Da Words of My Jesus


Mengatasi Kesepian | Mazmur 102:1-7
Mei 22, 2009, 6:06 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tag: ,

22 Mei 2009, Jumat

Kesepian bisa menjadi tantangan seumur hidup atau bisa juga peristiwa yang singkat.  Lamanya pengalaman itu seringkali ditentukan oleh bagaimana kita mengatasinya. Berpaling kepada Tuhan dapat menolong kita menemukan jalan untuk melewati kabut keterasingan.

Mengakui perasaan kesepian. Menjadi orang Kristen tidak membuat kita bebas dari perasaan diasingkan. Bahkan, banyak dari mazmur Daud berbicara tentang kerinduannya akan seorang teman. Saat kita mengekspresikan perasaan kita kepada Bapa dan memohon jamahanNya, Ia akan menjawab kita (Mazmur 91:15). Seringkali, saya mengatakan kepada Tuhan bahwa saya perlu Dia untuk merangkul saya. ResponNya sama nyatanya dengan manusia yang datang pada saya dan memeluk saya.

Membangun hubungan yang kudus. Kita harus mendoakan teman yang telah membawa kita kepada Tuhan, entah kita dalam keadaan yang baik atau buruk. Mereka adalah orang-orang terkasih yang melihat kesalahan kita dan tetap menyukai kita. Contohnya, salah satu teman baik saya sering berkelakar tentang saya, “Ia tidak pernah ingin dimengerti, hanya ingin dicintai.”

Berlabuh pada Firman Tuhan. Saat kita berpaling kepada Firman Tuhan saat kita merasa sendiri, pemahaman kita tentang Tuhan akan makin diperkaya. Sebelum saya menyampaikan khotbah pertama saya, ibu saya memberikan Yosua 1:9 sebagai ayat kekuatan. Ia tahu bahwa ayat ini akan menolong saya untuk selalu kuat dan berani sebab Tuhan senantiasa beserta saya. Ayat ini masih menjadi kekuatan bagi saya setiap kali saya membutuhkan penghiburan.

Sewaktu-waktu kita semua akan melewati kabut keterasingan. Namun Tuhan adalah Terang yang akan menuntun kita keluar. Bila Anda bergumul dengan perasaan diasingkan, mintalah pertolongan kepadaNya.

-Sentuhan Hati-

Mazmur 102:1-7
102:1 Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN. (102-2) TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu.
102:2 (102-3) Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!
102:3 (102-4) Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian.
102:4 (102-5) Hatiku terpukul dan layu seperti rumput, sehingga aku lupa makan rotiku.
102:5 (102-6) Oleh sebab keluhanku yang nyaring, aku tinggal tulang-belulang.
102:6 (102-7) Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan.
102:7 (102-8) Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh.

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: