Da Words of My Jesus


Melindungi Masa Depan Kita | Kejadian 25:19-34
September 25, 2009, 8:18 pm
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tag: ,

26 September 2009, Sabtu

Tuhan tidak menghendaki kita mengorbankan berkat masa depan untuk kesenangan sementara. Mari kita melihat kesalahan Esau dan belajar darinya. Buta terhadap apa yang bernilai dalam hidup, Esau begitu saja menjual hak kesulungannya untuk mendapatkan makanan. Sebagai anak tertua Ishak, ia memiliki jaminan masa depan sebagai pemimpin rohani dan kepala keluarga. Namun, tanpa mempedulikan haknya sebagai anak sulung atau pengaruh dirinya bagi generasi yang akan datang, ia menjual hak itu demi semangkuk kacang merah.

Beberapa dari kita pun seringkali kurang melihat ke masa depan. Kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk bekerja atau terikat dalam mengejar kesenangan yang menjadi pilihan kita sendiri. Tetapi, Allah ingin agar prioritas kita merefleksikan Dia – yaitu, mengasihiNya dengan segenap hati kita dan mengasihi sesama melalui hidup yang melayani dan berkorban. (Matius 22:37-40).

Esau dikendalikan oleh nafsu dan emosinya. Ketika ia pulang dari berburu, pikirannya berpusat pada rasa laparnya dan cara tercepat untuk memuaskan perutnya yang kosong. Ia menyetujui tawaran Yakub tanpa memperhitungkan akibatnya. Menyerah pada perasaan kita dapat menjadi langkah pertama menuju kesusahan dan penyesalan.  Emosi yang menggerakkan kita untuk bertindak dengan cepat atau menempatkan diri kita di tempat utama dapat membawa kita jauh dari Tuhan. Selain itu, terlalu mengikuti kesenangan kita dapat merusak kesehatan, memberikan tekanan keuangan dan bahkan ketergantungan.

Kita dapat melindungi masa depan kita dengan berserah kepada kendali Roh Kudus dan hidup seturut dengan apa yang paling bernilai menurut Firman Tuhan: mengenal Tuhan dan melayaniNya dengan taat. Pastikan bahwa Anda menjadikan Tuhan sebagai pemegang kendali atas pikiran, kehendak, emosi dan nafsu Anda.

-Sentuhan Hati-

Kejadian 25:19-34
25:19 Inilah riwayat keturunan Ishak, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak.
25:20 Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya menjadi isterinya.
25:21 Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung.
25:22 Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN.
25:23 Firman TUHAN kepadanya: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.”
25:24 Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya.
25:25 Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau.
25:26 Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir.
25:27 Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah.
25:28 Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.
25:29 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.
25:30 Kata Esau kepada Yakub: “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom.
25:31 Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”
25:32 Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”
25:33 Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.
25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: