ilustrasi yang Tuhan gunakan untuk menolong Petrus untuk dapat mengerti bahwa keselamatan tersedia bagi orang-orang yang sebelumnya tertahan pada panjangnya lengan (lihat Kis 11:18). Lebih lanjut lagi, hal ini merupakan bukti lebih jauh akan Roh Kudus yang dicurahkan dan dapat dilihat oleh mata orang-orang yang hadir pada saat itu (Kis 10:44-47). Tidak seorangpun, baik Petrus maupun Lukas yang membuat komentar lebih jauh mengenai makanan yang tahir dan tidak tahir, cukup berhenti sampai penglihatan yang sebenarnya membawa maksud lebih besar.

Terakhir, tidak pernah ditemukan di dalam konteks ini yang mengatakan bahwa Tuhan telah mentahirkan daging yang tidak tahir – ini adalah sebuah kesimpulan yang dibuat para pembacanya dengan pemahaman yang tertanam yang telah bertentangan dengan peraturan yang mengatur apa yang boleh kita makan. Seperti Paulus berkata, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Kis 10:1 – memastikan bahwa “apa yang telah Tuhan tahirkan” adalah keturunan bangsa di luar bangsa Yahudi, bukanlah mentahirkan makanan yang haram.

John O. Reid
From  Did God Change the Law of Clean and Unclean Meats?

Diterjemahkan dari http://www.theberean.org


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: