Da Words of My Jesus


Beban Doa | Nehemia 2:1-8
Desember 7, 2009, 8:49 am
Filed under: Moment of Peace, Sentuhan Hati | Tag: ,

07 Desember 2009, Senin

Pengikut Kristus memakai kata “beban” tidak seperti pada umumnya. Kata itu tidak mengacu pada beban secara fisik, tetapi beban spiritual yang ditaruh di hati mereka. Pada dasarnya, “aku memiliki beban terhadapnya” berarti, “aku merasakan dorongan yang kuat untuk mendoakannya.”

Allah membuat roh orang percaya terasa berat ketika Dia hendak memusatkan perhatian orang itu kepada hal tertentu. Sebagai contoh, Dia menggerakkan seorang Israel di pembuangan, Nehemia, untuk mendoakan orang-orang Yahudi yang masih tinggal di Yerusalem, yang mengalami kesusahan besar akibat kehancuran tembok Yerusalem. Tuhan sebenarnya sudah tahu kesusahan bangsa Israel, dan tidak perlu doa-doa orang ini. Tetapi beban doa itu diberikan untuk kebaikan Nehemia sendiri. Dengan membiarkan Allah memakainya sebagai sarana untuk menolong orang lain, imannya akan meningkat. Nehemia membuka tandon belas kasihan ketika ia berlutut. Kasihnya kepada orang sebangsanya begitu besar, sampai  ia tak dapat menyembunyikan keprihatinannya, dan akhirnya mengungkapkan kebutuhan itu kepada raja Persia.

Panggilan untuk saling menanggung beban adalah salah satu cara Tuhan menguatkan gereja-Nya. Manusia pada dasarnya akan merasa terhubung dengan orang yang ditolongnya. Demikian juga, ada semacam ikatan yang tak kelihatan yang menghubungkan kita dengan orang yang kita doakan, meskipun mereka mungkin tak pernah mendengar langsung doa-doa syafaat kita. Allah merajut semua ikatan ini bersama-sama, agar banyak orang percaya  menjadi satu, yang disebut “tubuh Kristus” (Roma 12:5).

Bapa surgawi sedang mencari orang-orang yang mau terbeban untuk saudara-saudara dalam Tuhan. Saya menantang Anda untuk menjadi pendoa syafaat bagi orang lain. Berkat tubuh Kristus merupakan hak istimewa yang luar biasa.

-Sentuhan Hati-

Nehemia 2:1-8
2:1 Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja,
2:2 bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut.
2:3 Jawabku kepada raja: “Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”
2:4 Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit,
2:5 kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.”
2:6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya.
2:7 Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda.
2:8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: